Posyandu Disabilitas juga untuk Mendongkrak Bisnis

 

Posyandu Disabilitas tak hanya inovasi yang berdampak pada perlindungan dan layanan kesehatan yang lebih baik bagi difabel, melainkan bermanfaat bagi pengembangan wirausaha anggotanya melalui kerjasama usaha. Salah satunya usaha telor asin yang dikelola oleh Priyo Utomo, semenjak join produksi dan penjualan meningkat 150 persen.

“Dulu usaha saya sempat macet sekira 8 bulan, setelah join dengan Omah Difabel usaha telor asin meningkat. LINKSOS membantu memfasilitasi permodalan anggota, juga menggerakkan Kader Posyandu Disabilitas untuk membantu pemasaran,” tutur Priyo Utomo, Selasa, 5 Januari 2021 di Omah Difabel, Kec. Lawang, Kab. Malang.

Omah Difabel merupakan Pokja Wirausaha Lingkar Sosial Indonesia (LINKSOS),  sedangkan Posyandu Disabilitas merupakan inovasi layanan kesehatan yang diinisiasi oleh LINKSOS dengan menggerakkan lintas sektor. Posyandu tersebut memiliki kader-kader yang sekaligus bergabung sebagai anggota LINKSOS di beberapa bidang kegiatan yang diminati, termasuk bergabung di Pokja Wirausaha Omah Difabel.

“Sebelum join, kemampuan produksi telor asin saya sekira 400 butir per bulan. Kini bersama Omah Difabel telah meningkat hingga 1.200 butir per bulan, atau meningkat 150 persen,” ungkap Priyo.

Priyo sapaan akrabnya, adalah anggota Lingkar Sosial Indonesia (LINKSOS). Setiap harinya ia disibukkan kegiatan produksi telor asin, juga aktif di organisasi difabel tersebut sebagai Sekretaris Harian.

Pria dengan disabilitas fisik kelahiran 1995 ini juga aktif sebagai anggota Timsus Pendaki, kelompok difabel pendaki gunung yang dikelola oleh Lingkar Sosial. Saat ini ia juga tengah menempuh kuliah Jurusan Psikologi Universitas Terbuka Malang.

“Produksi telor asin saya mulai sejak 2018 di Pakisaji, kendala utamanya adalah pemasaran, sebab hambatan mobilitas dan keterbatasan tenaga yang membantu loper (distribusi-red) telor ke warung-warung,” ungkapnya.

Hambatan mobilitas disebabkan oleh transportasi, ketika itu saya dibantu Ibu Agustin, orang tua dari anak difabel yang punya usaha kerupuk. Dimana Ibu titip kerupuk disitu pula titip telor asin.

Namun masalahnya, ketika Ibu sibuk belum bisa loper, sementara warung memerlukan telor asin, peluang itu kemudian diisi oleh produsen telor asin lainnya. Produksi telor asin bahkan sempat terhenti gegara hambatan tersebut, sehingga pelanggan diambil alih oleh orang lain.

Kini persoalan tersebut sudah bisa diatasi melalui kerjasama permodalan dan pemasaran dengan LINKSOS. Selain mendapat dukungan permodalan berupa bahan dan peralatan produksi, Priyo juga dibantu para Kader Posyandu Disabilitas untuk pemasaran. Kerjasama tersebut dimulai sejak Agustus 2020.

Potensi dan tantangan wirausaha telor asin

“Telor asin sangat baik dikembangkan sebagai usaha masa depan, sebab banyak peminatnya,” ungkap Priyo. Disamping itu juga terdapat tantangan, yaitu permodalan, pemasaran, dan tenaga produksi.

Permodalan, orang yang baru memulai usaha telor asin kerap kali gulung tikar sebab persaingan harga dengan pelaku usaha yang sudah lama dan bermodal lebih. Sebab beli bahan dalam partai besar akan lebih murah, sehingga harga jualnya juga murah. Nah disini mereka bisa memainkan harga lebih murah, rinci Priyo.

Sedangkan pemasaran otomatis konsumen akan memilih harga telor asin yang lebih murah. Mensikapi hal ini dengan mengutamakan kualitas. Tanpa kualitas yang baik pelanggan akan berpindah, meski harga lebih murah.

Untuk mendapatkan telor asin berkualitas ini kuncinya adalah proses produksi. Perlu tenaga produksi yang telaten dan taat prosedur, jika tidak maka telor akan rusak. Nah, ketersediaan tenaga kerja yang telaten ini juga tantangan dalam pengembangan usaha telor asin, rinci Priyo lebih lanjut.

“Usaha ini akan terus saya kembangkan dengan manfaat lainnya untuk menyerap tenaga kerja dan membuka kesempatan wirausaha bagi kawan-kawan difabel,” tutur Priyo.

Mau bekerjasama dengan saya boleh, mau belajar membuat telor asin juga monggo. Kalau belajar dan sudah bisa, lalu produksi telor asin sendiri, atau usaha mandiri juga nggak apa-apa, terang cowok kelahiran Banjarbaru, Kalsel ini.

“Saat ini produksi telor asin dibantu dua orang kawan, namanya Dauji dan Sulikah, keduanya penyandang disabilitas intelektual,” tutur Priyo.

Kerjasama lintas sektor

Dalam kesempatan yang sama, Manajer Omah Difabel, Widi Sugiarti mengatakan bahwa peningkatan produksi dan penjualan telor asin tak lepas dari dukungan pemasaran Kader Posyandu Disabilitas.

“Posyandu Disabilitas tak hanya melayani masyarakat di bidang kesehatan, namun juga secara sosial mendukung usaha kawan-kawan difabel utamanya di bidang pemasaran,” ungkap Widi.

Langganan telor asin ini adalah jaringan pertemanan para kader, dimulai dari warga sekitar Omah Difabel, warung makan, pedagang sayur keliling, serta staf kantor-kantor dan instansi jaringan LINKSOS.

Sedangkan untuk permodalan, Omah Difabel didukung lintas sektor, khususnya telor asin ini dibantu permodalan oleh SMAN 3 Malang melalui kegiatan donasi Pagelaran Seni Citra Smanti (PSCS).

Usaha lainnya, terdapat beberapa kegiatan wirausaha yang didanai lintas sektor. Diantaranya produksi keset didukung oleh Jingga Berbagi Universitas Brawijaya, kopi herbal merek Koerja yang didukung oleh Unikama, serta batik ciprat yang didukung oleh Himasigi Unibraw, dan badan zakat BMH Malang.

Terdapat juga produksi masker dan hazmat yang didukung oleh Universitas Negeri Malang, yang sebelumnya juga dibantu oleh RSJ Dr. Radjiman Wediodiningrat Lawang.

“Inilah manfaat aktif berorganisasi di LINKSOS, orientasi kita sejak berdirinya tahun 2014 adalah wirausaha mandiri, tidak bergantung pada bantuan sosial atau bansos,” tandas Widi.

Adanya bantuan atau dukungan dari banyak pihak bukan sebab organisasi meminta-minta, namun memang karena layak sebagai mitra kerjasama.

Aktif berorganisasi termasuk melalui Posyandu Disabilitas memberikan kemudahan dibidang apapun, termasuk permodalan dan pemasaran yang selama ini menjadi hambatan teman-teman difabel dalam berwirausaha, pungkas Widi. (Ken)

Facebook Comments