Sejarah Pembentukan Difpala

2 minutes, 6 seconds Read
Listen to this article

Difabel Pecinta Alam atau Difpala dibentuk Yayasan Lingkar Sosial Indonesia (LINKSOS) di masa pandemi, tepatnya di bulan Juli 2020 lalu. Awal mula kegiatan Difpala sebagai upaya menjaga kesehatan dan meningkatkan kemampuan adaptasi terhadap virus corona.

 

Melawan ketakutan

Pendiri Lingkar Sosial Indonesia (LINKSOS), Ken Kerta memahami pandemi sebagai fenomena alam, saat manusia harus beradaptasi untuk dapat bertahan hidup.  Maka pada prinsip menghadapi pandemi itu dengan meningkatkan kemampuan adaptasi bukan ketakutan.

Prinsip itulah yang kemudian melahirkan gerakan baru, bahwa di saat sebagian besar orang menutup diri karena takut terkena Covid-19, anggota Difpala (sebelumnya masih bernama Pokja Pemuda) justru keluar rumah untuk menghirup udara segar di pegunungan. Difpala juga berbagi paket sembako bagi ratusan penyandang disabilitas yang terdampak pandemi.

Meski demikian, anggota Difpala taat pada protokol kesehatan. Mereka bahkan aktif sebagai agen informasi dan sosialisasi vaksinasi Covid-19. Atasnama Lingkar Sosial Indonesia, bekerjasama dengan Stafsus Presiden Angkie Yudistia sebagai mitra percepatan vaksinasi Covid-19 bagi penyandang disabilitas di Jawa Timur tahun 2021.

 

Kesempatan untuk berdaya

Jauh sebelum masa pandemi, masyarakat penyandang disabilitas telah mengalami berbagai isolasi sosial akibat stigma. Di seluruh bidang mereka mengalami keterbatasan partisipasi, termasuk di bidang pelestarian alam dan lingkungan. Terlebih penyandang disabilitas akibat kusta, mereka mendapatkan stigma ganda dan mengalami eksklusi sosial.

Ajakan LINKSOS untuk keluar rumah demi menghirup udara segar, disambut baik oleh sebagian penyandang disabilitas. Bagi mereka ini bukan sekedar menghirup udara segar, melainkan udara kebebasan dan kesempatan untuk lepas dari berbagai isolasi sosial.

Latar belakang inilah yang kemudian mendorong pembentukan Difpala.  Atas dasar respon lingkungan dan kebutuhan peningkatan kemampuan adaptasi terhadap pandemi yang kemudian dipadu dengan isu stigma disabilitas dan pelestarian lingkungan hidup.

 

Peran perempuan dan kekuatan inklusi

Sejarah pembentukan Difpala tak lepas dari peran perempuan. Sebut saja Ibu Widi, Ibu Yayuk dan Ibu Eko. Ketiga perempuan perkasa itu adalah Kader Posyandu Disabilitas. Dengan kesabarannya mereka melatih dan mendampingi orientasi mobilitas dan lingkungan, melatih keseimbangan serta menguatkan psikologis anggota Difpala. 

Awalnya mereka juga tidak mengerti secara teori bagaimana melakukan pendampingan penyandang disabilitas. Catatannya, para perempuan tersebut tidak memiliki latar belakang pendidikan khusus tentang disabilitas. Sehari-hari mereka adalah ibu rumah tangga, sekaligus Kader Posyandu  Disabilitas dan pengurus PKK Desa. 

Dan waktu terus berjalan. Anak-anak Difpala yang dulu dilatih, kini telah menjadi pelatih dan pendamping. Kekuatan inklusi di tubuh Difabel Pecinta Alam sangat memungkinkan siapapun mengalami peningkatan karir organisasi. Di antaranya dalam kegiatan pendakian, definisi pendamping adalah seseorang yang memiliki kemampuan mitigasi, navigasi dan berpengalaman dalam pendakian. Menjadi pendamping/pelatih di Difpala bukan soal disabilitas dan non disabilitas, melainkan berbasis kemampuan. 

 

(admin)

 

 

Similar Posts

Skip to content