Memulai Tatanan Hidup Baru Bersama Covid-19

JAKARTA- Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan COVID-19 Achmad Yurianto dalam konferensi pers Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 di Graha BNPB Jakarta, Selasa, 12 Mei 2020, meminta kepada masyarakat memulai tatanan hidup baru selama pandemi. Pasalnya, virus baru tersebut akan tetap ada selama belum ditentukan vaksin pencegahannya.

Pola hidup bersih dan sehat

“Tatanan baru itu harus bebasis dari apa yang selama ini mulai kita rintis. Kita akan hidup dengan suasana baru, kedepankan pola hidup bersih dan sehat,” kata Yurianto.

Yaitu terbiasa mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, terbiasa menggunakan masker saat keluar rumah, terbiasa menghindari kerumunan orang yang sangat banyak, terbiasa lebih banyak tinggal di rumah untuk hal-hal yang tidak perlu dilakukan di luar rumah, dan terbiasa menjaga diri, keluarga serta lingkungan agar tetap sehat.

“Kita tidak bisa secara arogan melawan Covid-19 ini karena kita belum menemukan vaksinnya. Kita belum mampu menciptakan kekebalan yang kemudian bisa digunakan melawan secara semena-mena, diperlukan upaya untuk kita bisa hidup dengan tatanan baru,” tandasnya.

Penguatan ekonomi kelompok produktif

Achmad Yurianto juga menjelaskan bahwa hasil evaluasi selama kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) mengungkapkan bahwa kasus positif termasuk data kemtian paling banyak berada pada usia 45 hingga 60 tahun dan juga 60 tahun ke atas.

Usia penduduk 45 tahun ke bawah yang merupakan angkatan kerja produktif, memiliki imunitas tubuh yang tinggi dalam bertahan dari penyakit COVID-19, juga jadi tumpuan harapan keluarga. Oleh karena itu pemerintah telah memutuskan bagi penduduk dengan usia di bawah 45 tahun diperbolehkan untuk beraktivitas lebih banyak semasa PSBB.

Sementara warga masyarakat usia 45 tahun ke atas merupakan kelompok rentan yang harus dilindungi.

“Perlu dipkirkan kembali kelompok usia ini pada layanan yang diizinkan PSBB, untuk difasilitasi pekerjaannya kembali. Sekali lagi hanya pada lapangan pekerjaan yang diizinkan,” tegas Yurianto.

Menghidupkan Kewirausahaan Sosial

Persoalan penting dalam memulai tatanan hidup baru bersama Covid-19 selain pola hidup adalah persoalan ekonomi. Dampak pandemi tak cukup diatasi hanya dengan kebiasaan cuci tangan, menghindari kerumunan dan sebagainya. Melainkan memulihkan kembali perekonomian masyarakat.

Dalam kesempatan terpisah, Ketua Pembina Lingkar Sosial Indonesia, Kertaning Tyas mengatakan bahwa kewirausahaan sosial sebagai alternatif positif memulihkan perekonomian Indonesia. Sekaligus sebagai lapangan kerja baru bagi warga masyarakat yang kehilangan pekerjaan semasa pandemi, termasuk warga usia 45 tahun ke atas.

“Wirausaha sosial merupakan kegiatan usaha yang tak hanya berorientasi pada keuntungan semata, melainkan wajib menimbulkan dampak positif pada lingkungan”, ungkap pria yang akrab disapa Ken Kerta. Dampak positif yang dimaksud seperti penyerapan tenaga kerja lokal dan pemanfaatan SDA secara bertanggungjawab.

Wirausaha tidak mengenal batasan usia, selama mampu dan produktif, serta bisa dilakukan dari rumah masing-masing, seperti menjahit, beternak, warung sembako, kerajinan tangan dan sebagainya.

Lingkar Sosial Indonesia (LINKSOS) telah merintis wirausaha sosial sejak tahun 2015. Selama masa pandemi ini, LINKSOS melalui workshop pemberdayaan masyarakat Omah Difabel aktif memproduksi ribuan masker dan ratusan pakaian hazmat.

“Roh dari kewirausahaan adalah gotong royong, ini yang kami lakukan sehingga Omah Difabel tetap survive di masa pandemi,” tegas Ken.

Diantaranya kami bekerjasama dengan PKRS RSJ Dr. Radjiman Wediodiningrat untuk produksi masker filter. Sedangkan pasarnya selain masyarakat umum juga menjalin kemitraan dengan Dinas Sosial Kabupaten Malang, serta Dinas Koperasi Perindustrian dan Perdagangan Kota Malang. Juga bekerjasama dengan CSR Perusahaan.

Hanya saja, belum semua difabel dalam dampingan Lingkar Sosial bisa teakomodasi. Ken mengungkap, dari sekira 327 warga dampingan masih sekira 15 persen yang terfasilitasi pekerjaan baru selama pandemi dengan hambatan utama permodalan.

“Harapannya, kepada Pemerintah untuk memperhatikan permodalan UKM-UKM, artinya penting realisasi bahwa yang namanya bantuan sosial atau bansos tak mesti berupa paket sembako dan bantuan lansung tunai yang hanya habis untuk dimakan,” pungkas Ken. *
Facebook Comments
WhatsApp chat