Memerdekakan Hutan dan Gunung

Upacara bendera dalam rangka HUT ke-76 kemerdekaan RI, 17 Agustus 2021 di puncak Gunung Wedon.

 

Diluar perkiraan, hari itu puncak Gunung Wedon diramaikan oleh puluhan orang untuk peringatan HUT RI ke-76. Kami para relawan Lingkar Sosial Indonesia (LINKSOS) sebelumnya hanya berharap 10-15 anak-anak saja mau muncak itu sudah baik. Namun nyatanya, sekira 50 orang hadir, mereka adalah anak-anak dusun sekitar gunung dan para orangtuanya, serta anggota lintas kelompok difabel. Sebuah harapan baru, tersampainya pesan moral kami, mari bersama lestarikan alam serta merdekakan hutan dan gunung dari ancaman kerusakan.

 

Peringatan HUT RI di puncak Gunung Wedon diselenggarakan oleh LINKSOS dalam koordinasi Perhutani melalui KRPH Wonorejo dan Pemdes Turirejo. Kegiatan juga didukung oleh mahasiswa magang Prodi Bimbingan dan Konseling Universitas PGRI Kanjuruhan Malang (Unikama) serta organisasi difabel Gerkatin Malang dan Shining Tuli Kota Batu. Kedua kelompok Tuli tersebut, bersama LINKSOS tergabung dalam Advokasi Tuli untuk Inklusi (ATI).

 

 

Mengajak masyarakat sekitar peduli gunung

 

Kami memulainya dari Gunung Wedon, sebuah bukit berketinggian sekira 660 mdpl, tempat dimana selama ini difabel anggota LINKSOS yang tergabung dalam divisi Difabel Pecinta Alam (Difapala), sejak Otober 2020 lalu berlatih mendaki gunung. Tempat ini kemudian juga menjadi rumah baru kawan-kawan Tuli untuk mensosialisasikan bahasa isyarat Indonesia (Bisindo).

 

Gunung Wedon terletak di perbatasan Kabupaten Malang dan Kabupaten Pasuruan. Akses termudah mendaki gunung ini adalah melalui Dusun Turi, Desa Turirejo, Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang. Pak Kadus setempat, Arifin juga telah menyiapkan halaman rumahnya sebagai lokasi parkir kendaraan wisatawan di siang hari maupun malam hari.

 

Termuat dalam Kitab Negarakertagama, tulisan wartawan kuno Mpu Prapanca, gunung ini didentifikasi sebagai tempat yang dulunya bernama Wedhwa-wedan, dimana dahulu raja Majapahit Hayam Wuruk dikisahkan pernah singgah di tempat tersebut. Artinya tempat ini mengandung nilai bersejarah, yang dimungkinkan terdapat situs peninggalan didalamnya.

 

Namun selama bertahun-tahun, gunung yang berada di tepi beberapa dusun ini seolah terabaikan, beberapa sisi gunung mengalami longsor  akibat makin sedikitnya pohon-pohon yang menyangga tanah. Nampak pula beberapa sisi lahan yang digarap oleh warga, yang dikhawatirkan lokasi yang mereka garap akan semakin meluas dan menggangu pohon-pohon pinus dan pohon besar lainnya yang berfungsi sebagai pelindung gunung.

 

Terdapat pula isu angker dan banyak hantu di Gunung tersebut, juga “tanah gatal” yaitu bagian tanah di gunung tersebut apabila dilewati bisa menyebabkan orang menderita sakit gatal-gatal, tidak bisa sembuh dan berakhir dengan kematian. Maka tempat ini juga disebut Gunung Medon yang artinya hantu atau makhluk jejadian.

 

Mitos angker, tanah gatal, dan kawasan hutan yang makin tidak sejuk akibat penggundulan, membuat Gunung Wedon sepi dan gersang. Bahkan kaki gunung yang dulunya dikenal sebagai pusat penghasil juwet, kini tak lagi. Menurut warga sekitar, semenjak tanah-tanah tersebut dibeli pengembang perumahan, pohon-pohon buah itu tak ada lagi, ditebang dan dijual kayunya oleh warga.

 

 

“Terus bersinkronisasi dengan alam, terus melestarikan alam, dengan harapan kalau bukan kita siapa lagi yang mau merawat alam,” ujar Kepala Dusun Turi, Arifin, dalam sambutannya sebagai pembina upacara, 17 Agustus 2021 di puncak Gunung Wedon. Kalau kita tengok dibawah sini (kaki gunung), sudah dikuasai oleh pengembang pak, eman kalau disini (puncak gunung) dikuasai juga, anak cucu kita dapat apa nantinya, kalau nggak dapat cor-coran tok pak ya, sambung pak Kasun berseloroh disambut tawa peserta upacara. Tandasnya, kendalanya kita kena polusi jika nggak ada filternya (akibat penebangan), kalau ini sampai dikuasai pengembang juga.

