Berbagi Masker di Hari Tuli Nasional

Rapat koordinasi pengurus LINKSOS dan Geraktin Kota Malang, Minggu (3/1/2021) di Omah Difabel
Nasib pekerja di jalanan serta anak-anak jalanan dengan disabilitas yang rentan terdampak Covid-19 menjadi perhatian Lingkar Sosial Indonesia (LINKSOS) dan Gerakan untuk Kesejahteraan Tuna Rungu dan Wicara Indonesia (Gerkatin) Kota Malang. Untuk itu dua organisasi akan berbagi masker bertepatan dengan momen Hari Tuli Nasional, 11 Januari 2021.

Lebih rinci, sasaran penerima masker adalah mereka yang rentan terpapar Covid-19 di jalanan, yaitu para pekerja jasa becak, sopir angkot, kusir andong, asongan, anak jalanan baik dengan disabilitas maupun tanpa disabilitas, hingga pengguna kendaraan bermotor.

Wilayah pembagian masker di beberapa titik lampu merah sekitar Jalan Kawi, Kota Malang, serta Pasar Lawang dan sepanjang jalan hingga sekitar pintu tol Patal, Kabupaten Malang.

Jumlah masker yang akan disalurkan sekira 500 lembar, berasal dari swadaya sumbangan masyarakat, donasi dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur, serta donasi Lingkar Sosial Indonesia.

Tujuan berbagi masker selain turut serta aktif menanggulangi penyebaran Covid-19, juga mengingatkan publik bahwa virus tersebut masih ada dan memerlukan penanganan bersama.

Demikian disepakati dalam rapat kedua organisasi tersebut, Minggu, 3 Januari 2021 di Omah Difabel, Desa Bedali, Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang.

Dilaksanakannya bagi-bagi masker pada momen Hari Tuli Nasional 2021 sekaligus sebagai kampanye publik bahwa di Malang terdapat organisasi tuli yang berkomitmen melayani masyarakat.

Gerkatin Kota Malang merupakan mitra LINKSOS sejak tahun 2016. Keduanya tergabung dalam Forum Malang Inklusi (FOMI) bersama belasan organisasi lainnya untuk kegiatan advokasi kebijakan.

Kedua organisasi ini juga bekerjasama untuk sosialisasi dan pembelajaran Bahasa Isyarat Indonesia (Bisindo).

Kerjasama lainnya, beberapa anggota Gerkatin Kota Malang bergabung dalam kegiatan yang dikelola LINKSOS, yaitu Pokja Wirausaha Omah Difabel, Timsus Pendaki, serta Difabel Pecinta Alam (Difpala).

 

Pesan khusus kepada Pemerintah dan masyarakat

Sebagai organisasi yang bergerak di bidang pemberdayaan masyarakat, terkait dampak Covid-19, LINKSOS dan Gerkatin menyoroti anak-anak jalanan dengan disabilitas yang melakukan praktik mengemis.

Yang pertama, di masa pandemi ini difabel anak jalanan (difanjal) rentan tertular dan menularkan Covid-19. Tak ada pemeriksaan kesehatan bagi mereka, dan mereka juga tidak memeriksakan diri, sehingga kondisi kesehatan mereka tidak terdeteksi. Sementara mereka melakukan aktivitas di jalanan nampak tanpa menggunakan masker.

Yang kedua, kami terbuka kerjasama terhadap instansi yang berkaitan dengan urusan anak jalanan untuk bekerjasama, diantaranya Dinas Sosial, Dinas Kesehatan, Dinas Perlindungan Perempuan dan Anak, Kepolisian, serta Satgas Covid-19.

Kerjasama yang kami tawarkan adalah pembinaan berkelanjutan di bidang kemandirian wirausaha agar mereka tidak lagi turun ke jalan.

 

Sekilas tentang Hari Tuli Nasional

11 Januari adalah hari Tuli Indonesia, ditetapkan saat Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Gerkatin pada 21-23 September 2017 di Hotel Lotus Garden Kediri.

Tema Rakernas saat itu adalah “Konsolidasi Organisasi Gerkatin dalam rangka meningkatkan kapasitas dan memperkuat jaringan organisasi”. Saat itu, gagasan menetapkan sebuah hari untuk diperingati sebagai hari Tuli Indonesia digulirkan.

Alasan pemilihan tanggal tersebut, diyakini sebagai penanda awal munculnya kesadaran dan kebangkitan Tuli. Awal mula aktivis Tuli di Bandung, Aek Natas Siregar, dan Mumuh Wiraatmadja beserta kawan-kawannya mendirikan sebuah organisasi bernama SEKATUBI atau Serikat Kaum Tuli-Bisu Indonesia yang beranggotakan 42 orang. Tepatnya 11 Januari 1960 atau 61 tahun lalu.

Tak hanya di Bandung, berdiri pula organisasi kaum tuli-bisu di kota-kota lainnya, diantaranya Persatuan Tuna Rungu Semarang (PTRS), Perhimpunan Tuna Rungu Indonesia (PERTRI) Yogyakarta, dan Perkumpulan Kaum Tuli Surabaya atau PEKATUR. Sedangkan Gerkatin sendiri berdiri pada tahun 1981.

Pers rilis bersama Lingkar Sosial Indonesia (LINKSOS) dan Gerakan untuk Kesejahteraan Tuna Rungu dan Wicara Indonesia (Gerkatin) Kota Malang, dibuat Minggu, 3 januari 2021 di Omah Difabel.

Informasi lebih lanjut dan wawancara, hubungi:

  1. Ketua Pembina LINKSOS, Kertaning Tyas (Ken Kerta), WA 0857 6463 9993
  2. Ketua Gerkatin Kota Malang, Sumiati, WA 0812 5290 043 (pesan tulisan saja)
Facebook Comments