Difpala Wadah Bagi Difabel Pecinta Alam

Pokja Pemuda Lingkar Sosial Indonesia (LINKSOS), Pokja Pemuda terus menggali potensi pengembangan bakat dan minat anggotanya. Setelah Oktober 2020 lalu divisi kepemudaan ini membentuk Timsus Pendaki, kini menuju Tahun 2021 LINKSOS mengembangkan Difpala atau Difabel Pecinta Alam untuk mengakomodasi para difabel yang memiliki minat terhadap pelestarian lingkungan.

Data LINKSOS, minat pemuda difabel terhadap kegiatan bertema alam cukup tinggi. Nampak dalam daftar peserta longmarch difabel, mulai pertengahan Juli 2020 lalu hingga saat ini telah mencapai 40 orang. Salah satu penyebab tingginya antusias masyarakat difabel terhadap kegiatan luar ruangan adalah minimnya kesempatan berekreasi sebab hambatan mobilitas.

Dari 40 peserta tersebut, semua telah melalui proses pendakian di Gunung Wedon, kemudian 23 diantara mereka meningkatkan pendakian di Gunung Banyak pada bulan Agustus 2020. Selanjutnya 12 orang mendaki Gunung Butak pada Oktober 2020, lalu terkini meningkat sedikit 16 orang menjajal jalur ekstrim Puncak Batu Tulis Gunung Kawi, bulan Desember 2020.

Meski memiliki minat dan kecintaan pada lingkungan hidup, namun tak semua difabel mampu mendaki gunung-gunung tinggi. Oleh karena itu mereka yang tak masuk dalam seleksi Timsus Pendaki LINKSOS perlu adanya wadah untuk memberikan kesempatan difabel mendedikasikan semangat dan kecintaannya kepada alam semesta.

Difabel Pecinta Alam memulai kegiatan untuk pertama kalinya, bergotong royong membersihkan area puncak Gunung Wedon. Pada bagian puncak yang sebelumnya ditumbuhi semak belukar kini lebih rapi, disertai plang bertuliskan Gunung Wedon dalam huruf alphabet dan aksara Jawa, serta informasi ketinggian 660 mdpl.

Respon masyarakat dan lintas sektor

Tanggapan masyarakat terhadap kegiatan difabel di bidang lingkungan hidup cukup baik. Tanggapan positif masyarakat nampak dengan adanya seorang warga Desa Turirejo, Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang, menjadikan kediamannya sebagai Posko Pendakian Gunung Wedon. Sekaligus warga yang bernama Pak Rokim (47 tahun) tersebut bertanggungjawab sebagai Pembina Sekolah Alam Gunung Wedon.

Dukungan Pemerintah, LINKSOS bekerjasama dengan Pemerintah Desa Turirejo di bidang olahraga, khususnya pendakian Gunung Wedon bagi difabel. Kerjasama ini termuat dalam Surat Keterangan Domisili Kegiatan Nomor 467/35.07.25.2009/2020.

Lintas perguruan tinggi juga memberikan dukungannya, diantaranya dalam kegiatan Sarasehan Hapus Stigma, Oktober 2020 lalu, dihadiri oleh beberapa mahasiswa yaitu Universitas Kanjuruhan Malang (Unikama), Universitas Brawijaya (Unibraw) serta Universitas Ma Chung.

Teranyar, LINKSOS bekerjasama dengan Jurusan Kesehatan Masyarakat Falkutas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Malang, pertengahan Desember 2020 kemarin melakukan kegiatan tanam bibit pohon di Gunung Wedon. Mereka juga melakukan pemeriksaan kesehatan gratis bagi difabel dan lansia yang berasa di sekitar gunung tersebut, tepatnya di Desa Turirejo.

Harapan

Harapan Lingkar Sosial Indonesia, yang pertama kegiatan Difpala nantinya tak hanya seputar masalah gunung dan penghijauan, melainkan bisa merambah pada isu sungai dan sampah. Hal tersebut mengingat persoalan sungai yang tercemar, dan pengelolaan sampah sudah sangat kritis tak sebanding dengan perkembangan organisasi masyarakat yang peduli terhadap isu lingkungan.

Harapan selanjutnya adalah adanya kerjasama lintas sektor secara berkelanjutan. Persoalan lingkungan atau alam pada prinsipnya bukan semata urusan sekelompok orang atau komunitas saja, melainkan masalah yang menyangkut hajat seluruh manusia. Idealnya lintas sektor tersebut meliputi Pemerintah, swasta, kelompok masyarakat, perguruan tinggi, serta media massa.

Pers rilis dibuat oleh Lingkar Sosial Indonesia, Senin, 28 Desember 2020, di Omah Difabel Jl. Yos Sudarso RT 4 RW 7 Desa Bedali, Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang. Informasi lebih lanjut dan wawancara hubungi Ketua Pembina LINKSOS, Kertaning Tyas (Ken Kerta), whatsapp 0857 6463 9993.

Facebook Comments