Melawan Phobia Ketinggian di Puncak Gunung

3 minutes, 30 seconds Read

Keterbatasan fisik bukan belenggu hidup. Priyo Utomo, penyandang disabilitas (difabel) asal Desa Kebonagung Pakisaji  Kabupaten Malang membuktikannya. Ia mendaki gunung demi memotivasi sesamanya.

Sehari-harinya ia disapa Priyo.  Tangan dan kakinya tidak berfungsi normal sebagaimana orang biasa.  Selain menyandang tunadaksa, Priyo fobia ketinggian. Komunikasinya pun tak lancar.

“Tuna daksa ini sejak kecil mungkin usia setahun atau dua tahun. Tangan kanan saya sangat lambat respon dan kaki saya stuck (tidak bisa gerak), istilahnya agak lemes,” cerita Priyo. Untuk aktivitas sehari-hari, Priyo mengandalkan sisi kiri tubuhnya. Sedangkan sisi kanan sebagai penyeimbang. Diakui Priyo, memang agak susah ketika melakukan aktivitas berat, apalagi mendaki gunung.

“Awalnya bukan hobi naik gunung, tap karena saya dari sekolah hobi jalan walaupun kondisi seperti ini. Dari sekolah ke rumah itu sekitar 2,5 kilometer pulang pergi jalan,” jelasnya.

Alumnus SMK Miftahul Huda Kepanjen ini kemudian bergabung dengan organisasi pecinta alam khusus penyandang disabilitas. Yakni Difpala difabel pecinta alam (Difpala). Itu pun baru sekitar tiga tahun lalu.

“Sebenarnya punya fobia ketinggian tapi karena ingin merasakan naik gunung, jadi tertantang. Awal berlatih di lereng, saya ingat meski tidak begitu terjal tapi saya sudah ketakutan. Badan langsung tremor, bergetar sendiri,” beber Priyo.

Tentu bukan perkara gampang mengatasi rasa takut dan fobianya. Sebab apabila sampai bergetar, ia sangat sulit menyeimbangkan tubuhnya. Paling ditakutinya, terjatuh.

“Kalau jatuh  pasti bakal membebani tim dan saya tidak mau sampai begitu. Awal-awal itu ya sangat berat. Berkali-kali masih takut, masih cemas. Saya merasa tidak yakin dengan kaki kanan jadi khawatir jatuh ke sebelah kanan,” katanya.

Hal yang selalu dikhawatirkan itu ternyata dua kali ia rasakan. Dua kali kaki kirinya cedera karena ia reflek khawatir jatuh ke sebelah kanan.

“Kalau jatuh biasa sering, karena medan licin atau pas sepatu kurang sesuai. Kalau yang sampai cedera itu dua kali kaki kiri. Itu pas di Gunung Butak dan itu berhasil sampai puncak. Satu lagi pas di Gunung Kawi itu terpaksa tidak bisa lanjut karena cedera,” ungkapnya.

“Tapi saya seperti menikmati, ya ini kegiatan alam risikonya seperti ini. Yang bikin kapok bukan jatuhnya. Kapoknya karena merasa jadi beban tim. Jadi hal itu jadi introspeksi untuk menyiapkan lebih baik lagi fisik dan mental,” sambung Priyo.

Demi mengurangi rasa takut atau fobia sekaligus mengasah kemampuan fisiknya mendaki gunung, Priyo latihan rutin. Caranya  dengan mendaki gunung. Rutin dua minggu sekali ia mendaki naik turun Gunung Wedon bersama tim khusus (timsus) pendaki gunung.

Mulai dengan kontur tanah terjal, licin, bebatuan hingga jalur sempit di sebelah jurang berhasil ia lalui. Bahkan jalur sempit sekitar setengah meter di sisi jurang pun sekarang sudah mulai terbiasa.

“Motivasinya ingin belajar hal baru dan mengukur kemampuan sampai mana. Kemampuan fisik, psikologi dan ketakutan yang belum pasti terjadi. Baru-baru ini juga berhasil mengatasi,” sebut pria kelahiran 15 Januari 1995.

Ketua Difpala Malang ini terus berlatih dan rutin mendaki gunung. Hingga saat ini setidaknya sudah ada empat gunung yang berhasil ia daki. Yakni Gunung Wedon, Gunung Banyak, Gunung Bhutak dan Gunung Kawi.

Priyo tidak punya ambisi khusus mendaki gunung mana lagi.

Terpenting baginya berhasil membuktikan, dengan keterbatasan fisik yang begitu berat, tapi bisa mendaki gunung yang belum tentu semua orang sanggup.

“Gunung mana saja ingin saya daki, tidak ada ambisi khusus. Karena saya belum tahu dunia luar seperti apa,” tukasnya.

Priyo memang cukup berbeda. Hingga lulus SMK, ia tidak pernah keluar rumah. Hanya sekolah dan rumah tujuannya. “Karena saya pernah trauma pernah di-bully jadi jarang tahu perkembangan di luar. Baru setelah ikut aktivitas pendakian ini pelan-pelan saya mulai berani. Berani komunikasi, berani bicara depan umum,” jelas pria kelahiran Banjarbaru Kalimantan Selatan ini.

Suksesnya pendakian Priyo diharapkan bisa memotivasi difabel lainnya agar tetap beraktivitas yang bisa menjadi hobi baru. Sekaligus menepis stigma negatif terhadap difabel yang dianggap berbeda dengan orang biasanya.

“Untuk teman-teman disabilitas, jangan bimbang jangan takut mencoba apa yang ingin dilakukan. Supaya keraguan yang dipikir tidak bisa menjadi bisa,” tegasnya.

Namun begitu tentu butuh dukungan yang positif juga dari berbagai pihak. Tidak hanya peran keluarga, tapi juga butuh dukungan orang- orang di sekitar.

“Saya harap kalau belum paham bagaimana kondisinya jangan menstigma mereka. Karena mereka masih berusaha mengatasi keterbatasannya, trauma atau juga fobia mereka,” pungkas pria yang hobi fotografi ini. (ian nurmajidi/van)

 

Sumber tulisan: Malangposcomedia.id online terpercaya dari korane Arek Malang, menyajikan berita terkini Malang Raya dan 100 persen Arema. https://malangposcomedia.id/lawan-fobia-ketakutan-tunadaksa-bukan-halangan/

Similar Posts