Kesempatan Kerja dan Sosialisasi bagi Penyandang Disabilitas akibat Penyakit Berstigma

Oleh: Ken Kerta
Belajar dari pengalaman, kawan-kawan yang mengalami Disabilitas akibat penyakit, misalnya kusta, epilepsi dan gangguan jiwa, kerap kali mengalami kekambuhan gegara stress masalah ekonomi tidak memiliki pekerjaan tetap. Selain itu relapse juga bisa disebabkan kalut atas kurangnya sosialisasi dengan lingkungan. Omah Difabel Lingkar Sosial Indonesia (LINKSOS) memberikan peluang atas kebutuhan lapangan kerja dan sosialisasi tersebut.

Sebut saja, peluang dari Omah Difabel LINKSOS, saat ini setidaknya setiap bulannya harus memproduksi 1500 buah keset untuk memenuhi permintaan pasar, juga 2000 butir telor asin. Target produksi itu belum terpenuhi sebab kurangnya tenaga kerja, dan kesiapan bahan baku. Omah Difabel juga menfasilitasi kegiatan ekonomi lainnya, seperti produksi batik ciprat, kopi bubuk, rintisan usaha konveksi, dan lainnya.

LINKSOS juga  menfasilitasi kegiatan hobi, seperti seni musik, mendaki gunung, catur, kelas bahasa Inggris, dan lainnya. Artinya kebutuhan lapangan kerja dan sosialisasi terdapat di organisasi difabel penggerak inklusi ini.

Dimulai dari lingkungan Omah Difabel, yaitu Desa Bedali, meluas di level Kecamatan, Kabupaten/Kota dan terus meluas se-Indonesia, visi LINKSOS  tak ada lagi stigma dan diskriminasi, nol pemasungan, serta adanya kehidupan yang lebih baik bagi mereka.

Terlebih di Kecamatan Lawang terdapat beberapa panti rehabilitasi, SLB, sekolah inklusi dan RSJ, serta Posyandu Disabilitas dalam binaan Puskesmas dan Pemerintah Desa. Idealnya dengan berbagai instansi/organisasi berbasis layanan disabilitas tersebut, mampu mewujudkan Kecamatan Ramah Difabel.

Beberapa penyakit seperti kusta, gangguan jiwa, epilepsi, dan mungkin beberapa lainnya memuat stigma, sehingga bagi penyandang disabilitas akan mengalami disabilitas ganda, yaitu stigma atas disabilitas, dan stigma atas penyakitnya. Stigma atas disabilitas bisa dalam bentuk meremehkan kemampuan dan menganggap beban lingkungan. Sedangkan stigma atas penyakit orang takut tertular, seperti stigma pada Covid-19 saat ini.

Lingkar Sosial Indonesia (LINKSOS) merupakan salah satu organisasi yang terus mengkampanyekan kemandirian ekonomi melalui kewirausahaan sosial. Bahkan sejak berdirinya tahun 2014 komunitas yang saat ini berbadan hukum Yayasan ini tidak mengakses dana bantuan Pemerintah alias swadaya, kecuali sejak tahun 2020 terkait akses Dana Desa bagi kegiatan Posyandu Disabilitas Desa Bedali.

Namun meski kampanye berkelanjutan terus dilakukan, minat difabel untuk bergabung dalam wirausaha komunitas terbilang masih minim, melainkan lebih tertarik ingin kerja sebagai buruh/karyawan. Sementara LINKSOS lebih mendorong anggota/ masyarakat dampingannya untuk berwirausaha.

Ada yang memberi masukan kepada kami, harusnya Omah Difabel aktif menjemput mereka ke lokasi kerja, jawaban saya adalah yang pertama, pemberdayaan masyarakat harus melibatkan masyarakat, dalam hal ini bisa keluarga difabel, tetangga, orang-orang yang peduli, hingga perangkat desa. Kedua, organisasi tidak boleh mengambil alih peran masyarakat dalam menyelesaikan persoalannya.

Dari prinsip diatas LINKSOS mengajak masyarakat luas untuk:

  1. Menjadi relawan untuk mengajak difabel dan keluarganya berkegiatan di Omah Difabel
  2. Mendukung kebutuhan pengembangan kegiatan seperti alat dan bahan kerja.

Info lebih lanjut kontak 0857 6463 9993 (Ken). Koordinasi tatap muka di Omah Difabel sangat diutamakan.

 

 

Facebook Comments