Kusta di Hari Menjelang UN

1 minute, 51 seconds Read
Dicky seorang siswa SMK di Mojokerto, nampak lesu menatap luka-luka di beberapa bagian tubuhnya. Seakan putus harapan, ia takut kusta akan menjalar menggerogoti tubuh. Sementara ini adalah hari-hari menjelang Ujian Nasional (UN).
penulis
Yatno (Penulis)
Editor: Ken Kerta

Divonis kusta, siapakah yang tak sedih? Apalagi seusia Dicky, hampir 18 tahun. Terbayang di pelupuk matanya, ia malu dan betapa kawan- kawannya menjauh. Demikianlah stigma terhadap kusta. Orang-orang yang mengalami kusta kemudian mendapatkan diskriminasi sosial.

Kusta masih dianggap sebagai aib, penyakit keturunan, sebab kualat, daging jelek dan sebagainya. Orang-orang cenderung menjauh sebab takut tertular. Tak hanya itu, ada juga keluarga yang kemudian ikut mengucilkan. Beberapa kasus ditemukan, penderita kusta diasingkan oleh keluarganya di dalam hutan. 

Namun bagi Dicky, ada yang lebih penting dari ketakutannya terhadap bayang-bayang stigma kusta. Ia harus mengikuti ujian nasional (UN). Pertanyaannya, bagaimana mungkin dengan kusta ini ia dapat bergabung dengan kawan kawan sekelas?

Tim Sahabat Kusta

Tim Sahabat Kusta adalah sekelompok anak muda relawan peduli kusta dalam jaringan Lingkar Sosial Indonesia (LINKSOS). Bentuk kepedulian mereka diwujudkan melalui edukasi masyarakat dan dukungan sebaya bagi orang yang (pernah) mengalami kusta atau OYPMK. 

Dalam kegiatan edukasi masyarakat mereka membuat kegiatan Sahabat Kusta ke Sekolah (SKS). Tim Sahabat Kusta berkunjung ke salah satu sekolah dasar di Mojokerto. Mereka melakukan kegiatan menggambar dan mewarnai sekaligus memberikan pemahaman yang benar tentang kusta. 

Sedangkan bentuk dukungan sebaya bagi OYPMK, Tim Sahabat Kusta melakukan kunjungan ke ruma-rumah. Meski hanya sekedar ngobrol, kunjungan tersebut berdampak baik baik OYPMK. Jika sebelumnya mereka tertutup, setelah dikunjungi mereka menjadi lebih terbuka. 

 

Dukungan bagi Dicky

Tim Sahabat Kusta pun berkunjung ke rumah Dicky.  Kami melakukan pendekatan intens kepada Dicky dan keluarganya. Alhamdullilah, orangtua Dicky pun merasa terbantu.

Selain itu, kami juga melakukan mediasi dengan pihak sekolah agar Dicky tetap bisa mengikuti UN. Pihak sekolah pun tak menghalangi proses Dicky menjalani UN. Bahkan ada kemudahan, ketika Dicky tidak memungkinkan ujina di sekolah, maka bisa melakukan UN di rumah ataupun rumah sakit. 

Dan waktu terus berjalan. Dicky akhirnya berhasil menempuh UN dan lulus dengan baik. Keberhasilan Dicky dalam menyelesaikan sekolah tentu membuat bangga dan bahagia orang tuanya. Namun hal ini rupanya belum cukup bagi Dicky. Ia masih berjuang untuk menyembuhkan dirinya dari kusta. 

Ayo Dicky, semangat ya. Ada banyak kawanmu yang mampu sembuh total dari kusta.

Similar Posts