Portal Jalan di Masa Corona, untuk Apa?

Design Poster By : Sam Herman Combat
Sebenarnya, apakah sebab utama jalan-jalan kampung diberi portal? Apakah untuk mencegah penyebaran virus Covid-19? Ataukah untuk mencegah tindakan kriminal, seperti pencurian, perampokan dan lainnya? Benarkah penyebaran virus Covid-19 bisa dicegah dengan cara memasang portal di jalan-jalan kampung? Benarkah tindakan kriminal bisa dicegah dengan memasang portal di jalan-jalan kampung? Kenapa kita tidak mau menggali dan membaca referensi sebanyak-banyaknya tentang penyebaran virus Covid-19? Kenapa kita tidak bertanya, dari manakah sumber awalnya bisa terjadi tindakan kriminal?

Jangan-jangan, portal jalan di kampung-kampung adalah menjadi bukti nyata bahwa kita hanya menginginkan jalan pintas saja untuk mengatasi persoalan yang sedang dihadapi saat ini? Dan semoga, portal jalan di kampung-kampung tidak menjadi cerminan bahwa hati nurani dan kesadaran kita telah buntu. Kenapa kita membaca bahwa portal jalan di kampung-kampung sesungguhnya adalah cerminan semakin hilangnya hati nurani dan pudarnya kesadaran sosial?

Kita mungkin berpikiran bahwa dengan memasang portal jalan di kampung-kampung, maka kita merasa lebih aman dari penyebaran virus Covid-19. Benarkah demikian adanya? Kita mungkin berpikiran bahwa dengan memasang portal jalan di kampung-kampung, maka kita bisa mencegah tindakan kriminal, seperti pencurian atau perampokan. Benarkah demikian? Kenapa kita tidak berpikir, dari mana sumber tindakan kriminal muncul? Kenapa tindakan kriminal bisa muncul? Kenapa sampai ada orang yang mau bertaruh nyawa untuk melakukan tindakan kriminal? Apa penyebab utamanya?

Benarkah kita sedang melindungi orang lain? Atau jangan-jangan sebenarnya kita sedang melindungi diri sendiri sambil menyembunyikan keegoisan diri sendiri? Benarkah kita sedang menyelamatkan kepentingan umum? Atau jangan-jangan sesungguhnya yang sedang kita selamatkan adalah kepentingan diri sendiri sambil menyimpan rapat-rapat rasa ketidak-pedulian kita kepada orang lain?

Portal dipasang di jalan-jalan, yang katanya untuk mencegah penyebaran virus Covid-19. Tapi kita lupa mencegah virus ketidak-pedulian yang semakin tumbuh subur di dalam diri masing-masing. Portal dipasang di jalan-jalan, yang katanya untuk mencegah tindakan kriminal. Tapi kita lupa mencegah orang-orang di sekitar kita dari rasa lapar dan kemiskinan yang semakin menjerat ketegangan jiwa. Bukankah orang-orang lapar yang jiwanya terus menegang dan tertekan, bisa terjerumus ke dalam ketersesatan pikiran, yang mendorong mereka nekat untuk melakukan tindakan kriminal?

Alangkah ironinya, ketika kita memasang portal di jalan agar orang lain tidak masuk ke daerah kita untuk melakukan tindakan kriminal, tetapi justru ada orang-orang di daerah kita sendiri yang melakukan tindakan kriminal karena rasa lapar, kemiskinan dan ketegangan jiwa yang dialaminya? Lantas, portal itu dipasang untuk apa? Seandainya saja, kita bersama-sama bisa membangun kesadaran dan memperkuat rasa kepedulian kepada sesama, kepada orang-orang di sekitar kita, dan kepada siapa saja yang membutuhkan, tentu kita bersama-sama bisa mencegah “Sumber Kelahiran” dari segala macam bentuk tindakan kriminal. Kita bisa mengatasi berbagai persoalan dari sumbernya. Bahkan mampu mencegah lahirnya tindakan kriminal sejak dalam pikiran. Maka, kita tidak perlu memasang portal di jalan-jalan.

Kemiskinan, ketidak-adilan dan kebodohan, adalah musuh utama kita semuanya. Mereka itulah yang harus kita beri portal. Mereka itulah yang harus kita cegah. Bahkan harus kita lawan bersama. Karena dari mereka (kemiskinan, ketidak-adilan dan kebodohan) akan terlahir berbagai bentuk tindakan kriminal dan sumber kehancuran.

Kenapa kemiskinan masih terus ada? Kenapa ketidak-adilan bisa terus terjadi? Dan kenapa kebodohan bisa terus berkembang? Justru tiga pertanyaan tersebut yang menjadi kunci utama untuk menyelesaikan berbagai persoalan yang kita hadapi saat ini dan terus sampai ke masa depan.

Kenapa kemiskinan masih terus ada?
Kenapa ketidak-adilan bisa terus terjadi?
Dan kenapa kebodohan bisa terus berkembang?
Apakah portal jalan bisa menjadi jawabannya?
Ataukah justru portal jalan adalah bukti nyata bahwa kita semakin tidak mau benar-benar serius berpikir untuk mencari jawaban yang sesungguhnya? Ataukah menjadi bukti lain bahwa kesadaran diri kita semakin pudar, hati nurani kita semakin tertutup, dan pikiran kita semakin tumpul?

Semua berondongan pertanyaan di atas tentu tidak bisa dijawab secara tergesa-gesa. Apalagi dijawab sebelum benar-benar dikunyah dan dicerna dengan sebaik-baiknya, justru bisa memantik emosi dan amarah yang tidak ada gunanya.

—–
Penulis: Wahyu Eko Setiawan/ Sam WES, pegiat Komunitas Sinau Embongan

 

Facebook Comments
WhatsApp chat