Pernah Kusta dan Kritis, Kini Sukses

2 minutes, 33 seconds Read
Namaku Citra, gadis berusia 19 tahun asal Surabaya ini sehari- hari tampak ceria. Sekilas mungkin orang tak menyangka, bahwa aku pernah kusta dan kritis di antara hidup dan mati. Kini aku merasa sukses, lulus sekolah dan telah bekerja. 
Citra (Kontributor)
Editor: Ken Kerta

Stigma dan diskriminasi sosial terhadap penderita kusta dan orang yang pernah mengalaminya membuat mereka terpuruk. Tak kunjung sembuh karena stress, mengalami disabilitas, dan luka yang membekas. Mereka juga dijauhi lingkungan serta sulit memperoleh pekerjaan. Adalah sebagian dari persoalan sosial kusta.

Namun tidak bagiku. Yang penting percaya diri dan bersyukur atas segala yang ada. Jangan memikirkan kusta saja tapi bekerja sesuai kemampuan dan bertanggungjawab. 

Pesan itu saya sampaikan dalam dialog interaktif menyambut hari Kusta Sedunia 2016, 17 Januari di Puspita 103,7FM Malang, bersama Ketua LINKSOS Kertaning Tyas dan Korwil PerMaTa Jawa Timur Endro Sumasto.

Saya mengalami kusta saat kelas 6 SD. Sudah berobat ke dokter dan dikasih obat MDT, tapi sayangnya dokter tidak memberi tahu kalau sakitnya kusta.

Obat pun sudah diminum sesuai petunjuk tapi karena sibuk ujian kelas 1 SMP semester akhir, sempat teledor minum obat. Hal ini menyebabkan ia drop sehingga masuk rumah sakit. Dari situlah saya dan keluarga baru tahu bahwa yang diderita adalah kusta.

“Waktu itu saya sudah sangat kritis rasanya diantara hidup dan mati. Badan penuh dengan luka sampai kepala hingga akhirnya digunduli,” kisahnya. Keterlambatan pengobatan yang ia alami meninggalkan kecacatan pada tubuhnya.

Terhubung dengan LINKSOS

Namun tak ada gunanya menyesali yang penting adalah menatap untuk masa depan yang lebih baik. Aku membuktikannya tahun 2015. Atas kerja kerasku dan dukungan keluarga, aku mampu lulus sekolah kejar paket B. Aku juga menyelesaikan pelatihan menjahit di BLK Singosari. Sukses lainnya, aku bekerja di sebuah Rumah Konveksi Lawang serta mengikuti berbagai kegiatan sosial di LINKSOS.

Awalnya aku aktif kontak-kontak dengan mas Tyas Ketua LINKSOS melalui fesbuk, kemudian silaturahmi. Setelah itu aku didaftarkan pelatihan kerja di BLK Singosari. Sebenarnya tidak bisa masuk karena ijazah saya cuman Paket B sedangkan masuk BLK itu syarat minimumnya setingkat SMA. Tapi alhamdulilah dibantu bisa masuk.

Pesan dan Harapan

Terpenting bagi OYPMK adalah dukungan penuh keluarga. Aku bersyukur telah sembuh dari kusta dan diberikan banyak kemudahan. Namun saat ini akumerasa kasihan dengan teman-temannya yang masih sakit karena layanan pengobatan yang kurang baik.

Kalau dulu berobat sangat mudah, cukup pakai Jamkesmas atau surat keterangan dari desa, sudah gratis semuanya, sekarang sejak BPJS jadi sulit sedangkan tidak semua orang mampu membayar iuran kesehatan. 

Apalagi kusta, benar obat MDT itu gratis namun penderita juga memerlukan vitamin dan perawatan lainnya. Jika masuk dalam BPJS maka obat/vitamin dan perawatan yang tidak masuk kategori layanan BPJS harus bayar.

Masalah lainnya adalah batas waktu perawatan. Sakit kusta tak cukup sehari dua hari terselesaikan.  Bahkan aku sendiri menghabiskan waktu sekitar setahun untuk perawatan. Jika dibatasi menurut layanan BPJS tentu menyulitkan pasien.

Aku sendiri sebenarnya pingin memeriksakan diri karena meski sudah sembuh kemungkinan reaksi/kambuh lagi masih ada. Namun pikir-pikir karena masalah biaya, sedangkan untuk mengurus BPJS untuk diri sendiri nggak bisa harus satu keluarga.

Aku berharap agar layanan pengobatan masyarakat khususnya bagi penderita kusta dipermudah supaya pengalaman pahit diantara hidup dan mati tak lagi dialami oleh siapapun.

Similar Posts