 

 

 

Menetralisir mitos angker dan berbahaya

 

Dalam waktu setengah tahun ini, Tim LINKSOS berupaya menelusuri seluruh sisi gunung. Caranya dengan menelusuri jalan-jalan setapak, hingga merintis jalan baru untuk pendakian yang melingkari gunung. Beberapa tempat yang diisukan angker dan terdapat tanah gatal pun dikunjungi. Niatnya tak lebih dari penyelamatan, jika memang terdapat tanah gatal maka langkahnya adalah menandai tanah tersebut dan memagarinya agar tidak dilewati orang. Kedepan juga akan dilakukan penelitian agar dapt diketahui asal muasal maupun kandungan tanah gatal tersebut. Namun hingga hari ini tanah tersebut belum kami temukan.

 

Kisah orang dulu yang mengalami kulit penuh luka lalu meninggal dunia, dalam perkiraan kami adalah orang yang mengalami kusta. Karena penyakit kulit maka diidentikan dengan gatal. Padahal kusta tidak gatal, namun jika penderita bisa mengalami luka-luka itu benar. Hal lainnya, kusta tidak terkait dengan kutukan, melainkan disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae. Puluhan tahun tahun lalu, diperkirakan obat kusta Multi Drug Terapi (MDT) belum tersedia. Dugaan ini juga berdasar bahwa saat ini di dusun sekitar gunung tersebut terdapat pasien kusta. Hal inipun tak perlu dikhawatirkan, sebab kusta bisa disembuhkan.

 

Sedangkan lokasi yang angker adalah relatif, bahwa setiap tempat khususnya yang jarang dijamah manusia pasti ada penghuninya, baik hewan, tumbuhan, maupun makhluk tak kasatmata. Maka tak heran ketika untuk pertama kalinya kami ngecamp bulan lalu, dua orang saja, yaitu saya (Ken Kerta) dan seorang anggota, terdapat tanda-tanda hadirnya energi lain tanpa wujud nyata, namun tidak menganggu. Upaya lainnya, sekira 6 bulan lalu, sebelum memulai gotong royong perawatan gunung Wedon, Tim LINKSOS mengadakan selamatan sebagai doa agar selamat dan terhindar dari segala rintangan.

 

Kondisi Gunung Wedon, saat ini kami pastikan aman sebagai lokasi pendakian dan camping, dengan catatan tetap menjaga sopan santun dan tidak melakukan pengrusakan. Oleh karena itu, kami mengundang para pencinta alam untuk hadir bergabung dalam pendakian, ngecamp, serta utamanya kegiatan penghijauan. Selain LINKSOS komunitas yang telah terjun langsung untuk upaya perawatan gunung diantaranya adalah Pelestari Purbakala dan Budaya Indonesia (PPBI), Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia (Gerkatin) Malang, Shining Tuli Kota Batu, serta Pramuka Kwarran Lawang.

 

 

Rekomendasi, rencana tindak lanjut dan tantangan

 

Tiga kegiatan dalam peringatan hari kemerdekaan ke-76 Republik Indonesia di Gunung Wedon, selain upacara bendera adalah mewarnai gambar oleh anak-anak dan lomba makan kerupuk dipandu oleh mahasiswa Unikama, dan permainan praktek bahasa isyarat Indonesia oleh komunitas Tuli Gerkatin Malang dan Shining Tuli Kota Batu.

 

Kami melihat, masih terdapat antusias warga sekitar untuk mengunjungi gunung. Dengan beberapa sentuhan rekayasa, tempat ini kami rekomendasi aman bagi anak-anak bermain, cocok untuk latihan para pendaki pemula, reuni komunitas, hingga tempat ngopi. Rekayasa yang perlu dilakukan adalah pertama pembersihan, pelebaran dan pembuatan tangga pendakian. Kedua, penghijauan agar lingkungan menjadi rindang dan sejuk. Ketiga, pemasangan plang-plang himbauan menjaga hutan dan gunung, resmi dari Perhutani, serta penyediaan tempat-tempat sampah.

 

Terakhir adalah tantangan partisipasi warga sekitar gunung untuk mewujudkan ekowisata. Kami dari komunitas adalah para penggerak, inisiator, dan tanpa pamrih. Tanpa motif ekonomi, sepi ing pamrih rame ing gawe (bekerja keras tanpa berharap upah) atas dukungan Perhutani, misi utama kami adalah melestarikan hutan dan gunung. Namun disisi lainnya kami juga siap seratus persen menfaslitasi cita-cita warga untuk adanya wisata alam yang dikelola sendiri oleh masyarakat. Monggo pak Kades, pak Kasun, dan seluruh warga, bersama kita wujudkan. (Ken)

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *