3 Kiat Difabel Tetap Berdaya

Idin Suhaedin alias Ujang (dengan kruk) bersama Pendiri Lingkar Sosial Indonesia (LINKSOS) memamerkan produknya, pakaian APD atau Hazmat (8/5) di workshop pemberdayaan masyarakat Omah Difabel
Idin Suhaedin (48 tahun) anggota senior Lingkar Sosial Indonesia (LINKSOS) berbagi tips bagaimana ia tetap berdaya di segala kondisi, termasuk masa pandemi saat ini. Disaat sebagian orang mengeluh atas kondisi dampak Covid-19, Ujang sapaan akrab pria dengan disabilitas fisik ini tetap berdaya memproduksi ribuan masker dan ratusan baju hazmat bersama Omah Difabel.

“Yang pertama adalah rasa tanggungjawab terhadap diri sendiri dan keluarga,” ungkap Ujang disela kesibukannya (8/5 2020) saat di Omah Difabel Lingkar Sosial, Dusun Setran, Desa Bedali, Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang.

Yang kedua, pahami bahwa disabilitas bukan alasan untuk menjadikan semua hal menjadi sulit, semua harus dicoba dulu. Jika ada kesulitan ya minta bantu orang lain. Semua sama baik difabel ataupun non difabel, sebagai makhluk sosial pasti membutuhkan pertolongan orang lain. Dalam hal ini saling tolong menolong disebut sebagai kerjasama.

Yang ketiga adalah berjejaring, artinya membangun hubungan baik dengan orang-orang lain yang bermanfaat. Efektifnya adalah berorganisasi, khususnya organisasi difabel agar kita bisa lebih bisa berjuang bersama-sama.

“Namun berorganisasi juga harus tepat, tidak hanya kumpul-kumpul saja tanpa manfaat, harus ada tujuan yang jelas dan positif,” tandasnya.

Hambatan difabel untuk maju

“Hambatan dari sisi aksesibilitas itu jelas, masih sangat minim sarana prasarana dan layanan yang ramah dfabel,” ungkap Ujang.

Namun dalam hal ini saya lebih melihat pada sisi difabel itu sendiri, stop melihat rendah diri sendiri atau self stigma dan berhentilah mengharapkan belas kasihan dan bantuan- bantuan sosial.

Gusti Allah iku adil, rejeki wes ono sing ngatur, (Allah Maha Adil, rejeki sudah ada yang mengatur), jangan takut kekurangan yang penting usahanya kita sudah bekerja.

Self stigma membuat difabel tidak percaya diri, takut untuk memulai usaha, ragu-ragu, padahal peluang usaha dan permodalan ada di depan mata.

Kebiasaan mengharap bantuan membuat orang malas, maunya kerja yang mudah dengan gaji besar. Diajak babat alas atau merintis peluang kerja baru tidak mau, ungkapnya priharin.


Pembicaraan terus berlanjut tanpa secangkir kopi pun, tak seperti biasanya, sebab ini di bulan Ramadhan.

Suhaedin, sosok pekerja keras ini bergabung dengan LINKSOS sejak tahun 2015. Ia pula sebagai salah satu penggerak kelompok kerja (pokja) wirausaha difabel yang kini bertransformasi menjadi workshop pemberdayaan masyarakat Omah Difabel.

Istri Suhaedin, Mistinah yang juga difabel turut aktif di Lingkar Sosial sebagai anggota Tim Kreatif, bidang organisasi yang diandalkan untuk produksi berbagai kerajinan tangan.  Di masa pandemi ini sepasang suami istri ini sangat diandalkan untuk pemenuhan permintaan masker dan pakaian APD atau alat pelindung diri (Ken).

Facebook Comments