Selama ini, banyak program hanya menyasar disabilitas yang dianggap lebih mudah dilatih dan cepat menunjukkan hasil, misal disabilitas dengan spektrum ringan dan sedang. Akibatnya, disabilitas fisik spektrum berat, serta disabilitas non fisik — khususnya disabilitas mental perkembangan: autis, hiperatif — sering berhenti pada perawatan dasar tanpa ruang untuk berkembang dan berpartisipasi. LINKSOS melihat kondisi ini sebagai ketimpangan yang harus diubah.
Melalui fokus kerja LINKSOS tahun 2026, kami menegaskan bahwa pemberdayaan adalah hak semua anak disabilitas. Bukan hanya mereka yang dianggap “mampu”. Kunci perubahan ada pada keluarga. LINKSOS menempatkan keluarga sebagai pusat ekosistem pemberdayaan — bukan sekadar pendamping. Mereka adalah aktor utama yang menjaga keberlanjutan layanan, belajar, dan pengasuhan anak.
Fokus besar ini diwujudkan melalui penguatan program-program LINKSOS di empat sektor utama yaitu ekonomi, kesehatan, pendidikan dan lingkungan hidup.
Sektor Ekonomi: Omah Difabel untuk Daya Tahan Keluarga
Di sektor ekonomi, LINKSOS mengembangkan Omah Difabel sebagai pusat inkubasi dan usaha inklusif. Program ini mendorong penyandang disabilitas dan keluarganya memiliki pekerjaan dan pendapatan yang layak. Remaja dan anak muda disabilitas, serta orang tua anak disabilitas spektrum berat dan autisme, memiliki kesempatan penuh mengikuti program ini.
Program inkubasi bisnis meliputi pelatihan dan pendampingan wirausaha, mulai dari akses pembiayaan, pemasaran, hingga legalitas. Sedangkan usaha inklusif, LINKSOS mengembangkan sentra pelatihan dan produksi batik serta keset. Usaha kuliner, kriya, seni budaya, dan pariwisata terus diperkuat. Untuk memperluas pasar, LINKSOS rutin menggelar promosi dan penjualan, termasuk Pasar Kreatif Omah Difabel di Malang Creative Center (MCC).
Penguatan ekonomi ini menjadi fondasi penting. Keluarga yang lebih berdaya akan lebih mampu menopang kebutuhan hidup dan pendampingan anak.
Sektor Kesehatan: Posyandu Disabilitas dan Terapi Komunitas
Di sektor kesehatan, LINKSOS memperkuat Posyandu Disabilitas sebagai layanan rutin yang dekat dengan komunitas. Melalui posyandu ini, penyandang disabilitas mendapat layanan terapi fisik minimal satu bulan sekali. Kegiatan ini juga menjadi sarana advokasi agar layanan kesehatan pemerintah semakin inklusif.
Untuk disabilitas non fisik, khususnya nagi anak-anak dan remaja, LINKSOS mengembangkan playgroup terapi dan belajar. LINKSOS juga melatih orang tua sebagai co-terapist. Dengan cara ini, terapi tidak berhenti di layanan bulanan. Orang tua bisa melanjutkannya setiap hari di rumah. Pendekatan ini membuat akses terapi lebih mudah, terjangkau dan berkelanjutan.
Sektor Pendidikan: Sako Inklusi dan Literasi Dasar
Di sektor pendidikan, LINKSOS mengembangkan Sako Inklusi sebagai ruang belajar yang adaptif. Program ini menyasar anak dan remaja disabilitas di luar sekolah, termasuk disabilitas spektrum berat dan yang tak permah mengenyam pendidikan formal. Target utamanya adalah kemampuan membaca, menulis, dan menghitung sebagai bekal kemandirian fungsional.
Kegiatan dilakukan melalui pelatihan calistung dengan metode bermain. Metode ini lebih ramah bagi anak dengan hambatan perkembangan. LINKSOS juga mengadakan kegiatan kepramukaan, upacara bendera, dan baris-berbaris. Kegiatan ini melatih disiplin, kepercayaan diri, dan semangat belajar.
Sektor Lingkungan: Difabel Pecinta Alam, Konservasi, dan Pengurangan Risiko Bencana
Di sektor lingkungan, LINKSOS menggerakkan Difabel Pecinta Alam (Difpala). Program ini membuka kesempatan wisata alam yang inklusif. Difpala juga mendorong peran aktif penyandang disabilitas dalam konservasi dan pengurangan risiko bencana.
Kegiatan meliputi pendakian santai, pendakian khusus, konservasi, serta pengurangan risiko bencana. Pendakian santai, Difpala mendaki gunung dengan jalur relatif mudah dan aman di bawah 2.000 mdpl. Difpala juga menggelar kemping edukatif di pantai, lembah, dan bumi perkemahan yang aksesibel, termasuk bagi pengguna kursi roda dan disabilitas berat.
Pendakian khusus, diantaranya Difpala Seven Summits — misi pendakian tujuh gunung di Indonesia, serta Bhandagiri — misi pendakian delapan gunung berapi di Jawa Timur. Kegiatan ini dilakukan di gunung dengan ketinggian 2.000–4.000 mdpl oleh tim yang telah dilatih. Tujuan kegiatan untuk kampanye hapus stigma dan pemenuhan hak-hak penyandang disabilitas.
Konservasi, Difpala melakukan penghijauan di wilayah rawan longsor serta pembersihan sampah di lokasi wisata alam, sungai, dan taman kota. Untuk pengurangan risiko bencana, LINKSOS melakukan edukasi dan simulasi kebencanaan di komunitas disabilitas dan SLB, serta membina Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) secara berkelanjutan.
Setiap Anak Berhak Tumbuh Sesuai Potensinya
Fokus Kerja LINKSOS Tahun 2026 menegaskan komitmen untuk perlindungan dan pemberdayaan anak, remaja dan anak muda disabilitas, baik fisik maupun non fisik — khususnya disabilitas spektrum berat dan disabilitas mental hambatan perkembangan (autis dan hiperaktif).
LINKSOS membangun ekosistem yang menyatukan layanan, pembelajaran, penguatan ekonomi, dan partisipasi sosial. Melalui penguatan keluarga dan kolaborasi dengan berbagai pihak, LINKSOS percaya perubahan yang adil dan berkelanjutan bisa terwujud.
Setiap anak berhak tumbuh sesuai potensinya. Setiap keluarga berhak mendapat dukungan. Dan setiap anak disabilitas layak menjadi bagian utuh dari masyarakat.
