Unit Layanan Disabilitas Penanggulangan Bencana (ULD-PB) Kabupaten Malang bersama lintas organisasi menggalang masukan dari pos-pos tangguh bencana inklusif di Malang Raya untuk menyusun strategi mitigasi sesuai kebutuhan lokal. Kegiatan tersebut berlangsung di Malang Creative Center (MCC), Minggu, 27 September 2026.
Saat ini, ULD-PB di Malang Raya baru terbentuk di Kabupaten Malang, sementara penanggulangan bencana kerap membutuhkan dukungan lintas wilayah. Karena itu, ULD-PB Kabupaten Malang bersama lintas organisasi diantaranya Lingkar Sosial Indonesia (LINKSOS), Difabel Pecinta Alam (Difpala), Omah Difabel, Gugusdepan Inklusif, dan Panti Karya Asih, memperkuat pos-pos tangguh inklusif sebagai bagian dari upaya mendorong pembentukan ULD-PB di Kota Malang dan Kota Batu.
Pilot Project Pembelajaran SPAB
Pemetaan dilakukan berdasarkan kebutuhan wilayah dan ragam disabilitas. Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang, sebagai pusat ULD-PB Kabupaten Malang, akan menggelar edukasi dan simulasi kebencanaan pada awal Oktober di Panti Karya Asih, sebagai kelanjutan pelatihan kebencanaan pada 2021 sebagai respons terhadap Gempa Malang.
Pelatihan di Panti Karya Asih menjadi pilot project pembelajaran Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) selama 2026–2027. Hasil pembelajaran akan dikembangkan untuk diterapkan di SLB, komunitas, sekolah umum, dan perguruan tinggi.
Penguatan UMKM Tangguh
UMKM dampingan di Kota Malang mengusulkan pelatihan menjahit dan pengadaan mesin jahit. LINKSOS melalui program Omah Difabel akan memfasilitasi kebutuhan tersebut sebagai bagian dari penguatan UMKM tangguh sejak prabencana untuk mendukung keberlanjutan ekonomi pascabencana.
Sejak pandemi 2020, LINKSOS mengembangkan UMKM tangguh melalui program Omah Difabel. Berawal dari produksi masker dan hazmat, Omah Difabel kini mengembangkan usaha di bidang kriya, kuliner, edukasi, hiburan, dan pariwisata.
“Untuk mendukung usaha batik saat ini, kami ingin mengolah batik ciprat lembaran menjadi dompet, tas, dan produk turunan lainnya,” ujar Ahmad Saiful, koordinator Dekraf Kedungkandang.
“Kami telah terfasilitasi untuk pembiayaan usaha kuliner Pawon Difabel dan usaha produksi daster,” sambung Ina Sudaryati, koordinator Sahabat CP untuk wilayah Malang Raya.
Asesmen Aksesibilitas Kota
Difabel Pecinta Alam (Difpala) turut hadir dalam pertemuan tersebut dan mengusulkan asesmen, edukasi, serta advokasi aksesibilitas kota.
“Kami mengusulkan asesmen aksesibilitas kota. Tim yang terdiri atas penyandang disabilitas dari berbagai ragam dan pendamping akan melakukan kunjungan lapangan ke fasilitas publik untuk menilai dan memberikan ulasan terkait aksesibilitas,” kata Hirza Barizi, Bidang Riset dan Edukasi Difpala.
Asesmen ini penting untuk mengetahui sejauh mana infrastruktur dan sumber daya manusia di fasilitas publik telah ramah disabilitas, termasuk mendukung evakuasi saat bencana. Hasil asesmen akan disampaikan kepada pemerintah dan pihak berwenang sebagai bahan perbaikan.
Pembinaan Ketangguhan Penyandang Disabilitas
Panti Karya Asih mengusulkan kembali pelatihan ketangguhan penyandang disabilitas untuk memperkuat kesiapsiagaan, kemandirian, dan kemampuan menghadapi situasi bencana. Sejak 2020, Panti Karya Asih bersama Difpala dan Gugusdepan Inklusif membina ketangguhan warganya melalui kegiatan alam.
Namun, meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan membuat kegiatan tersebut sementara dikurangi sebagai langkah mitigasi.
“Kami siap berlatih dua kali dalam sebulan, satu kali di Kota Malang dan satu kali berikutnya di Kabupaten Malang,” ujar Roby, pendamping Panti Karya Asih.
Seni sebagai Media Edukasi Kebencanaan
Diskusi tidak hanya membahas pelatihan kebencanaan, tetapi juga pemanfaatan seni sebagai media sosialisasi dan edukasi kebencanaan. Salah satu gagasannya adalah mengaktifkan kembali Koor-Difa sebagai wadah seni bagi penyandang disabilitas dari berbagai ragam.
“Kita memiliki Koor-Difa, grup paduan suara untuk lagu-lagu kebangsaan dan keroncong. Perlu kita aktifkan sebagai wadah seni bagi seluruh ragam disabilitas,” ujar Sih Pramuji, pembina Koor-Difa.
Gagasan tersebut mendapat dukungan sponsor. Pertemuan itu sekaligus menjadi momentum penyerahan donasi gitar Yamaha dari Rubyantono, aktivis kesehatan jiwa.
Edukasi Kesehatan Jiwa bagi Keluarga Penyintas
Penyandang disabilitas mental kerap terabaikan dalam isu kebencanaan dan berisiko menjadi korban, terutama mereka yang masih mengalami pemasungan. Dalam situasi pengungsian, kebutuhan obat dan layanan kesehatan jiwa juga sering luput dari perhatian.
“Edukasi penting diberikan kepada keluarga penyintas kesehatan jiwa sebagai support system. Sementara itu, penyintas atau orang yang sedang mengalami gangguan kejiwaan perlu mendapatkan pengobatan yang tepat,” tutur Ruby, sapaan akrabnya.
Pelatihan Relawan
ULD-PB Kabupaten Malang melalui organisasi anggotanya memiliki jaringan luas dengan pemerintah, swasta, perguruan tinggi, komunitas, media massa, tenaga ahli seperti psikolog dan psikiater, serta relawan sosial.
Namun, jaringan tersebut perlu diikuti dengan peningkatan kapasitas. “Kami memiliki keresahan terhadap sikap relawan yang membantu, misalnya hanya untuk membuat konten di media sosial, sementara dukungan yang diberikan sekadarnya dan bahkan tidak sesuai kebutuhan,” ungkap Rachma, penyintas bipolar.
Menanggapi hal tersebut, ULD-PB akan memberikan pelatihan teknik pendampingan dan etika interaksi kepada relawan. Pelatihan ini bertujuan memastikan setiap individu dan organisasi yang berjejaring dengan ULD-PB memiliki perspektif disabilitas yang tepat dan mampu memberikan dukungan sesuai kebutuhan.
