Berbagi Pengetahuan dan Praktik Baik melalui Sekolah Warga Inklusi

Peserta Pembukaan Sekolah Warga Inklusi dari lintas organisasi dan mahasiswa, Selasa, 1 Juni 2021 di Bengpro Malang
Organisasi difabel penggerak inklusi Lingkar Sosil Indonesia (LINKSOS) meluncurkan Sekolah Warga Inklusi (SWI), Selasa, 1 Juni 2021, di Bengkel Produksi (Bengpro) Malang. Adanya sekolah non formal ini sebagai bentuk komitmen turut serta mencerdaskan kehidupan bangsa. SWI merupakan ruang berbagi pengetahuan dan praktik baik dari warga, oleh warga, dan untuk warga.

Peluncuran SWI sekaligus untuk memaknai Hari Lahir Pancasila, acara tersebut digelar di Bengpro yang beralamat di Perumahan Bedali Indah, Jl. Pisang Kipas C5 Nomor 22 RT 10 RW 11 Desa Bedali, Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang. Selain dihadiri oleh para pengurus dan relawan LINKSOS, juga dihadiri lintas organisasi disabilitas, organisasi kemasyarakatan, dan mahasiswa.

Latar belakang dibentuknya Sekolah Warga Inklusi adalah kepedulian terhadap upaya pencerdasan masyarakat. Selama ini konsep pendidikan masih cenderung terpaku kepada sekolah-sekolah dan perguruan tinggi, sedangkan ilmu pengetahuan juga bersumber dari warga masyarakat, lingkungan, serta alam semesta.

Ilmu pengetahuan di masyarakat bahkan pada tataran praktik langsung, sehingga sekolah warga yang bernarasumber dari warga tersebut nantinya akan bersifat tepat guna sesuai kebutuhan masyarakat sekitar. Kebaikan lainnya, SWI bisa dengan mudah diakses atau dimanfaatkan oleh siapapun, tanpa biaya dan tanpa membedakan latar belakang sosial.

Model pembelajaran Sekolah Warga Inklusi (SWI) adalah yang pertama dengan menghadirkan narasumber yang kompeten di bidangnya, baik secara teori maupun praktik untuk memantik diskusi, kemudian peserta memberikan tanggapan serta tanya jawab. Yang kedua, pembelajaran SWI melalui talkshow di youtube, TV, radio, media online, dan saluran lainnya, agar bisa diakses oleh masyarakat di bebagai wilayah.

Lokasi pembelajaran SWI sangat fleksibel, bisa di dalam ruangan, luar ruangan, bahkan di alam terbuka. Sekolah ini juga memperbolehkan pembelajaran di fasilitasi umum, seperti Balai Desa, pendopo kecamatan, tempat wisata, hingga Gedung DPRD.

Materi Sekolah Inklusi (SWI) meliputi segenap ilmu pengetahuan yang dibutuhkan oleh masyarakat luas dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari bidang ekonomi, sosial, pendidikan, budaya, kesehatan, politik, olahraga, dan lainnya.

Beberapa contoh kasus dalam masyarakat, misalnya mensikapi adanya lakalantas, kebakaran, pencurian dan lainnya, sementara kerap kali kita tak memiliki kontak-kontak penting terkait persoalan tersebut. Atau ketika belum lama Malang beberapa kali terdampak gempa, apa yang sebaiknya dilakukan? Sebagian masyarakat nampak gagap bencana sehingga rentan menjadi korban.

Contoh lainnya terkait kepemiluan misalnya. Kerap kali kita melihat poster-poster paslon yang terpaku di pohon-pohon, yang secara aturan tersebut merupakan pelanggaran pemilu, namun sebagian masyarakat abai sebab tak tahu tersebut sebagai pelanggaran atau tak mengerti bagaimana mensikapi pelaanggaran tersebut, kemana harus melapor dsb.

Terdapat pula potensi-potensi keahlian yang sebenarnya bermanfaat bagi lingkungan masyarakat, misal bagaimana memperbaiki lampu yang mati/dianggap rusak, yang sebenarnya masih bisa diperbaiki namun banyak dibuang begitu saja. Atau bagaimana cara praktis mengolah sampah menjadi pupuk organik yang bermanfaat bagi pertanian ramah lingkungan?

Komitmen LINKSOS terhadap dunia pendidikan sejak berdirinya tahun 2014, melalui program Sahabat Kusta ke Sekolah (SKS) melakukan edukasi kesadaran kesehatan lingkungan di sekolah-sekolah dasar di Kabupaten Mojokerto. Kemudian tahun 2016 membidani lahirnya Forum Malang Inklusi (FOMI) yang mengkampanyekan kesadaran inklusi. Tahun 2020 LINKSOS mendirikan Sekolah Alam Gunung Wedon yang mencetak para difabel pendaki gunung. Dan teranyar menginisiasi Sekolah Warga Inklusi.

Rencana tindak lanjut dari pembukaan Sekolah Warga Inklusi (SWI), terdapat beberapa masukan dari peserta acara. Dari kelompok PKK mengusulkan masukknya materi kesadaran disabilitas dalam kegiatan mereka, serta menawarkan diri sebagai pemateri bank sampah. Sementara dari Komunitas Peduli Skzifrenia Indonesia (KPSI) berencana mengirimkan beberapa anggotanya untuk belajar di SWI dan melakukan edukasi masyarakar bersama LINKSOS terkait kesehatan jiwa. Sedangkan dari mahasiswa Unikama menawarkan diri sebagai pemateri pelatihan administrasi dan UMKM.

Pers rilis dibuat oleh Lingkar Sosial Indonesia (LINKSOS), Selasa 1 Juni 2021 di Omah Difabel, Jl Yos Sudarso RT 4 RW 7 Desa Bedali, Kec. Lawang, Kab. Malang. Narasumber: Ketua Pembina LINKSOS, Kertaning Tyas, WA 085764639993.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *