Sehari Tiga Kali Operasi Pembebasan Pasung

Hari itu sekaligus tiga orang dengan gangguan jiwa (OGGJ) dievakuasi tim RSJ Dr Radjiman Wediodiningrat Lawang dan Dinas Sosial Kabupaten Malang. Saya dari Lingkar Sosial Indonesia dan rekan-rekan BMH Malang kala itu juga terjun langsung dan terlibat dalam pembebasan pasung. Ya, ini pertama kali saya melihat orang dipasung sekaligus melakukan pembebasan. Kesannya tentu sangat prihatin, dan termotivasi untuk terlibat lagi dalam operasi selanjutnya. Yuk, simak cerita lengkapnya ..
KEN KERTA

Selasa, 7 Januari 2020, berangkat pagi-pagi dari OMAH DIFABEL, sekretariat Lingkar Sosial Indonesia di Desa Bedali, Kec. Lawang Kab. Malang, saya menuju titik kumpul di Balearjo, Kota Malang. Saya bersama pak Nur Ashrori dari PKRS RSJ Lawang dan pak Ruwiyanto, serta pak Paat, keduanya dari BMH Malang, ikut bergabung dalam operasi pembebasan pasung di Kecamatan Pagak, Kabupaten Malang.

Sebelum melakukan operasi, kami berkumpul lagi di kantor Kecamatan Pagak, kali ini bersama pak Nur Hasyim dan Ibu Retno dari Dinas Sosial Kab. Malang, pak Gatot dari Dinas Kesehatan Kab. Malang, pak Dwi dari Bagian Kesra Kab. Malang, Camat Pagak, TKSK Pagak dan PJ Jiwa Puskesmas Pagak. Tak ketinggalan Babinsa dan wartawan. Tujuan pembicaraan untuk melakukan koordinasi.

Menurut pak Nur Ashori, kegiatan kali ini cukup berbeda dengan biasanya, sebab para pejabat lintas OPD terjun langsung dalam operasi pembebasan pasung.

Ya, pasung dan ODGJ memang tengah menjadi isu panas saat itu di Kabupaten Malang, meski kasus-kasus pemasungan sudah ada sejak dulu.

Ini gegara kasus viral seorang ibu yang diduga melakukan penyekapan terhadap tiga orang putrinya di desa Pakis, Kec. Pakis, Kab. Malang. Kasus ini menarik perhatian Bupati Malang yang kemudian menengok langsung kondisi korban dan ibunya yang telah di bawa ke RSJ Lawang.

Pasung yang merenggut kebebasan dan nyawa

Sebut saja Jat orang pertama yang kami sambangi di Desa Sempol. Ia nampak duduk di dekat tiang dalam rumah. Kakinya yang selonjor dan sedikit menekuk itu dirantai dan digembok pada tiang tersebut. Menurut keluarganya Jat baru satu bulan ini dipasung, gegara sering mengamuk dan dianggap membahayakan orang lain. Tak banyak kendala dalam operasi ini, hanya sedkit kesulitan membuka gembok rantai sebab lubang gembok iseng-iseng pernah disumpal lidi oleh Jat. “Ya, dolanan ae pak, bolongan gemboke tak sumpeli sodo, tinimbang nganggur,’’ ungkap Jat dalam bahasa Jawa sambil tertawa. Maksudnya, ya, bermain saja pak, lubang gembok saya sumpal dengan lidi, dari pada menganggur.

Setelah menyambangi Jat, selanjutnya kami menuju kediaman Bam korban pasung di Desa Banjarejo, Kec. Pagak. Jika Jat baru satu bulan dipasung, Bam telah mengalaminya selama 5 tahun. Lamanya pemasungan menyebabkan Bam lumpuh. Kakinya kaku, kurus dan tak bisa digerakkan sebagaimana fungsinya. Miris. Disinilah pasung kemudian bisa merenggut nyawa seseorang.

Ketika kami datang, Bam sudah berada di ruang tamu dalam kondisi telah dimandikan. “Tadinya Bam ditempatkan dibelakang rumah supaya tidak bau,’’ bisik seorang warga. Nama saya jangan tulis pak ya, pesannya. Mungkin ia mengira saya wartawan. Wartawan opo, batinku, lagi pula bagaimana saya akan menulis nama, lha wong kenalan saja tidak, apalagi tahu nama, hehe..

