LINKSOS merupakan organisasi penggerak inklusi yang telah bekerja sejak tahun 2014 dalam isu pemberdayaan penyandang disabilitas, khususnya kelompok dengan hambatan berlapis dari berbagai ragam disabilitas, termasuk autisme. LINKSOS menjangkau penyandang disabilitas, terutama anak-anak dari keluarga prasejahtera, melalui pendekatan berbasis komunitas dan jejaring lintas sektor dengan pemerintah, swasta, perguruan tinggi, kelompok masyarakat, serta media massa.
Visi LINKSOS adalah mewujudkan Indonesia yang inklusif, adil dan sejahtera, serta menjangkau seluruh wilayah di Indonesia.1
Secara umum, LINKSOS memiliki misi pemberdayaan semua ragam disabilitas—fisik, sensorik, intelektual, mental, dan ganda—di sektor dasar: ekonomi, kesehatan, pendidikan, lingkungan hidup, serta kesetaraan di hadapan hukum.
Namun secara khusus LINKSOS memiliki misi pemberdayaan penyandang disabilitas dengan multi stigma, yaitu disabilitas fisik akibat kusta dan disabilitas spektrum berat—termasuk cerebral palsy—serta disabilitas nonfisik, yaitu disabilitas mental psikososial (gangguan jiwa) dan disabilitas mental perkembangan, termasuk autisme dan hiperaktif.
Pendekatan untuk perubahan nyata
LINKSOS hadir di setiap kesenjangan dalam isu disabilitas yang belum tertangani dengan baik melalui pendekatan berbasis sumber daya masyarakat.
Pendekatan tersebut diwujudkan empat program utama yang inovatif dan berkelanjutan yaitu Omah Difabel, Posyandu Disabilitas, Difabel Pecinta Alam, serta Gudep Inklusif. Keempat program tersebut menjadi ekosistem dukungan bagi anak autis dan keluarganya, mulai dari kesehatan, pendidikan nonformal, pengembangan bakat, hingga keterampilan sosial.
Omah Difabel merupakan program inkubasi dan wirausaha inklusif dengan layanan pelatihan, akses pembiayaan, pemasaran dan legalitas usaha. Sedangkan Posyandu Disabilitas memberikan layanan kesehatan dasar, terapi, antar jemput dan pelatihan keterampilan.
Difabel Pecinta Alam hadir dengan berbagai kegiatan outdoor diantaranya hiking ringan, camping, penghijauan dan pengurangan risiko bencana yang inklusif. Kemudian Gudep Inklusif menjadi wadah belajar nonformal bagi penyandang disabilitas di luar sekolah termasuk mereka yang tidak pernah mengenyam pendidikan formal.
Dalam menjalankan program-program tersebut, LINKSOS berpegang pada nilai inklusi, kesetaraan, kemandirian, pemberdayaan berbasis komunitas, serta penghormatan terhadap hak penyandang disabilitas.
Akses pemberdayaan bagi penyandang autisme
Program-program LINKSOS dapat diakses oleh semua ragam disabilitas, termasuk autisme. Dalam program Omah Difabel, penyandang autisme mengikuti pelatihan-pelatihan keterampilan, selain bertujuan untuk meningkatkan kemandirian, kegiatan ini juga berfungsi sebagai media terapi kerja.
Omah Difabel juga memfasilitasi pengembangan bakat dan minat penyandang disabilitas di bidang seni. Khususnya penyandang autisme, mereka sangat aktif mengikuti kegiatan-kegiatan pentas seni.
Penyandang autisme juga bergabung dalam Posyandu Disabilitas. Mereka mengakses konsultasi dan terapi berbasis permainan secara gratis.
Sementara itu di bidang lingkungan, penyandang autisme bergabung dalam kelompok Difabel Pecinta Alam (Difpala). Mereka melakukan hiking ringan, fun camping, jelajah alam, penghijauan dan sebagainya. Kegiatan ini sangat bermanfaat untuk peningkatan kemampuan interaksi sosial, komunikasi, regulasi emosi, serta kesehatan.2
Penyandang autisme juga bergabung dalam Gudep Inklusif. Mereka belajar melalui kegiatan baca tulis hitung (calistung), mewarnai, field trip, serta kepramukaan.
Menjangkau anak-anak dengan autisme dari keluarga prasejahtera dan perubahan nyata yang dialami
Saat ini LINKSOS telah menjangkau sekitar 40 penyandang disabilitas autisme, terdiri dari 34 laki-laki (85%) dan 6 perempuan (15%) . Mereka tergabung dalam berbagai program kegiatan LINKSOS secara gratis. Dengan demikian, penyandang autisme, khususnya dari keluarga prasejahtera dapat mengakses program tersebut tanpa hambatan finansial.
Berdasarkan kategori usia dan kebutuhan penyandang autisme penerima manfaat LINKSOS, 42,5 % (17 orang) adalah anak usia 7 – 17 tahun yang memerlukan layanan terapi. 50 % (20 orang) adalah dewasa muda usia 18 – 30 tahun yang memerlukan berbagai keterampilan kerja dan pekerjaan. Sebanyak tiga orang lainnya berada pada usia dewasa 31–37 tahun dan memerlukan dukungan untuk akses pekerjaan.
Dengan sumber daya yang terbatas, LINKSOS terus mengoptimalkan pelayanan dan pemberdayaan penyandang autisme melalui kolaborasi dan penguatan komunitas. Program-program LINKSOS efektif diakses oleh penyandang autisme, masih terbatas pada usia anak dan dewasa muda.
Perubahan nyata yang dialami oleh penyandang autisme adalah kemudahan akses layanan kesehatan, pendidikan, ekonomi dan lingkungan. Akses menjadi pintu masuk utama bagi penyandang autisme menjadi mandiri, produktif dan setara dengan warga negara lainnya. Sebagian anak yang sebelumnya hanya berada di rumah mulai berinteraksi di ruang publik, mengikuti kegiatan kelompok, mengembangkan bakat seni, dan memperoleh stimulasi yang mendukung kemandirian.
