Suka Duka Difabel Ngecamp dan Mewarnai Topeng Malangan di Gunung Katu

Sebagian peserta mewarnai Topeng Malangan di Gunung Katu berfoto bersama memamerkan hasil pewarnaan mereka

Selama dua hari, 6-7 Maret 2021, teman-teman difabel berkegiatan di Gunung Katu dalam momen Hari Perempuan Sedunia 2021. Selain ngecamp (menginap di gunung), mereka juga bergotong royong membersihkan puncak dari sampah wisatawan, merawat petilasan (situs peninggalan bersejarah), juga mewarnai Topeng Malangan di lereng gunung.  Ya, Difabel berkegiatan di gunung? Mungkin terkesan ekstrim dan belum jamak, namun bagi kami warga Lingkar Sosial Indonesia (LINKSOS) adalah hal biasa.

“Jalannya licin dan jauh, serta becek karena habis hujan, tapi saya sangat senang dan tidak kapok. Semangat bisa berkumpul dengan kawan-kawan sambil mewarnai Topeng Malangan di Gunung Katu,” ujar Firman, anak berkebutuhan khusus (ABK) dari ragam disabilitas intelektual. Cowok berusia 21 Tahun yang tinggal di Desa Karangpandan, Pakisaji tersebut juga berpesan jika ada kegiatan ingin diajak lagi, juga mengungkapkan ingin mendapatkan pekerjaan.

“Terimakasih pak Ken, LINKSOS sudah melibatkan anak saya dalam kegiatan, kalau ada acara lagi mohon hubungi saya agar Firman ada kegiatan positif,” sambut orangtua perempuan Firman, Ibu Iswari.

“Kesannya sangat menarik walau banyak rintangan, jalan becek, pulang kehujanan, tapi anak-anak difabel dan orangtua sangat senang sekali,” kesan Ibu Nyamining, orangtua dari anak difabel. Apalagi orangtua ingin dapat pekerjaan tambahan pak, imbuhnya menyikapi beberapa peluang kemitraan usaha dengan Omah Difabel yang pula disampaikan dalam kegiatan tersebut.

Kontras dengan kesan diatas, Ibu Yuli, Bidan Pakisaji, meski mengapresiasi kekompakan tim namun juga sempat khawatir. Awalnya ia mengira lahan dan wahananya sangat ringan, namun ternyata cukup berat beresiko menurutnya. Terlebih peserta rerata perempuan dan terdapat ABK.

“Apalagi habis hujan, perasaan saya jadi khawatir, mengingat alas kaki untuk pegunungan (sandal gunung) tidak disiapkan, juga P3K yang seadanya dan sederhana. Alhamdulillah bisa dilewati dengan senyum sumringah,” kesannya. Saya siap mendukung program difabel, monggo colek saya jika membutuhkan, pungkasnya dengan penuh semangat.

Sementara itu Ibu Hosiah, difabel fisik, tak menyangka ia akan sanggup melakukan perjalanan jauh, sempat khawatir akan mengalami kram. “Alhamdulillah acara sangat bermanfaat bagi saya dan kawan-kawan berkebutuhan khusus, nggak pernah saya fikirkan akan mampu berjalan sejauh itu, sungguh pengalaman yang tak terlupakan.

“Yang ada adalah tantangan, bagaimana acara bisa berjalan baik, sebab biasanya juga ada Pak Ken, namun beliau ada kesibukan lain jadi acara kami koordinir bersama seluruh anggota Tim” ungkap Ibu Widi, Koordinator Umum even. Kalau soal resiko sudah pasti telah kami petakan, termasuk siapa-siapa yang akan hadir, khususnya anak difabel adalah mereka yang mandiri mobilitas dan telah dikondisikan oleh orangtuanya masing-masing. Sedangkan untuk keinginan adik-adik ABK yang ingin mendapatkan pekerjaan, di Omah Difabel terdapat peluang kemitraan wirausaha meliputi pelatihan kerja, permodalan usaha, hingga dukungan pemasaran.

Acara ngecamp di Gunung Katu sudah dijadwalkan sejak bulan Desember 2020. Gunung Katu dipilih sebagai tempat acara selain lokasinya tidak begitu tinggi untuk didaki, sekira 724 mdpl juga di kecamatan Pakisaji wilayah gunung tersebut terdapat puluhan ibu-ibu orangtua ABK yang aktif berorganisasi. Nampak selain aktif di wilayah setempat, sebagian mereka juga bergabung di Omah Difabel, Kecamatan Lawang.

Acara berjalan sesuai dengan tujuan, misi, dan target. Dari daftar hadir  terdapat 32 peserta, terdiri dari 13 laki-laki, dan 19 perempuan. Atau lebih rinci peserta diikuti 24 difabel meliputi 9 laki-laki dan 15 perempuan, didampingi 8 orang dari Kader Posyandu Disabilitas dan relawan. Semua difabel dari seluruh ragam disabilitas memiliki kesempatan yang sama dalam kegiatan ini, tak ketinggalan kawan kawan OYPMK (orang yang pernah mengalami kusta) dan ODGJ (orang dengan gangguan jiwa).

Acara digelar secara swadaya masyarakat atau dana dukungan dari masyarakat. Dimulai permodalan awal produksi Topeng Malangan dari Mas Joko Kurnianto, tokoh masyarakat desa Sumberngepoh, Lawang. Kebutuhan transportasi dibantu travel Singghasari Malang, serta konsumsi dari patungan masyarakat setempat. Termasuk dukungan Bidan Desa Ibu Yuli dan Tim Puskesmas Pakisaji yang memberikan sosialisasi tentang Covid-19.

Untuk pendamping difabel dari Posyandu Disabilitas yang telah terlatih, mereka adalah Bu Widi, bu Yayuk, dan bu Eko, serta relawan pak Amat. Kemudian terkait teknis mewarnai dipandu oleh Arif, pengrajin topeng, dan teknis pendakian oleh Ezra, koordinator Sekolah Alam Gunung Wedon, dan para anggota Timsus Pendaki Difabel LINKSOS. (Ken)

Album foto kegiatan:

Facebook Comments