Pers Rilis: Difabel Hapus Stigma di Ketinggian 2.868 mdpl Gunung Butak

Timsus Pendaki Lingkar Sosial Indonesia (LINKSOS) sukses dalam pendakian Gunung Butak pada ketinggian 2.868 mdpl. Pendakian dilakukan selama dua hari, 5-6 Oktober 2020. Tim beranggotakan 12 orang terdiri dari anggota difabel dengan ragam disabilitas tuli, disabilitas netra, disabilitas fisik, serta para pendamping dari Posyandu Disabilitas dan pemandu.

Tujuan pendakian gunung selain olahraga, juga menguatkan imunitas di masa pandemi, serta kampanye hapus stigma.

Jalur pendakian Gunung Butak dikenal terjal dan ekstrim, bahkan dikabarkan sarat mistis. Para pendaki selain harus melewati hutan lumut yang dingin, hutan pinus Anjasmara, dan sabana juga meniti jalan setapak di tepian lembah curam sepanjang kurang lebih 500 meter, serta mendaki tebing batu berketinggian sekira 300 meter dengan kemiringan 75 derajat.

Bagi pendaki pada umumnya hal ini terbilang sulit dan memerlukan kewaspadaan lebih, indikatornya ketika pendaki tidak berpegangan pada bebatuan, rumput, akar atau alat bantu seperti tali temali dan tongkat maka akan tergelincir. Namun hal ini mampu dilewati oleh para difabel anggota timsus pendaki.

Dengan adanya keberhasilan ini, Lingkar Sosial berharap dapat mengubah paradigma negatif masyarakat terhadap penyandang disabilitas.

Sukses pendakian juga tak lepas dari latihan keras fisik dan mental. Sebelum mendaki Gunung Butak, timsus pendaki LINKSOS telah melewati beberapa latihan pendakian, yaitu penjelajahan Bukit Srigading, Coban Misteri Supit Urang Lawang, Gunung Wedon dan Gunung Banyak.

Kampanye Hapus Stigma

Tujuan pendakian gunung selain olahraga, juga menguatkan imunitas di masa pandemi, juga kampanye hapus stigma.

Terdapat tiga stigma yang kini tengah membalut kehidupan difabel, yaitu stigma lingkungan, self stigma dan stigma multikultural.

Stigma lingkungan bahwa selama ini difabel dianggap tidak mampu dan sebagai beban lingkungan

Self stigma bahwa difabel memposisikan diri sebagai orang lemah yang layak dikasihani

Stigma mutikultural bahwa pandangan negatif masyarakat yang disebabkan oleh adanya perundangan dan penerapan kebijakan yang tidak berpihak pada masyarakat difabel sehingga stigma menjadi budaya yang mengakar.

Contoh stigma multikultural adalah adanya diskriminasi layanan publik di segala bidang dan minimnya aksesibilitas sarana dan prasarana bagi Penyandang Disabilitas. Meski sudah ada perundangan yang mengatur pemenuhan, perlindungan, dan penghormatan hak-hak penyandang disabilitas namun sebab implementasi kebijakan yang tidak berpihak pelanggaran terhadap hak difabel dianggap sebagai kewajaran dengan berbagai alasan.

Profil dan peran anggota Timsus Pendaki

Mengetahui soal hambatan, tantangan dan harapan kegiatan pendampingan ini rasanya tak cukup hanya bertanya pada penanggungjawab kegiatan, Ken Kerta. Beberapa nama dibawah ini bisa diwawancara untuk mengetahui pengalaman-pengalaman mereka:

  1. Erick, perwakilan difabel netra laki-laki, atas pengalaman hidupnya sebagai penyandang disabilitas netra yang kerap diremehkan orang lain, ia bertekat mendaki gunung-gunung tertinggi di Indonesia
  2. Elin, perwakilan difabel netra perempuan, sejak sebelum buta ia bercita-cita mendaki gunung, namun mimpinya justru terwujud setelah ia kehilangan penglihatan. Suaminya, Kholil yang juga disabilitas netra turut serta dalam pendakian
  3. Priyo Utomo, perwakilan disabilitas fisik laki-laki, mendaki gunung bahkan sebelumnya tidak pernah ia bayangkan. Kini pria dengan disfungsi tangan kanan dan kaki kanan ini merasa setara dengan pemuda pada umumnya.
  4. Sumiati, perwakilan disabilitas tuli, ia sangat mandiri dalam pendakian, sebelumnya pernah mendaki Gunung Semeru.
  5. Sri Ekowati, ibu rumah tangga anggota Kader Posyandu Disabilitas Desa Bedali ini, bersama dua rekannya, Widi Sugiarti dan Fuji Rahayu mendampingi difabel netra pendaki. Sepanjang jalan mereka tak henti bercerita untuk menggambarkan situasi dan kondisi lingkungan
  6. Cakrahayu, anggota timsus pendaki yang paling muda, siswa SMAN 1 Singosari jurusan Bahasa ini banyak mendampingi Priyo Utomo, disabilitas fisik anggota timsus pendaki, utamanya saat pendakian tebing batu
  7. Agung, pemandu perjalanan yang telah berpengalaman belasan kali mendaki gunung. Adalah pengalaman pertama bagaimana anggota Komunitas Pendaki Indonesia ini bersama rekannya Kristina mendampingi kelompok difabel.

Pers rilis dibuat oleh Yayasan Lingkar Sosial Indonesia, Kamis, 8 Oktober 2020 di Omah Difabel, Jl Yos Sudarso RT 4 RW 7 Desa Bedali, Kec. Lawang, Kab. Malang.

Informasi lebih lanjut, wawancara pendaki, foto dan video, hubungi Ketua Pembina LINKSOS, Kertaning Tyas di WA 085764639993 .

Lihat video pendakian Gunung Butak:

 

 

Facebook Comments
WhatsApp chat