Balada Khosiah Lulusan SD yang menjadi Guru Difabel

Namanya Khosiah, kebanyakan warga di desanya menyebut ia sebagai “Guru Difabel.” Bukan sebab ia seorang guru SLB atau sarjana PLB, melainkan perempuan lulusan SD ini aktif mengajar anak-anak berkebutuhan khusus (ABK) melalui kelas informal. Bahkan di masa pandemi Covid-19 ini ia tetap mengajar dari rumah ke rumah. Di tangan Khosiah anak-anak yang tidak pernah tahu bangku sekolah ini  sedikit banyak bisa mencicipi hak pendidikan.

“Saya hanya ingin anak-anak ABK punya nasib yang sama dengan anak-anak pada umumnya,” ungkap Khosiah (15/5 2020) di kediamannya di Desa Bonagung, Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Malang.

Terlebih anak saya juga difabel, lanjutnya. Anak saya tidak sekolah sebab  keterbatasan biaya. Dulu sudah pernah ambil formulir di sekolah khusus difabel tapi nggak kuat bayar biayanya.  Akhirnya anak saya bisa baca tulis dari saya ajari sendiri.

Nah dari pengalaman saya mengajar anak ini, saya tularkan untuk berbagi dengan anak-anak difabel lainnya, khususnya ABK di lingkungan saya tinggal, tutur perempuan usia 45 tahun ini. Selama hampir 2 tahun Khosiah menjalani aktivitas ini.

Perempuan yang aktif berorganisasi

Khosiah selain aktif mengajar melalui kelas informal di Kartika Mutiara, sebuah komunitas yang difasilitasi oleh Koramil Pakisaji, ia juga dikenal aktif berkegiatan di pokja wirausaha Lingkar Sosial Indonesia (LINKSOS), Paguyuban Ibu-ibu dari Anak Istimewa (PII), serta PKK dan PKH.

Namun di masa pandemi ini, kegiatan di Kartika Mutiara libur. Lantas Khosiah berinisiatif mengajar ABK dari rumah ke rumah.

Jumlah anak-anak binaan sekira 40 orang di Komunitas Kartika Mutiara. Sedangkan yang ia ajar dari rumah ke rumah selama pandemi sekira 20 orang, prioritas yang ada di tempat terdekat. Usia murid diantara 9 tahun hingga 30 tahun.

Anak murid Khosiah kebanyakan dari difabel ragam tuna grahita dan sedikit diantaranya tuna daksa. Mereka adalah anak-anak yang tidak pernah tahu bangku sekolah,  di tangan Khosiah anak-anak tersebut sedikit banyak bisa mencicipi hak pendidikan. Meski dengan materi ajar yang sederhana yaitu calistung atau baca, tulis dan hitung.

Khususnya di masa pandemi ini, selain Khosiah juga mengajarkan cara menggunakan masker dan sosialisasi Covid-19 pada ABK dan keluarganya.

“Mengajar ABK dari rumah ke rumah saya lakukan atas inisiatif saya sendiri, dan dengan biaya sendiri,” ungkap Khosiah. Meski begitu tak lupa saya juga ijin Pak Tri, pembina Kartika Mutiara, dan Alhamdulillah beliau mendukung.

Anak saya yang difabel namanya Nurfialaila atau Ofi, difabel fisik pada kedua tangannya. Ia kerap kali ikut saya mengajar, membantu di bagian dokumentasi. Ia bisa memotret dengan hape menggunakan kedua kakinya.

Apa hambatan selama mengajar dari rumah ke rumah?

“Hambatan selama ini adalah bahan ajar, biaya operasional, dan pandangan negatif masyarakat,” ungkap Khosiah.

Tentang bahan ajar, karena saya bukan lulusan sekolah guru maka saya banyak belajar pada guru-guru sekolah umum. Alhamdulillah saya dipinjami buku oleh guru PAUD dan SD di desa, lalu saya foto kopi untuk bahan mengajar.

“Sedangkan biaya opeasional, ya saya cukup jalan kaki saja jika mengajar di dalam desa, jadi hanya keluarkan uang untuk foto kopi saja,’ tuturnya. Sedangkan jika di luar desa saya atur waktunya agar bisa pinjam sepeda motor anak perempuan saya di sela pekerjaannya. Hal lain yang saya perlukan adalah sarana belajar seperti alat mewarnai dan puzzle. Sebab anak-anak lebih suka belajar sambil bermain.

Tantangan lainnya adalah pandangan negatif masyarakat. Sebagian orang memandang saya sebelah mata. Khosiah bisa apa, hanya lulusan SD. Juga orang miskin, paling mengurus difabel hanya untuk mencari bantuan.

Namun terserah apa kata orang, saya selalu semangat dan menganggap setiap hambatan adalah tantangan yang harus dihadapi. Seperti yang selalu diajarkan Pak Ken (pembina Lingkar Sosial-red) kepada saya, tandas Khosiah.

Bagaimana pekerjaan di masa pandemi ini?

“Sebelumnya saya jualan jamu tradisional racikan sendiri. Semua asli dari bahan alami, termasuk gula, asam dan air matang,” tutur Khosiah. Ada jamu beras kencur, kunir asam juga macan kerah. Lalu selama pandemi ini istirahat dulu sebab ada himbuan mengurangi aktivitas keluar rumah. Untuk sementara pendapatan bergantung pada kerja suami yang buruh harian.

Kalau corona nggak ada habisnya ya terpaksa harus tetap jualan. Siapa juga yang akan menanggung biaya hidup? Sambil menabung dulu untuk mengganti blender saya yang rusak, juga modal usaha yang habis terpakai selama pandemi ini, tutur Khosiah semangat.

Kegiatan lainnya, saya setiap hari membuat tas dari bungkus kopi bersama kedua anak saya. Pinginnya sih bisa nambah penghasilan, tapi belum laku-laku juga.

Apa harapan ibu Khosiah?

“Harapan saya yang pertama kepada Pemerintah untuk lebih memperhatikan anak-anak berkebutuhan khusus, utamanya bidang pendidikan ini sangat penting,” tutur Khosiah.

Maka dimanapun ada pelatihan-pelatihan saya selalu berusaha untuk hadir, mengingat saya hanya lulusan SD namun harus berbagi ilmu dengan anak-anak difabel. Termasuk di Lingkar Sosial saya mendorong kedua anak saya bergabung di Pokja Pemuda.

Selain bidang pendidikan, masalah kesehatan juga penting. Saya ingin ada Posyandu Disabilitas, seperti dibuat Lingkar Sosial di Kecamatan Lawang. Agar anak-anak bisa memperoleh layanan kesehatan dan terapi-terapi sejak dini.

“Harapan lainnya adalah kepada masyarakat, mari kita sama-sama peduli kepada difabel,” katanya. Kerap kali foto-foto kegiatan saya share ke grup-grup wasap, maksudnya bukan pamer tapi mengajak semua orang untuk turut peduli. (Ken)

Facebook Comments