Kondisi Bam yang memprihatinkan, saya dan beberapa warga setempat, juga pak Paat berinsiatif untuk mengangkat Bam bersama-sama menuju ambulan. Teknisnya, terlebih dahulu Bam kami dudukan di kursi kayu. Jalan tanah setapak sekira seratus meter, yang sedikit licin sebab air hujan membuat kami ekstra hati-hati.

Setelah Jat dan Bam, kunjungan ketiga adalah ke Pandanrejo, masih di Kecamatan Pagak. Yun, seorang remaja belia yang mengalami gangguan jiwa. Beruntung Yun tidak dipasung, meski ia sering marah-marah tanpa sebab. Ibunya nampak sabar mendampingi Yun ketika gadis kecil itu sulit diajak ke rumah sakit jiwa. Beruntung ada bapak Kepala Desa setempat yang turut membantu proses evakuasi Yun. “Aku geleme karo pak Lurah,” ujar Yun merengek, dalam bahasa Jawa. Artinya, saya maunya dengan pak Lurah. Nggak pakai lama, pak Lurah yang dimaksud segera merangkul Yun dan menuntunnya masuk kedalam ambulan.

Ya, begitulah kisah pertamaku terlibat langsung dalam operasi pembebasan pasung. Sangat menarik dan termotivasi untuk terlibat dam operasi lagi agar tak ada lagi ODGJ yang mengalami pemasungan.

Pengalaman lainnya membantu kawan-kawan ODGJ 

Menangani masalah stigma dan diskriminasi disabilitas mental, sebenarnya bukan yang pertama kali saya lakukan. Dimulai  pada tahun 2011 di Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan, sebuah panti rehabilitasi tradisional saya bantu hubungkan dengan Dinas Kesehatan setempat. Model perawatan yang tadinya hanya melalui perawatan sosial seperti diajak bekerja di sawah, ikut gotong royong warga, tergabung dalam kelompok yasinan RT, kini juga mendapat bantuan medis. Selama satu minggu sekali, rutin Dinas Kesehatan melalui Puskesmas setempat melakukan pemeriksaan kesehatan dan perawatan.

Terbaru tahun 2018, advokasi kembali saya lakukan. Sedikit berbeda, kali ini yang kami hadapi adalah Partai Politik. Diawali dari banyak keluhan di grup KPSI soal adanya indikator pelecehan OGDJ melalui kampanye video parpol. Dikisahkan ada ODGJ yang melakukan pencurian truk sekaligus menculik istri sopir. Keresahan kawan-kawan grup pun saya respon dengan mengajak mas Bagus Utomo, ketua KPSI untuk membuat petisi online. Tuntutannya tidak berlebihan, parpol harus meminta maaf kepada difabel dan menghapus video tersebut dan menurunkannya dari iklan TV, youtube dan saluran lainnya. Alhamdulillah, advokasi kami menangkan dengan penghapusan dan penurunan konten serta permintaan maaf secara resmi melalui surat dari partai tersebut.

Terima Kasih RSJ Lawang

Ya, demikianlah kawan, sekilas kisah tentang operasi pembebasan pasung dan sedikit kisah lainnya. Saya yakin kawan-kawan yang telah melakukan puluhan kali bahkan ratusan kali pembebasan pasung  punya cerita yang lebih seru. Yuk kita berbagi di blog ini, agar bisa meluas dan mengundang semua pihak untuk peduli kesehatan jiwa dan besama melakukan pembebasan pasung.

Tak lupa terimakasih kepada kawan-kawan di RSJ Lawang. Trims dr Yuniar, ide Bunga Rampai Pembebasan Pasung di Jawa Timur tuh keren bangettt .. Trim juga ibu Ayu Bulan Febry dan pak Nur Ashrori Tim PKRS RSJ Lawang yang telah mendukung saya bergabung di MITRA JIWA. Sampai jumpa di kisah selanjutnya ..

Facebook Comments
WhatsApp chat