Meningkatkan Kesejahteraan Kader Posyandu Disabilitas

Sebagai ujung tombak upaya kesehatan berbasis masyarakat, kesejahteraan Kader Posyandu Disabilitas harus diperhatikan, demikian disampaikan salah satu pembina Posyandu Disabilitas, Nur Ashrori. Staf PKRS RSJ Dr Radjiman Wediodiningrat Lawang itu juga berharap Lingkar Sosial Indonesia sebagai pemrakarsa Posyandu Disabilitas mampu mewujudkan hal tersebut.

“Linksos punya program pemberdayaan ekonomi, harapannya selain untuk difabel dan keluarganya juga melibatkan kader Posyandu Disabilitas sebagai penerima manfaat,” tutur Nur Ashrori (5/4) dalam diskusi ringan di Omah Difabel.

Jadi tugas kita (Lingkar Sosial) adalah membangun jaringan dan mengupayakan permodalan, nanti kader yang menjalankannya. Sekali kerja dua capaian, pertama giat Kader secara sosial pemberdayaan, kedua adalah aktivitas ekonomi atau bisnis untuk menambah pendapatan kader, tandas Nur.

Pria asal Banyuwangi yang sudah lama tinggal di Kecamatan Singosari ini diketahui aktif mengembangkan Posyandu Disabilitas. Secara intens ia melakukan koordinasi dengan Lingkar Sosial Indonesia utamanya terkait pengembangan program kesehatan dan ekonomi. Nur juga intens mendampingi posyandu jiwa di Singosari, dau dan Bululawang.

Nur Ashrori tidak sendiri, rekan kerjanya di PKRS Ayu Bulan Febry, saat ini juga tengah berjibaku membantu proses produksi dan pemasaran masker filter produk Omah Difabel. Hal ini dilakukan demi memenuhi kebutuhan medis dan masyarakat atas alat pelindung diri (APD) terkait darurat Corona.  Sekaligus mengarahkan sebagai peluang usaha bagi kelompok kerja difabel.

Untuk diketahui bahwa Omah Difabel merupakan workshop pemberdayaan masyarakat program Lingkar Sosial Indonesia. Sasaran manfaat Omah Difabel selain warga berkebutuhan khusus dan keluarganya juga warga masyarakat sekitar.

“Beberapa kader Posyandu Disabilitas  terlibat dalam proses produksi masker dan hazmat dan ini akan terus kita tingkatkan,” terang Ketua Lingkar Sosial Indonesia, Kertaning Tyas. Ia sepakat bahwa kader Posyandu Disabilitas layak mendapatkan perhatian terkait kesejahteraannya.

Sejak berdirinya posyandu disabilitas bulan Desember lalu, langsung diadakan kegiatan ekonomi yang sengaja diseting untuk difabel peserta posyandu dan para kader, yaitu membuat keset dan batik ciprat. Namun terkait darurat Covid-19 kegiatan melambat sejenak dan beralih pada peluang lainnya yaitu produksi APD.

Setiap kesempatan baik akan kami manfaatkan untuk kemaslahatan difabel dan keluarganya serta Kader Posyandu Disabilitas. Seperti di bulan ini sedang kami siapkan peluang bisnis baru yaitu produksi kripik dan kopi bubuk, sekaligus pemasarannya, imbuh Ken sapaan akrabnya.

“Peralatan dan bahan sudah ada, lengkap, bantuan dari pengusaha,” terang Ken. Potensi pasar juga tersedia, tahap awal pengembangan pasar dengan memanfaatkan jaringan Posyandu Disabilitas.

Ken menyebut jaringan lintas dinas di Kabupaten Malang, diantaranya ada Dinas Sosial, Dinas Kesehatan dan Dinas PMD. Juga jaringan RSJ Lawang, Puskesmas Lawang, PMI Malang, NLR, FOMI, BMH Malang serta Lazisnu.

“Terlebih adanya dukungan penuh dari Pemerintah Desa Bedali yang responsif terhadap gerakan perubahan baik, ini menjadi salah satu pintu kesuksesan,” tandas Ken.

Harapannya kesejahteraan para kader posyandu disabilitas bisa menjadi komitmen bersama. Tak hanya menjadi tanggungjawab Pemerintah Desa dan Puskesmas sebagai empunya posyandu, atau hanya menjadi pekerjaan Lingkar Sosial sebagai inisiator progam. Kerja-kerja kader Posyandu adalah misi kemanusiaan yang harus didukung oleh semua pihak.

Facebook Comments
WhatsApp chat