Sekolah Warga Inklusi Wujud Memaknai Hari Lahir Pancasila

Catatan:  Wahyu Eko Setiawan *)

Ketika merayakan sesuatu, entah itu hari ulang tahun atau hari besar lainnya, banyak yang terjebak dengan euforianya semata-mata. Lantas menjadi latah. Ikut-ikutan. Hanya ramai pada bungkusan atau kemasan. Baik dalam bentuk image, foto, video atau lainnya. Yang penting bisa ikut-ikutan euforianya. Lupa substansi. Sejarahnya gak ngerti. Masa bodoh implementasi. Pokoknya ikut hore-hore saja. Yang penting ikut-ikutan hepi-hepi. Setelah acaranya selesai, maka bubar sudah euforianya. Berganti-ganti dengan euforia yang lainnya. Ya, cuma bergonta-ganti momentum dan euforianya belaka. Hidup jadi miskin arti. Yang ada cuma euforia hepi-hepi. Akhirnya, hampa makna. Seolah-olah ramai dan bahagia, tetapi sebenarnya tak tentu arah dan hampa makna. Tapi, euforia memang bisa jadi candu. Dan saat ini, semakin banyak orang yang kecanduan euforia. Layaknya beragam jenis candu, yang didapatkan pada akhirnya hanya semu. Fatamorgana.

Sebuah organisasi sosial yang bernama Lingkar Sosial (lingkarsosial.org), yang sejak lebih dari sepuluh tahun terakhir terus konsisten bergerak dan berkarya, mempunyai paradigma yang berbeda perihal Hari Lahir PANCASILA. Bahwa sesungguhnya, di Indonesia ini, Pancasila sudah terlahir setiap hari di tengah-tengah seluruh Bangsa Indonesia. Dari Sabang sampai Merauke, dari setiap ujung-ujung dan tepi-tepi, serta garis perbatasan NKRI, Pancasila sudah terlahir setiap hari. Dalam tindakan, budaya, perilaku, adat istiadat, keragaman yang Berbhinneka Tunggal Ika, dan lain-lainnya.

Sejak Pancasila ditetapkan sebagai Dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia, memang sudah banyak yang berusaha membongkarnya. Tapi apa yang terjadi? Justru mereka yang berusaha membongkar Pancasila sebagai dasar NKRI, akhirnya tumbang dan binasa. Pancasila justru semakin kokoh dan tak tergoyahkan sampai detik ini. Pancasila adalah Dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bukan pilarnya. Meskipun ada upaya mendown grade Pancasila sebagai pilar NKRI, tetapi kelak pada akhirnya juga akan menginsyafi kesalahannya. Karena Pancasila itu Keramat & Ajimat dari Para Leluhur seluruh Bangsa Indonesia. Siapapun yang merusaknya, pasti kuwalat dan dilaknat sampai wafat.

Membumikan Pancasila, seharusnya bukan hanya ketika bereuforia merayakan Hari Lahir Pancasila saja. Tetapi harus setiap hari. Dalam setiap tindakan, perbuatan dan pergerakan. Oleh karena itu, Lingkar Sosial (Linksos/ lingkarsosial.org) menginisiasi Sekolah Warga Inklusi untuk lebih membumikan Pancasila. Ini adalah implementasi dari Jalan Ideologis yang riil dan kongkrit. Merakyat dan membumi. Hadir langsung di tengah-tengah rakyat. Menangis dan tertawa bersama mereka semuanya. Sekolah Warga Inklusi (SWI) akan mulai dibuka pada hari ini, Selasa tanggal 1 Juni 2021, pukul 09.00 WIB, di Bengpro, Perum Bedali Indah, Jl. Pisang Kipas C5 No. 22 Bedali, Lawang, Kabupaten Malang. Sekolah Warga Inklusi (SWI) ini terbuka untuk umum, gratis dan bebas berbudaya. Berbhinneka Tunggal Ika.

Untuk Informasi dan Kerjasama lebih lanjut, bisa langsung kontak dengan Sam Ken Kerta di nomer HP/ WA 0857 6463 9993.

 

*) Penulis adalah pegiat budaya, UMKM, dan sekolah embongan Kota Malang

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *