Kesejahteraan Kader Posyandu Disabilitas

Kesejahteraan Kader Posyandu Disabilitas

1 minute, 52 seconds Read

Kesejahteraan Kader Posyandu Disabilitas sebagai ujung tombak kegiatan harus diperhatikan oleh organisasi/instansi yang menaungi, ujar pegiat Posyandu, Nur Ashrori. Staf PKRS RSJ Dr Radjiman Wediodiningrat Lawang ini menjelaskan, posyandu dalam naungan Pemerintah Desa/Kelurahan dan Puskesmas setempat.

 

Sosial pemberdayaan dan bisnis

Meski demikian, lanjutnya Lingkar Sosial Indonesia (LINKSOS) sebagai pemrakarsa pengembangan Posyandu Disabilitas wajib memiliki program kesejahteraan kader. LINKSOS memiliki Omah Difabel, sebuah program pemberdayaan ekonomi. Harapannya selain untuk difabel dan keluarganya juga melibatkan kader Posyandu Disabilitas sebagai penerima manfaat, tutur Nur Ashrori, 5 April 2020 dalam diskusi ringan di Omah Difabel.

 

Jadi tugas kita adalah membangun jaringan dan mengupayakan permodalan, nanti kader yang menjalankannya. Sekali kerja dua capaian, sosial pemberdayaan dan bisnis, tandas Nur Ashrori.

 

Nur Ashrori, sosok yang dikenal peduli terhadap kesehatan masyarakat. Secara intens ia melakukan koordinasi dengan LINKSOS utamanya terkait pengembangan program kesehatan dan ekonomi. Pria asal Banyuwangi yang sudah lama tinggal di Kecamatan Singosari ini selaian aktif mengembangkan Posyandu Disabilitas, juga mendampingi posyandu jiwa di Singosari, Dau dan Bululawang.

 

Kepedulian lintas sektor

Nur Ashrori tidak sendiri dan melakukan pemberdayaan kader. Rekan kerjanya di PKRS Ayu Bulan Febry, saat ini juga tengah berjibaku membantu proses produksi dan pemasaran masker filter produk Omah Difabel. Ia melakukan demi memenuhi kebutuhan medis dan masyarakat atas alat pelindung diri (APD) terkait darurat Corona. Sekaligus sebagai upaya memberdayakan kelompok difabel.

 

Omah Difabel merupakan workshop pemberdayaan masyarakat program LINKSOS. Sasaran manfaat Omah Difabel selain warga berkebutuhan khusus dan keluarganya juga warga masyarakat sekitar.

 

Ketua Pembina LINKSOS sepakat terhadap peningkatan kesejahteraan Kader. Langkahnya, sejak berdirinya Posyandu Disabilitas tahun 2019, Kader berkegiatan mengkoordinir produksi keset dan batik ciprat. Sedangkan di masa pandemi ini, mereka memproduksi masker dan APD.

Baca juga  Batik Cap Ciprat Omah Difabel

 

Beberapa kader Posyandu Disabilitas terlibat dalam proses produksi masker dan hazmat, terang Ken Kerta sapaan akrabnya. Bahkan saat ini ada bisnis baru yaitu produksi kripik dan kopi bubuk.

 

Peralatan dan bahan sudah ada, lengkap, bantuan dari pengusaha, terang Ken. Potensi pasar juga tersedia, tahap awal pengembangan pasar dengan memanfaatkan jaringan Posyandu Disabilitas.

 

Ken berharap, kesejahteraan kader posyandu disabilitas bisa menjadi komitmen bersama. Tak hanya menjadi tanggungjawab Pemerintah Desa dan Puskesmas sebagai empunya posyandu, atau hanya menjadi pekerjaan Lingkar Sosial sebagai inisiator progam. Kerja-kerja kader Posyandu adalah misi kemanusiaan yang harus didukung oleh semua pihak. (admin)

Similar Posts