Pers Rilis: Difabel dalam Pendakian Ekstrim Puncak Batu Tulis Gunung Kawi

Jalur pendakian Puncak Batu Tulis Gunung Kawi dikenal ekstrim, sehingga tidak semua pendaki tanpa pandang bulu mampu mencapai puncak di ketinggian 2.603 mdpl. Dalam rangka memperingati Hari Disabilitas Internasional 2020, Timsus Pendaki Lingkar Sosial Indonesia  (LINKSOS) yang beranggotakan difabel, Kader Posyandu Disabilitas, dan para pendamping, pada 5-6 Desember kemarin melakukan pendakian gunung tersebut. Apa kabar mereka?

Sebanyak 16 orang anggota Timsus Pendaki LINKSOS mendaki Puncak Batu Tulis Gunung Kawi via Precet Forest Park di Dusun Precet, Desa Sumbersuko, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang. Kegiatan selain sebagai olahraga dan memperingati Hari Disabilitas Internasional, juga sebagai rangkaian kampanye hapus stigma disabilitas melalui olahraga pendakian sejak Juli lalu.

Khususnya dalam pendakian ini, dua orang warga masyarakat yang pernah mengalami kusta (OYPMK) turut dalam pendakian. Mereka anggota Kelompok Perawatan Diri (KPD) Bengkura Mas binaan Puskesmas Nguling Pasuruan. Pemberdayaan OYPMK masuk dalam skema pemberdayaan oleh LINKSOS yang didukung until No Leprosy Remains (NLR), organisasi independen nirlaba dengan misi dunia tanpa kusta dan inklusif bagi penyandang disabilitas.

Kusta merupakan penyakit yang meski tergolong sulit menular namun dampak keterlambatan berobat bisa menyebabkan disabilitas sehingga dianggap mengerikan. Orang-orang yang mengalami kusta masih dikucilkan dari pergaulan sosial.

Sebelum pendakian ini, Timsus Pendaki telah melakukan beberapa pendakian, yaitu Perbukitan Srigading (825 mdpl), Gunung Wedon (625 mdpl), Gunung Banyak (1.315 mdpl), serta Gunung Butak (2.868 mdpl), yang tentu setiap gunung memiliki karakter yang berbeda, termasuk Gunung Kawi, khususnya jalur pendakian menuju Puncak Batu Tulis.

 

Jalur ekstrim menuju Puncak

Jalur pendakian menuju Puncak Batu Tulis dikenal ekstrim, sehingga tak semua pendaki tanpa pandang bulu mampu mencapai puncak. Khususnya untuk Timsus Pendaki LINKSOS, dari 16 orang, enam diantaranya berhasil mencapai Puncak Batu Tulis, meliputi 2 orang disabilitas netra, satu orang OYPMK serta 3 orang pendamping. Sedangkan 10 orang lainnya bertahan di ketinggian sekira 2.400 mdpl, atau diatas Pos 3.

Dimulai dari ketinggian 2.400 mdpl tersebut, tantangan menuju puncak diantaranya, yang pertama derajat kemiringan jalur pendakian mencapai 85 derajat, sehingga pendaki memerlukan bantuan tongkat dan tali. Pada beberapa titik pendakian orang harus merangkak.

Tantangan kedua, struktur tanah yang berpasir dan berbatu. Batu-batu yang nampak diatas permukaan tanah rerata sebesar tiga kepalan tangan orang dewasa. Struktur ini menyebabkan bebatuan mudah longsor, dan licin ketika terkena air hujan.

Tantangan berikutnya, tidak ditemukan sumber air. Pendaki kerap kehabisan stok air dan merasa lemas karena dehidrasi. Pada bagian inilah, demi alasan keselamatan Pendaki memilih untuk untuk menyudahi pendakian. Proses turun gunung pun tidak mudah, beberapa pendaki pada beberapa titik nampak memerlukan bantuan pantat alias ngesot/merosot.

Waktu tempuh pendakian, secara perhitungan biasa dari basecamp ke Pos 1 memerlukan waktu dua jam. Dari Pos 1 ke Pos 2 membutuhkan waktu 2 jam. Lalu pos 2 ke Pos 3 memerlukan waktu 1,5 jam. Terakhir dari Pos 3 menuju Puncak memerlukan waktu 2,5 jam.

Total waktu  dari base camp hingga ke puncak menurut perhitungan waktu biasa sekira 8 jam. Namun dalam praktiknya sulitnya jalur pendakian menyebabkan sebagian pendaki menghabiskan waktu hingga 3 hari. Jika perjalanan dimulai pagi hari, biasanya pendaki memilih menginap di Pos 2 untuk malam pertama, dan menginap di Puncak untuk malam berikutnya.

Timsus Pendaki LINKSOS memutuskan menginap semalam saja di Pos 2. Selanjutnya turun gunung dimulai pukul 15.00 dari pos 2, sampai ke base camp sekira pukul 12.00. Seluruh anggota tim dalam kondisi sehat selamat.

 

Pers rilis dibuat oleh Lingkar Sosial Indonesia, Selasa, 8 Desember 2020 di Omah Difabel, Kabupaten Malang. Informasi lebih lanjut, wawancara, kebutuhan foto dan video untuk media dan publikasi, hubungi Ken Kerta, whatsapp 0857 6463 9993.

Facebook Comments