Pelatihan media kolaborasi LINKSOS dan GEOPIX, menempatkan penyandang disabilitas sebagai subyek cerita. Mereka terlibat langsung sebagai pembuat narasi, pelaku dokumentasi, dan bagian dari kampanye pelestarian lingkungan. Pendekatan ini menjadi langkah baru dalam memperkuat budaya inklusif melalui media visual dan film dokumenter.
Kegiatan menghadirkan para pemateri, yaitu Anisa Rahmawati selaku Senior Wildlife Campaigner GEOPIX. Anisa memberikan materi tentang strategi komunikasi dan kampanye serta kaitan pelestarian alam dengan satwa liar. Pemateri lainnya, Arya Dega, praktisi video dan drone Indonesia, berbagi materi tentang teknik shooting dan editing video.
Selama tiga hari, mulai 22–24 Mei 2026, pelatihan dipandu oleh Ken Kerta, founder LINKSOS. Kegiatan berlangsung di Malang Creative Center (Kota Malang) dan Gunung Wedon (Kabupaten Malang). Jumlah peserta sebanyak sembilan orang, terdiri atas empat non-disabilitas dan lima penyandang disabilitas, serta empat laki-laki dan lima perempuan.
Program Sinema Indonesia Kementerian Kebudayaan
Program Sinema Indonesia adalah program publik berupa pemutaran film dan pelatihan produksi film pendek yang didanai oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia dan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan melalui Program Pemanfaatan Hasil Kelola Dana Abadi Kebudayaan.1
LINKSOS menerima dukungan pendanaan untuk Program Sinema Indonesia sesuai Nota Kesepahaman Kementerian Kebudayaan dan Yayasan Lingkar Sosial Indonesia Nomor 040/SI/F1/KU/2025 tentang Perjanjian Pendanaan Program Layanan Produksi Kegiatan Kebudayaan untuk kategori Sinema Indonesia dalam lingkup Program Pemanfaatan Hasil Kelola Dana Abadi Kebudayaan Tahun 2025.
Dukungan tersebut digunakan untuk melaksanakan kegiatan berjudul “Pelatihan Produksi dan Pemutaran Film Pendek Difabel Pecinta Alam: Cerita dari Kelompok Difabel tentang Pelestarian Alam dan Pemajuan Budaya Inklusif”.
Kolaborasi LINKSOS dan GEOPIX Perkuat Sinema Inklusif dan Kampanye Pelestarian Alam
Difpala adalah kelompok kerja LINKSOS di bidang lingkungan hidup. Dengan misi “Bakti Inklusi Bumi Lestari”, Difpala melakukan pendakian dan penjelajahan alam, pelestarian lingkungan, serta pemberdayaan masyarakat inklusif.2
Sementara itu, GEOPIX adalah organisasi yang fokus pada isu lingkungan hidup, satwa liar, budaya, dan hubungan manusia dengan alam melalui pendekatan visual seperti fotografi, video dokumenter, laporan investigatif, dan kampanye publik.
Selama ini publikasi Difpala masih sebatas rekaman dokumentasi dan belum memiliki strategi yang terpola agar pesan dapat tersampaikan secara efektif. Kegiatan Difpala juga masih berfokus pada pendakian dan penghijauan, sementara isu satwa liar sebagai bagian penting dari ekosistem alam belum tersentuh secara langsung.
Karena itu, kolaborasi LINKSOS dan GEOPIX menjadi babak baru dalam memperkuat strategi kampanye, pelestarian alam, dan advokasi visual berbasis komunitas. Melalui film dokumenter dan media visual, peserta didorong tidak hanya mendokumentasikan kegiatan, tetapi juga membangun narasi yang mampu menggugah kepedulian publik terhadap isu lingkungan dan budaya inklusif.
Pelatihan Membuka Perspektif Baru Peserta
Pelatihan Produksi dan Pemutaran Film Pendek Difabel Pecinta Alam tidak hanya memberikan pengalaman teknis kepada peserta, tetapi juga membangun pemahaman baru tentang pentingnya pelestarian alam, komunikasi publik, dan kerja kolaboratif di lapangan.
Pada hari pertama pelatihan, peserta mulai mengenal dasar-dasar produksi dokumenter, strategi kampanye, hingga penggunaan alat dokumentasi. Widi Sugiarti mengaku mendapatkan pengalaman baru dalam menggunakan perlengkapan produksi. Ini pengetahuan baru bagi saya, mengenal alat dan penggunaan alat dokumentasi, seperti kamera, tripod, dan lainnya,” ujarnya.
Perkembangan pemahaman peserta juga terlihat dari cara mereka memaknai fungsi film dokumenter sebagai media kampanye sosial. Wahyuni menilai film bukan sekadar tentang teknik pengambilan gambar, tetapi tentang bagaimana menyampaikan cerita secara jujur kepada publik. Sementara itu, Hirza Barizi memahami bahwa kampanye yang efektif harus mampu menggugah emosi dan membuat audiens ikut peduli terhadap isu yang disampaikan.
Roby turut mengaku mendapatkan pemahaman baru tentang pentingnya menjaga alam dan satwa liar. Menurutnya, satwa yang hampir punah wajib dijaga agar populasinya tidak terus menurun dan tetap lestari bersama lingkungan hidupnya.
Praktik Lapangan di Gunung Wedon
Memasuki hari kedua, peserta mulai mempraktikkan pengambilan gambar langsung di Gunung Wedon. Tantangan medan pendakian dan keterbatasan peralatan justru menjadi ruang belajar kolaborasi, kesabaran, dan adaptasi bagi peserta difabel maupun non-difabel.
“Sangat melatih kesabaran dan harus tetap profesional dalam kondisi apa pun. Alhamdulillah kegiatan berjalan lancar tanpa adanya kendala yang berarti,” ujar Yogi Pradimi yang aktif mengoperasikan kamera selama praktik lapangan.
Bagi Wahyuni, praktik lapangan menjadi pengalaman penting karena untuk pertama kalinya ia mendaki gunung sebagai penyandang disabilitas. Ia mengaku mendapatkan dukungan penuh dari tim selama proses produksi berlangsung. “Hari ini mengajarkan bahwa dalam pembuatan film dokumenter di lapangan tidak sekadar membuat, tetapi juga membutuhkan teknik agar suara dan video menjadi lebih baik,” ungkapnya.
Sementara itu, Hirza menilai praktik lapangan memberikan tantangan tersendiri karena banyak momen menarik selama perjalanan yang tidak selalu dapat tertangkap kamera akibat keterbatasan kru dan peralatan dokumentasi.
Film Dokumenter sebagai Media Kampanye Lingkungan
Pada hari ketiga, peserta mulai memasuki proses editing dan penyusunan alur cerita film. Proses ini menunjukkan perkembangan kemampuan peserta dalam memahami tahapan produksi dokumenter secara lebih utuh. Wahyuni menilai editing memiliki kekuatan untuk mengubah visual alam menjadi gerakan yang dapat menginspirasi masyarakat menjaga lingkungan.
“Selain peningkatan keterampilan teknis, pelatihan juga memperkuat pemahaman peserta mengenai hubungan antara pelestarian alam dan perlindungan satwa liar. Pelestarian alam dan perlindungan satwa liar tidak dapat dipisahkan karena keduanya memiliki hubungan ekosistem dan rantai makanan yang saling berkaitan,” kata Hirza.
Peserta juga memahami pentingnya komunikasi dan publikasi dalam gerakan sosial dan kampanye lingkungan. Menurut Wahyuni, komunikasi dan publikasi mampu mengubah gagasan kecil menjadi gerakan besar yang membawa perubahan nyata bagi masyarakat.
Rangkaian testimoni peserta menunjukkan bahwa pelatihan ini tidak hanya meningkatkan kapasitas teknis produksi film pendek, tetapi juga memperkuat perspektif peserta tentang advokasi lingkungan, kerja tim, pelestarian satwa liar, dan budaya inklusif dalam ruang kreatif. Melalui pendekatan sinema dan dokumentasi visual, peserta mulai membangun cara baru dalam menyampaikan isu lingkungan dan inklusivitas kepada publik secara lebih kreatif, emosional, dan mudah dipahami masyarakat.
