Filosofi

Logo, Filosofi dan Sejarah Berdirinya Organisasi Difabel Pengerak Inklusi di Malang Lingkar Sosial Indonesia

 

Logo atau lambang Lingkar Sosial Indonesia mengandung makna atau filosofi serta riwayat berdirinya organisasi difabel yang ada di Kabupaten Malang tersebut. Logo diciptakan oleh Pendiri Lingkar Sosial Indonesia,  Ken Kerta. Berikut makna lambang dan riwayat berdirinya organisasi Lingkar Sosial Indonesia.

Makna/ filosofi lambang

  1. Logo Lingkar Sosial Indonesia secara umum berbentuk roda, melambangkan perputaran organisasi yang dinamis
  2. Roda dalam logo Lingkar Sosial Indonesia terdiri dari animasi orang-orang yang berangkulan, memberikan makna sinergitas, kolaborasi, persatuan dan kesatuan serta kerjasama lintas sektor
  3. Orang-orang yang berangkulan dalam lambang Lingkar Sosial Indonesia berwarna merah dan pink. Merah secara umum melambangkan keberanian. Dalam kontek ini adalah keberanian melakukan perubahan. sedangkan warna pink secara umum memberikan makna kasih sayang. Dalam kontek ini, kerja-kerja Lingkar Sosial berlandaskan kasih sayang sesama manusia dan penghuni alam semesta tanpa ada pengecualian ras, suku, status sosial, agama, gender, jenis kelamin dan sebagainya
  4. Tulisan LINKSOS dan LINGKAR SOSIAL adalah menunjukkan nama. Warna hitam pada tulisan tersebut menunjukkan keserasian dengan warna lainnya. Dalam kontek ini menunjukkan itikad hubungan yang harmoni dengan lintas stake holder. Sedangkan warna merah pada sebagian tulisan tersebut untuk memperlihatkan fokus perhatian penglihat lambang. Dalam konteks ini adalah wujud eksistensi Lingkar Sosial Indonesia sebagai organisasi pelayan masyarakat.

Riwayat berdirinya Lingkar Sosial Indonesia

Sejarah berdirinya Lingkar Sosial Indonesia erat kaitannya dengan perjalanan sosial Pendiri Utama Lingkar Sosial Indonesia, yaitu Kertaning Tyas. Pria kelahiran 13 Maret 1975 yang akrab disapa Ken Kerta  ini memulai karir sosial pada tahun 2001. Berikut perjalanannya:

2001: Ken Kerta mendirikan Sanggar Silaturahmi Pangastuti, sebuah paguyuban pencinta budaya Jawa. Sasaran keanggotaan paguyuban ini adalah anak-anak muda karyawan perusahaan pertambakan udang PT Wachyuni Mandira di Sumatera Selatan. Bentuk kegiatan pada saat itu adalah mengajarkan aksara Jawa. Ken Kerta yang ketika itu juga akrab disapa sebagai Mas Tyas, juga mengajarkan seni beladiri terapan dan olah nafas untuk menarik minat  anak-anak muda. Alhasil anggota Sanggar Silaturahmi Pangastuti saat itu bukan hanya anak-anak muda keturunan Jawa, tetapi juga terbuka bagi suku lain, yaitu Palembang, Lampung, Komering, Semendo dan Sunda. Alasan Kertaning Tyas mendirikan Sanggar Silaturahmi Pangastuti adalah wujud dorongan anak muda mengaplikasikan minat, ilmu dan keterampilannya.

2010: Ken Kerta dalam petualangan mengikuti rekannya, petugas Sensus Penduduk, mendapati fenomena masyarakat dusun yang dianggap terlantar olehnya. Namanya Dusun Ulak Baru. Sebagian warganya ketika itu memiliki dua KTP, masing-masing atas wilayah Kabupaten Ogan Ilir dan Kabupaten Muaraenim. Nampaknya ada konflik perbatasan wilayah diantara kedua kabupaten tersebut. Namun terlepas dari soal konflik, Ken Kerta melihat minimnya layanan kesehatan di dusun tersebut. Untuk menuju Puskesmas terdekat, warga harus naik sampan sejauh 30 km. Ken juga melihat ada anak gizi buruk, penyandang disabilitas, orang yang mengalami kusta dan warga sakit lainnya yang seharusnya mendapatkan layanan kesehatan secara mudah dan terjangkau. Langkahnya, Ken menghubungkan dusun tersebut dengan organisasi sosial di kota terdekat, organisasi mahasiswa di Universitas Sriwijaya, serta Pemerintah. Pihak pemerintah yang pertama kali merespon adalah Dinas Kesehatan Kabupaten Ogan Ilir. Ken gencar mengkampanyekan dusun ini melalui kegiatan jurnalisme warga, serta aktif melalukan komunikasi publik melalui media sosial facebook. Kegiatan Ken Kerta ini juga menarik minat media konvensional untuk turut meliput. Dampak dari aktivitas ini adalah kunjugan kapal kesehatan Dinkes Ogan Ilir rutin seminggu sekali di dusun tersebut. Namun sebab kontroversi akibat konflik perbatasan, kunjungan kesehatan dipindah ke dusun lainnya di wilayah Ogan Ilir yang tidak terdampak langsung oleh konflik.

2011: Ken Kerta membantu menfasilitasi sebuah Panti Rehabilitasi Jiwa Tradisional di Ogan Ilir terhubung dengan Dinas Kesehatan dan masyarakat dermawan. Advokasi dilakukan secara langsung dengan melakukan audiensi dengan Dinkes Ogan Ilir. Dampak dari kegiatan ini adalah adanya kunjungan kesehatan Dinkes melalui Puskesmas terdekat.

2012: Ken Kerta bekerja sebagai staf di organisasi konservasi alam yang fokus pada perlindungan orangutan, Di organisasi tersebut Ken banyak belajar soal strategi advokasi dan kampanye. Saat itu ken juga melalukan analisis bahwa salah satu penyebab “habisnya” hutan di Kalimantan selain soal implementasi perundangan yang tidak serius memihak kelestarian hutan, juga minimnya kerjasama lintas organisasi non pemerintah yang bergerak di isu lingkungan.

2014: Pengalaman pengembangan organisasi kebudayaan di Sumatera Selatan, kasus kesehatan di Ogan Ilir dan kasus ancaman kepunahan hutan dan orangutan di Kalimantan, tak lepas dari minimnya sinergi lintas sektor, baik Pemerintah, swasta maupun masyarakat sipil. Khususnya terkait organisasi kemasyarakatan, Ken Kerta menilai bahwa sejatinya banyak orang banyak organisasi-organisasi yang fokus pada isu sosial, namun sebab kurangnya kerjasama persoalan sosial tidak  selesai bahkan semakin berkembang. Untuk itulah Ken Kerta berinisiatif mendirikan organisasi sosial yang bekerja secara sinergis membantu masyarakat marginal dan yang mengalami disfungsi sosial. Organisasi tersebut bernama Lingkar Sosial, sebagai bentuk semangat Ken Kerta dalam membangun lingkaran sinergitas aktor-aktor sosial. Sebagai warga Malang maka organisasi Lingkar Sosial ini berpusat di Kabupaten Malang.

2017: Lingkar Sosial atau disingkat LINKSOS berdiri pada tahun 2014 dalam bentuk komunitas. Kemudian pada tahun 2017 organisasi difabel penggerak inklusi yang berjejaring nasional  dan internasional ini, mendaftarkan diri sebagai Yayasan di Kementrian Hukum dan HAM melalui notarsis setempat, dengan nama baru Yayasan Lingkar Sosial Indonesia.

Facebook Comments
WhatsApp chat