Nol Kusta

Listen to this article

Nol Kusta Nol Stigma

Lingkar Sosial Indonesia (LINKSOS) adalah Pusat Pemberdayaan Disabilitas di Malang, Jawa Timur untuk wilayah kerja di seluruh Indonesia. Sejak berdirinya tahun 2014 LINKSOS konsisten dalam upaya pencegahan dan penanggulangan kusta, khususnya di Jawa Timur dengan visi “Nol Kusta Nol Stigma,” yang akan dicapai melalui misi Eliminasi dan Edukasi. 

Apa itu Kusta?

Kusta adalah penyakit menular kronis yang disebabkan oleh sejenis bakteri yang disebut Mycobacterium leprae . Penyakit ini menyerang kulit, saraf tepi, mukosa saluran pernafasan bagian atas, dan mata. Penyakit kusta dapat disembuhkan dan pengobatan pada tahap awal dapat mencegah kecacatan. Selain cacat fisik, penderita kusta juga menghadapi stigmatisasi dan diskriminasi.

Situasi Kusta di Dunia

Kusta merupakan penyakit tropis terabaikan atau neglected tropical disease (NTD). Penyakit ini masih terjadi di lebih dari 120 negara, dengan lebih dari 200.000 kasus baru dilaporkan setiap tahunnya. Eliminasi kusta sebagai masalah kesehatan masyarakat secara global didefinisikan sebagai prevalensi kurang dari 1 per 10.000 penduduk. 

Penurunan jumlah kasus baru telah dilakukan secara bertahap, baik secara global maupun di wilayah WHO. Berdasarkan data tahun 2019, Brazil, India dan Indonesia melaporkan lebih dari 10.000 kasus baru. Sementara 13 negara lainnya yaitu Bangladesh, Republik Demokratik Kongo, Ethiopia, Madagaskar, Mozambik, Myanmar, Nepal, Nigeria, Filipina, Somalia, Sudan Selatan , Sri Lanka dan Republik Persatuan Tanzania, masing-masing melaporkan 1.000–10.000 kasus baru. Empat puluh lima negara melaporkan 0 kasus dan 99 negara melaporkan kurang dari 1000 kasus baru.

Penularan

Penyakit ini menular melalui droplet dari hidung dan mulut. Kontak dekat yang berkepanjangan dan berbulan-bulan dengan penderita kusta yang tidak diobati diperlukan untuk tertular penyakit ini. Penyakit ini tidak menular melalui kontak biasa dengan penderita kusta seperti berjabat tangan atau berpelukan, berbagi makanan atau duduk bersebelahan. Selain itu, pasien berhenti menularkan penyakitnya ketika mereka memulai pengobatan.

Dianogsa

Diagnosis kusta ditegakkan secara klinis. Layanan berbasis laboratorium mungkin diperlukan dalam kasus yang sulit didiagnosis.

Penyakit ini umumnya bermanifestasi melalui lesi kulit dan keterlibatan saraf tepi. Kusta didiagnosis dengan menemukan setidaknya satu dari tanda-tanda utama berikut: (1) hilangnya sensasi pada bercak kulit pucat (hipopigmentasi) atau kemerahan; (2) saraf tepi menebal atau membesar, disertai hilangnya sensasi dan/atau kelemahan otot yang dipersarafi oleh saraf tersebut; (3) deteksi mikroskopis basil pada apusan celah kulit.

Berdasarkan hal di atas, kasus diklasifikasikan menjadi dua jenis berdasarkan tujuan pengobatannya: kasus Paucibacillary (PB) dan kasus Multibacillary (MB).

Kasus PB: kasus kusta dengan 1 sampai 5 lesi kulit, tanpa ditemukan adanya basil pada apusan kulit.

Kasus MB: kasus kusta dengan lesi kulit lebih dari lima; atau dengan keterlibatan saraf (neuritis murni, atau sejumlah lesi kulit dan neuritis); atau dengan adanya basil pada sediaan apus pada celah kulit, berapa pun jumlah lesi kulitnya.

Pengobatan

Kusta adalah penyakit yang bisa disembuhkan. Rejimen pengobatan yang direkomendasikan saat ini terdiri dari tiga obat: dapson, rifampisin, dan klofazimin. Kombinasi tersebut disebut sebagai terapi multi-obat (MDT). Durasi pengobatan adalah enam bulan untuk PB dan 12 bulan untuk kasus MB. MDT membunuh patogen dan menyembuhkan pasien. Diagnosis dini dan pengobatan yang cepat dapat membantu mencegah kecacatan. WHO telah menyediakan MDT secara gratis. MDT gratis awalnya didanai oleh The Nippon Foundation dan sejak tahun 2000 disumbangkan melalui perjanjian dengan Novartis.

Pencegahan

Deteksi kasus dan pengobatan dengan MDT saja terbukti tidak cukup untuk menghentikan penularan. Untuk meningkatkan pencegahan penyakit kusta, dengan persetujuan kasus indeks, WHO merekomendasikan penelusuran kontak serumah serta lingkungan dan kontak sosial setiap penderita, disertai dengan pemberian rifampisin dosis tunggal sebagai kemoterapi preventif.

Referansi data

(1). Leprosy https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/leprosy 

Catatan Lapangan

Pembentukan Forum Inklusi untuk Kusta dan Disabilitas 1
Mitra Kusta
Forum Inklusif untuk Kusta dan Disabilitas
Nol Kusta
Milestone Zero Leprosy Project 2024
English
Milestone Zero Leprosy Project 2024
Nol Kusta
Kusta di Malang Raya
Nol Kusta

Beat Leprosy in Malang Raya

zero leprosy project
Nol Kusta
Kusta di Malang Raya
Nol Kusta

Kalahkan Kusta di Malang Raya

Leprosy in Nguling District
Komunitas Menulis
Leprosy in Nguling District
KisahKu
Leprosy in Nguling District
Edukasi Kusta

Kamus Kusta

Bengkura Mas
Indonesia Bebas Kusta
Pelatihan kader Kusta menulis narasi
Indonesia Bebas Kusta
mitra NLR Indonesia
Mitra
nol kusta
Nol Kusta
Nol Kusta
Leprosy in Nguling District
Edukasi Kusta
Hari Kusta Sedunia di Gunung Panderman
Jambore Difpala
pengarusutamaan kusta
Kesadaran Inklusi
langkah baru
Konsorsium Pelita

Langkah Baru Konsorsium Pelita

Memaknai Kusta Melayani Sesama
KisahKu

Memaknai Kusta Melayani Sesama

Triple Zero Kusta
Indonesia Bebas Kusta
triple zero
Nol Kusta
desa inklusi bebas kusta
Indonesia Bebas Kusta
desa inklusi bebas kusta
Desa Inklusi
Nol Kusta
Nguling Inklusif Peduli Kusta
Nol Kusta
Bengkura Mas
Indonesia Bebas Kusta
Nol Kusta
Persoalan Sosial di Kampung Kusta
Indonesia Bebas Kusta
KisahKu
Indonesia Bebas Kusta
KisahKu

Kusta di Hari Menjelang UN

Skip to content