Etika dan Keselamatan Mendaki Gunung

Etika dan Keselamatan Mendaki Gunung bersama Difabel

Etika dan Keselamatan Mendaki Gunung bersama difabel dijelaskan dalam pendakian lintas sektor di Gunung Arjuno. Kegiatan tersebut masih dalam rangkaian perayaan Hari Disabilitas Internasional 2021.

Sekira 30 orang lintas anggota Timsus Pendaki Difabel bersama Difabel Pecinta Alam (Difpala), Ikatan Pecinta Alam Tuli Lawang (Ipalatula), serta Organisasi Pecinta Alam Politeknik Negeri Malang Ganendra Giri meluncurkan buku “Menjawab (?)” dari ketinggian 1.740 mdpl, tepatnya di petilasan Putuk Lesung Gunung Arjuno, Sabtu, 25 Desember 2021. Kegiatan dalam koordinasi organisasi difabel penggerak inklusi Jawa Timur, Lingkar Sosial Indonesia (LINKSOS).

Peluncuran buku yang melibatkan para pendaki dari seluruh ragam disabilitas ini, yaitu disabilitas fisik, mental, intelektual, sensorik penglihatan, dan sensorik penglihatan, termasuk orang yang pernah mengalami kusta, didukung NLR Indonesia, organisasi independent nirlaba yang fokus terhadap upaya eliminasi kusta melalui pendekatan triple zero, yaitu zero transmition, zero disability, dan zero exclution.

Ketua Pembina LINKSOS, Kertaning Tyas menjelaskan tujuan peluncuran buku selain untuk mempromosikan buku “Menjawab (?)”, juga menyampaikan pesan isi buku, bahwa kesempatan yang diberikan kepada penyandang disabilitas di semua bidang adalah kunci mencapai kesetaraan hak sebagai warga negara. Dibuktikan bahwa pendakian gunung sebagai salah satu olahraga ekstrim, tidak semua orang termasuk non disabilitas pun mampu dan berani melakukannya.

Baca juga: Mengintip buku “Menjawab (?)” Sebuah Tulisan Tentang Timsus Pendaki Difabel

Kegiatan ini juga termasuk rangkaian Misi Arjuno Inklusi 2021, yang mengajak masyarakat luas mendaki gunung bersama difabel.  Pesan dalam misi tersebut bahwa mendaki gunung itu soal kemampuan dan kesiapan lahir dan batin, bukan masalah disabilitas dan non disabilitas. Para anggota Timsus Pendaki Difabel beranggotakan para difabel terlatih sehingga selama ini mampu mendaki gunung-gunung dengan jalur pendakian ekstrim seperti Gunung Butak, Gunung Kawi dan Gunung Arjuno.

Baca juga  Saatnya Bimtek Kesadaran Disabilitas bagi KPU dan Bawaslu

Namun dalam pendakian untuk peluncuran buku ini, dipilih jalur pendakian Gunung Arjuno via Purwosari, yang dikenal sebagai jalur petilasan atau jalur wisatawan purbakala sehingga relatif lebih mudah dan aman untuk dilalui oleh para pendaki pemula yang tergabung dalam Difabel Pencinta Alam (Difpala).

Setiap pendaki wajib mentaati standar Etika dan Keselamatan Mendaki Gunung bersama Pendaki Difabel:

  1. Wajib melengkapi standar perlengkapan diri seperti sepatu gunung, pakaian, jas hujan, tongkat, senter, pisau, korek api, makanan ringan, minuman, vitamin, obat-obatan, serta perlengkapan tim seperti tenda, kompor portabel dan gas, serta perlengkapan logistik lainnya.
  2. Terdapat breafing etika berinteraksi dengan penyandang disabilitas secara umum
  3. Wajib taat standar keselamatan khusus, yaitu:
  • Memahami elemen kepanitiaan pendakian (dirinci di akhir artikel)
  • Satu disabilitas netra didampingi satu Pendamping Pendaki non disabilitas
  • Satu disabilitas yang memerlukan pendamping minimal didampingi satu Pendamping Pendaki
  • Penyandang Disabilitas berhak memilih Pendamping Pendaki berdasarkan ukuran kenyamanan dan keamanan pribadi
  • Tidak boleh menimbulkan suara yang dapat menggangu konsentrasi pendakian penyandang disabilitas, khususnya disabilitas netra dan mental, seperti musik, kelintingan, ngobrol keras dan nggak penting, humor berlebihan, dan lainnya
  • Para Pendamping Pendaki netra wajib memberikan gambaran situasi dan kondisi penting terkait orientasi mobilitas selama pendakian
  • Para Pendamping Pendaki untuk kawan Tuli wajib berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat, minimal secara ekspresif menunjukkan mimik wajah, gerak mulut, dan gestur atau melalui tulisan dan gambar agar saling memahami
  • Saling menunggu, kecepatan jalannya pendakian diatur sesuai dengan kecepatan terendah anggota pendakian. Tujuan utama adalah menikmati pendakian dengan selamat, mencapai puncak gunung adalah bonus
  • Jika diperlukan terdapat tim atau beberapa orang yang harus mendahului anggota tim lainnya dengan alasan mencari air, menyiapkan tenda dan makanan, meminta bantuan, dan hal-hal mendesak lainnya harus melalui persetujuan penanggungjawab pendakian.
Baca juga  Harapan Kolaborasi Masif UPT RSBN Malang, MalangGleerrr dan LINKSOS

Poin 4, rincian elemen kepanitiaan pendakian adalah:

  • Penanggungjawab, yaitu Ketua Pembina LINKSOS atau yang ditunjuk
  • Pendamping Pendaki, yaitu Kader LINKSOS yang telah terlatih memberikan pendampingan bagi anggota pendaki dengan disabilitas
  • Asisten Pendamping, yaitu orang yang membantu Pendamping Pendaki
  • Pemandu, yaitu Kader LINKSOS atau profesional yang mengenal seluk beluk lokasi pendakian
  • Porter, yaitu orang yang bertanggungjawab membantu membawa beban khusus untuk mempermudah pendakian
  • Logistik, yaitu orang yang bertugas memastikan bekal konsumsi, air minum serta perkemahan tercukupi dan aman
  • Dan bagian lainnya diatur sesuai kesepakatan tim

Informasi lebih lanjut kontak 085764639993 (Ken)

Dokumentasi proses pendakian di Gunung Butak, Oktober 2020

 

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.