Sinopsis
Bagi sebagian orang, mendaki gunung adalah hobi. Namun, bagi Hirza, penyandang disabilitas netra, dan Yuni, pengguna kaki palsu, mendaki adalah cara membuktikan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti melangkah.
Di lereng Gunung Wedon, setiap tanjakan menjadi tantangan. Hirza menceritakan perjalanannya, dari seorang pendaki yang selalu bergantung pada pendamping hingga kini mampu berjalan lebih mandiri di jalur pendakian, meski tetap dalam sistem pendampingan yang aman. Sementara itu, Yuni menunjukkan bahwa kehilangan satu kaki tidak menghilangkan semangatnya menjelajahi alam.
Perjalanan mereka tidak dilakukan sendirian. Di balik setiap langkah terdapat kekompakan tim Difabel Pecinta Alam (Difpala) yang membangun budaya pendakian inklusif melalui semangat saling percaya dan saling menjaga.
Semangat tersebut mendapat apresiasi dari Anissa Rahmawati, Senior Wildlife Campaigner Geopix, yang melihat Difpala bukan sekadar komunitas pendaki, melainkan gerakan konservasi yang memperjuangkan keterlibatan penyandang disabilitas dalam menjaga alam. Melalui pelatihan media, komunikasi kampanye, dan produksi film dokumenter, Geopix mendukung semakin banyak suara yang mengajak masyarakat melestarikan hutan, melindungi satwa liar, dan menghormati Ibu Bumi.
Di sisi lain, Widi Sugiarti, Pembina Difpala, mengisahkan perjuangannya mengatasi fobia ketinggian demi memastikan setiap pendakian berlangsung aman dan inklusif. Bersama Soemiati, tokoh Tuli, ia juga menjadikan bahasa isyarat sebagai materi wajib dalam setiap pelatihan sehingga gunung dapat menjadi ruang belajar bagi semua.
Di akhir film, Ketua Komisi Nasional Disabilitas (KND), Dante Rigmalia, memberikan apresiasi terhadap upaya yang mendorong inklusivitas dan partisipasi penyandang disabilitas melalui kegiatan Difabel Pecinta Alam. Menurutnya, inklusi tidak berhenti pada konsep, melainkan harus diwujudkan melalui praktik nyata. Film dokumenter menjadi media yang mampu membangun persepsi masyarakat dengan menghadirkan pengalaman penyandang disabilitas secara lebih luas, menempatkan mereka sebagai subjek, serta mendorong terwujudnya kesetaraan dan penghapusan stigma.
Film ini memperlihatkan bahwa puncak bukanlah tujuan utama. Yang terpenting adalah perjalanan untuk saling menguatkan dan membuktikan bahwa setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk mencintai alam. Melalui kolaborasi berbagai pihak, film ini menjadi bagian dari upaya memajukan budaya yang inklusif sekaligus memperkuat kepedulian terhadap pelestarian alam.
