Membangun Diri, Merawat Organisasi

“Saya seorang difabel netra, ingin mendaki gunung, mungkinkah? kata Erik. “Saya ingin pemilu ramah difabel, tetapi bagaimana caranya?” tanya Sinta, seorang anggota Panwas. “Kalau saya yang penting manfaat bagi masyarakat, maka melakukan apapun sebisanya,” tutur Ekowati, perempuan desa. Tulisan ini seputar jalan sukses membangun diri dan karier melalui organisasi. Hal yang seolah tidak mungkin menjadi mungkin, dan yang sulit menjadi mudah. Tujuan penulisan untuk membuka kesadaran seluruh warga dampingan saya di organisasi Lingkar Sosial Indonesia (LINKSOS).

Mengintip perjalanan LINKSOS, dalam masa setahun saja, tahun 2020, terdapat dua karya penting, yaitu difabel mendaki gunung, dan difabel masuk dalam sistem pengawasan pemilu. Jika mau menengok lebih ke belakang, Tahun 2019 LINKSOS membidani inovasi layanan kesehatan Posyandu Disabilitas, tahun 2018 LINKSOS menggelar konser musik difabel terbesar di Jawa Timur dalam dekade lima tahun ketika itu. Lantas tahun 2017 menggelar kampanye kesetaraan bersama 300-an warga difabel di Jalan Ijen Kota Malang, dan tahun 2016 menginisiasi berdirinya Forum Malang Inklusi, wadah yang merangkum para pimpinan organisasi sosial, difabel dan kemanusiaan di Malang Raya.

Kembali kepada kisah si Erik, Sinta, dan Ekowati. Yang pertama, saya katakan kepada Erik ketika itu, bahwa sangat mungkin difabel netra naik gunung, caranya buat dahulu tim, nanti organisasi yang menfasilitasi. Alhasil setelah tim terbentuk, dimulai dari beberapa kali mereka berlatih di Gunung Wedon (660 mdpl) akhirnya Wahyu dan beberapa difabel berhasil mencapai puncak beberapa gunung, diantaranya Gunung Butak (2.868 mdpl) yang dikenal dengan jalur pendakian yang panjang, serta Gunung Kawi (2.603 mdpl) yang saking ekstrimnya ada yang menyebut dengan jalur tak berakhlak. Kenyataannya memang tak semua pendaki berhasil mencapai Puncak Batu Tulis di gunung itu. Artinya ini bukan pekerjaan abal-abal, membutuhkan proses latihan yang ketat dan disiplin.

Tak cukup soal pendakian gunung, kisah para pendaki kemudian ditulis menjadi sebuah buku, yang sambutannya salah satunya ditulis oleh salah seorang stafsus Presiden. Buku tersebut yang rencana terbit di Tahun 2021 ini, juga memuat sambutan dan tanggapan-tanggapan dari tokoh-tokoh penggerak difabel nasional. Sedemikian capaian Timsus Pendaki Difabel itu, bukan sebab kehebatan pribadi para pendaki atau penulis, melainkan adanya organisasi yang terampil mengorganisasi sumber daya warga dampingan dan mengelola jaringannya.

Lain kisah selanjutnya tentang kepemiluan, diawali oleh kegelisahan Sinta, seorang perempuan pegiat pemilu dan demokrasi yang telah berkarir dibidangnya sekira lebih 5 tahun. Kegelisahannya adalah fakta minimnya partisipasi aktif masyarakat dalam pemilu, abainya orang-orang terhadap berbagai bentuk pelanggaran pemilu, hingga rendahnya pengetahuan para petugas pemilu. Terakhir ketika bertemu LINKSOS, kegelisahan soal peran difabel dalam pemilu pun dia sampaikan.

“Orang-orang dengan disabilitas dan kelompok rentan masih tertinggal, TPS tak ramah difabel misalnya,” ungkapnya. Bahkan jelas dalam slogan deklarasi Kalah Terhormat Menang Bermartabat, menunjukkan pemilu itu milik elite politik dan para partai yang tengah berkompetisi. Masyarakat di akar rumput belum terlibat dalam hal ini.

Sinta tak sendiri, ada orang-orang dengan niat baik serupa, seperti pak Wahyudi dan pak Allam, sosok-sosok yang terbuka dengan perubahan yang saya kenal. Hingga kemudian, organisasi LINKSOS menfasilitasi pertemuan antar pihak difabel dan penyelenggara pemilu. Progress teranyar di bulan April 2021, LINKSOS dan Bawaslu Kabupaten Malang menandatangani nota kesepakatan tentang kegiatan pengawasan partisipatif pemilu. Tentu ini masih langkah awal, yang selanjutnya kerja-kerja organisasi sangat diperlukan.

Kisah ketiga tentang Ekowati, perempuan desa yang awal mula tak paham ketika hadir di kegiatan Posyandu Disabilitas. Ini kegiatan macam apakah, mengapa banyak orang-orang semacam ini (difabel)? dia juga terheran-heran saat itu ketika melihat Widi salah satu pengurus LINKSOS yang berdialog dengan para Tuli dengan bahasa isyarat. Rasa ingin tahu dan trenyuh, membuat Ekowati dan Yayuk sahabatnya, sesama ibu rumah tangga, sering-sering datang ke Omah Difabel LINKSOS, berbaur dengan para difabel dan berinteraksi dengan para pengurus organisasi.

Niat mereka belajar, lalu merasa nyaman, tumbuh kerinduan dengan kegiatan organisasi, lalu tanpa sadar tumbuh pula rasa memiliki dan mengabdi. Semua mengalir saja, bak air yang dari sumber gunung mengairi sawah-sawah dan sebagian mencapai lautan. Tanpa itu tak mungkin bagi Ekowati dan pendamping lainnya rela mendampingi difabel hingga puncak-puncak gunung. Tak ada sepeserpun bayaran untuk mereka, kalau risiko itu yang pasti.

Demikanlah kisah-kisah nyata dalam perjalanan organisasi LINKSOS. Komunitas ini adalah rumah yang baik bagi para pembelajar dan para abdi alam. Semoga berkah berkelanjutan.

Pesan saya sebagai Pendiri organisasi, mari warga LINKSOS sukseskan seluruh kegiatan organisasi, sebab tak ada yang bisa dilakukan sendiran di sini. Yang suka naik gunung harus berpikir pula untuk suksesnya pendidikan politik. Yang bergerak di edukasi politik juga harus mendukung kegiatan wiraswasta. Maka yang ada di bidang kewirausahaan, mari dukung kegiatan tanggap bencana. Intinya sesama anggota atau warga dampingan harus saling mendukung. Tanpa itu, maka seleksi alam akan berlaku, orang-orang yang hanya berpikir untuk kepentingan diri akan otomatis terpinggirkan dan hilang dari peredaran. (Ken Kerta)

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *