Empower Spectrum adalah sub program perpaduan dari Difabel Pecinta Alam (Difpala) dan Omah Difabel yang berfokus pada kegiatan alam dan ekraf untuk penyandang autisme. Difpala merupakan program pendidikan dan pelatihan difabel untuk mendaki gunung, sedangkan Omah Difabel merupakan pusat inkubasi wirausaha yang memberikan pelatihan, pembiayaan kelompok UMKM, serta dukungan pemasaran dan legalitas.
Difpala dan Omah Difabel dibentuk tahun 2020 sebagai respon pandemi untuk membantu penyandang disabilitas pulih secara ekonomi dan lingkungan. Kedua program tersebut berlaku untuk semua ragam disabilitas termasuk autisme. Namun khususnya program Omah Difabel, penyandang autisme mulai bergabung pada tahun 2025 tetapi belum masif.
Hingga saat ini, kegiatan Difpala dan Omah Difabel berjalan baik dan berkelanjutan. Khususnya program Omah Difabel, termauk didalamnya Empower Spectrum, berpusat di Unit Layanan Disabilitas (ULD) Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang, serta di Gedung Malang Creative Center (MCC), Kota Malang.
Tujuan, Pendekatan dan Manfaat Empower Spektrum
Empower Spectrum bertujuan membuka akses kehidupan yang lebih baik bagi penyandang autisme melalui kegiatan lingkungan dan ekonomi. Program ini berangkat dari kenyataan bahwa banyak penyandang autisme memiliki kapasitas berkembang, tetapi belum selalu menemukan lingkungan yang sesuai dengan kebutuhan sensorik dan ritme belajar mereka.
Empower Spectrum menawarkan dua pendekatan utama: kegiatan mendaki gunung dan pengembangan keterampilan ekonomi kreatif melalui produksi keset dan batik ciprat. Keduanya dipilih bukan sekadar aktivitas sosial, tetapi sebagai media latihan regulasi diri, fokus, disiplin, dan partisipasi yang lebih nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Manfaat kegiatan Empower Spectrum meliputi manfaat kesehatan, ekonomi, dan sosial. Manfaat kesehatan, mendaki gunung dan kegiatan ekraf membantu penyandang autisme dalam meregulasi emosi dan fokus.
Secara ekonomi, penyandang autisme mendapatkan upah kerja sesuai kapasitas produksi yang dihasilkan. Sedangkan manfaat sosial, penyandang autisme berkesempatan melatih diri berinteraksi dengan lingkup masyarakat yang lebih luas.
Menjawab Tantangan Oversensori
Sebagian penyandang autisme mengalami oversensori, yaitu kondisi ketika sistem sensorik merespons rangsangan secara berlebihan. Suara ramai, cahaya terang, perubahan lingkungan mendadak, atau banyaknya percakapan dalam satu ruang dapat menimbulkan kelelahan sensorik. Dalam situasi seperti itu, ruang kelas, tempat kerja terbuka, atau kegiatan formal sering menjadi tantangan yang tidak terlihat oleh banyak orang.
Karena itu, persoalan utama sering bukan pada kemampuan individu, melainkan pada lingkungan yang belum cukup adaptif. Banyak penyandang autisme sebenarnya mampu belajar dan bekerja, tetapi memerlukan ruang yang lebih terstruktur, dapat dipahami, dan tidak memberi tekanan sensorik berlebihan.
Kondisi ini juga terlihat dari minimnya kehadiran penyandang autisme dalam kegiatan publik. Meski berbagai seminar dan diskusi tentang autisme rutin digelar, keterlibatan penyandang autisme sendiri sering kali masih terbatas. Bagi sebagian individu autistik, ruang seminar justru menghadirkan tantangan sensorik: suara pengeras, lampu terang, banyak percakapan, dan durasi panjang dapat menimbulkan kelelahan.
Karena itu, kebutuhan hari ini bukan hanya memperbanyak forum diskusi, tetapi menghadirkan ruang praktik yang lebih dekat dengan kehidupan nyata.
Relevansi Kegiatan Alam bagi Penyandang Autisme
Dalam konteks inilah kegiatan alam terbuka menjadi relevan. Sejak tahun 2020, program Difpala telah melibatkan sekitar 15 penyandang autisme dengan frekuensi latihan rata-rata satu kali setiap bulan. Jumlah ini memang masih terbatas, namun menunjukkan bahwa aktivitas luar ruang dapat diikuti secara konsisten ketika dilakukan dengan pendampingan bertahap.1
Lingkungan alam memberi kualitas sensorik yang berbeda: lebih terbuka, ritmis, dan relatif minim tekanan sosial. Aktivitas berjalan, mengatur napas, mengikuti jalur, dan menyesuaikan diri dengan medan membantu membangun fokus, kestabilan emosi, dan daya tahan. Dalam konteks ini, mendaki gunung bukan sekadar olahraga, tetapi latihan regulasi diri dan ketahanan.
“Pendakian membuat anak-anak lebih tenang, tidak mudah tantrum, lebih terkontrol, dan tidurnya nyenyak. Mereka juga senang dan tidak pernah bosan mendaki,” ujar Robi, salah satu pendamping dari Panti Karya Asih Lawang.
Penyandang Autisme dalam Aspek Ekonomi Kreatif
Dalam aspek keterampilan produktif, penyandang autisme dampingan LINKSOS pernah mengikuti kegiatan membatik ciprat dalam format pemberdayaan berbasis event dan mampu mengikuti proses dengan baik. Pengalaman ini menunjukkan bahwa membatik ciprat lebih memungkinkan dikembangkan dibanding aktivitas produksi yang menuntut pola teknis yang rumit.2
Karakter membatik ciprat yang ekspresif, fleksibel, dan tidak bergantung pada urutan kerja yang seragam cenderung lebih mudah diterima oleh peserta dengan kebutuhan sensorik tertentu.
Untuk penyandang autisme yang lebih stabil, Empower Spectrum menawarkan kegiatan membuat keset. Meski demikian, pengembangan keterampilan ekonomi kreatif ini masih berada pada tahap konseptual dan memerlukan uji praktik lebih lanjut.
“Membatik ciprat merupakan salah satu kegiatan ekraf yang selama ini berhasil dilakukan teman-teman disabilitas, termasuk penyandang autisme, sehingga ini akan terus kita kembangkan. Namun untuk keterampilan lainnya seperti membuat keset, produk kuliner, seni, dan lainnya juga akan kami coba sesuai dengan minat dan kesukaan mereka,” terang Widi Sugiarti selaku Manager Omah Difabel.”
Persoalan Data Penyandang Autisme
Secara global, kebutuhan layanan autisme jauh lebih besar daripada yang terlihat di ruang publik. Menurut World Health Organization, sekitar 1 dari 100 anak berada dalam spektrum autisme. Di Indonesia, angka 2,4 juta sering digunakan dalam berbagai referensi layanan disabilitas sebagai estimasi populasi autisme nasional.3
Namun pada tingkat daerah, data masih sangat terbatas. Di kawasan Malang Raya yang meliputi Kabupaten Malang, Kota Malang, dan Kota Batu, hanya Kota Malang yang pernah menyajikan angka autisme secara terbuka, yaitu 575 orang berdasarkan data layanan sosial.4
Jika dibandingkan dengan jumlah penduduk Malang Raya yang mencapai jutaan jiwa, angka tersebut menunjukkan masih lebarnya kesenjangan pendataan. Angka 575 lebih menggambarkan individu yang terjangkau layanan, bukan keseluruhan populasi autisme yang hidup di masyarakat.
Hak Pendataan Penyandang Autisme yang Belum Terpenuhi
Selain itu, hak pendataan penyandang autisme juga belum terpenuhi. Format pendataan dari Kementerian Dalam Negeri yaitu Formulir F1.01 – yang digunakan oleh Dispendukcapil di seluruh Indonesia – belum memuat ragam disabilitas mental hambatan perkembangan, termasuk autisme di dalamnya.
Formulir F1.01 hanya memuat tiga ragam disabilitas, yaitu cacat fisik, cacat mental, serta cacat fisik dan mental, yang mengacu pada UU Nomor 4 Tahun 1997 tentang Penyandang Cacat yang sudah tidak berlaku. Artinya form tersebut sudah kadaluarsa dan harus diganti.5
UU Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas, mengklasifikasi ragam disabilitas menjadi lima yaitu ragam disabilitas fisik, intelektual, mental, dan sensorik, serta disabilitas ganda. Penyandang autisme menurut undang-undang ini termasuk disabilitas mental hambatan perkembangan.
Dari Ruang Bicara Menuju Ruang Hidup
Hari Autisme Sedunia kerap diwarnai dengan berbagai seminar dan diskusi. Hal ini baik untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap autisme. Namun sayangnya, dari waktu ke waktu nasib penyandang autisme masih belum banyak berubah. Mereka masih tersembunyi dan termarginalkan dari kehidupan sosial dibandingkan dengan ragam disabilitas yang dikenal masyarakat melalui komunitas-komunitas.
Pada akhirnya, pembahasan tentang autisme perlu bergeser dari sekadar ruang bicara menuju ruang hidup. Ukuran keberhasilan bukan hanya seberapa sering autisme dibahas, tetapi seberapa jauh penyandang autisme benar-benar memperoleh ruang untuk bergerak, belajar, dan berkembang dalam kehidupan sosialnya sendiri.
Kami mengajak masyarakat luas untuk mendukung program Empower Spectrum. Kami memerlukan dukungan alat dan bahan pelatihan. Selain itu, keberadaan psikolog, psikiater, dokter dan terapis juga sangat penting bagi penyandang autisme dari sisi kesehatan medis.
- Difpala: Manfaat Kegiatan Alam Terbuka bagi Penyandang Autisme [↩]
- Batik Ciprat Disabilitas Karya 150 Difabel di Wisata Petik Madu Lawang [↩]
- AUTISME PADA ANAK: MENGENAL LEBIH DEKAT UNTUK DUKUNGAN YANG LEBIH BAIK [↩]
- Dinsos P3AP2KB Kota Malang Gelar Autism Summit 2024 [↩]
- Form F-1.01 Tidak Relevan untuk Mendata Penyandang Disabilitas [↩]
