Si Difa: Dari Buku Catatan ke Basis Data Posyandu Disabilitas

Pelatihan Si Difa: Dari Buku Catatan ke Basis Data Posyandu Disabilitas

2 minutes, 19 seconds Read
MALANG — Fakultas Psikologi UMM dan LINKSOS kembali menggelar pelatihan Si Difa, aplikasi pendataan Posyandu Disabilitas, Selasa, 27 Januari 2026 di Ruang Rapat Kantor Desa Bedali, Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang.

Pelatihan bertajuk “Integrasi Teknologi dan Psikologi: Sosialisasi Website Si-DiFa serta Peningkatan Komitmen Kader Posyandu Disabilitas Malang.” Kegiatan ini menjadi langkah konkret untuk memperkuat layanan Posyandu Disabilitas melalui digitalisasi pendataan sekaligus penguatan kapasitas kader. Peserta pelatihan memliputi Kader Posyandu Disabilitas dari Kecamatan Lawang, Pakisaji dan Polehan, serta tenaga kesehatan Puskesmas Lawang. 

Digitalisasi layanan publik sering dibicarakan, namun tidak selalu menyentuh ruang-ruang pelayanan komunitas, seperti Posyandu Disabilitas misalnya. Mereka masih mencatat secara manual dengan risiko data hilang, tidak cepat mengakses, dan lainnya.

Merapikan dan Memudahkan Akses Data

 

Di tingkat komunitas, pendataan penyandang disabilitas selama ini masih banyak dilakukan secara manual. Kader mencatat di buku, menulis di lembar formulir, atau menyimpan dokumen secara terpisah.

Pola ini memang lahir dari semangat pelayanan, tetapi menyimpan persoalan besar: data menjadi rentan tidak konsisten, mudah hilang, sulit diperbarui, dan tidak mudah ditarik sebagai bahan evaluasi.

Berangkat dari kebutuhan itu, Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bersama Yayasan Lingkar Sosial Indonesia (LINKSOS) meluncurkan Si Difa – aplikasi pendataan penyandang disabilitas yang fokus pada layanan Posyandu Disabilitas.

“Di lapangan, kader itu sebenarnya sudah bekerja luar biasa. Tapi kalau datanya masih tercecer, tidak rapi, dan tidak mudah ditarik, maka program sulit dievaluasi,” ujar Ken Kerta, founder LINKSOS.

Padahal, dalam layanan disabilitas, data bukan sekadar angka. Data berfungsi sebagai peta kebutuhan—mulai dari jenis hambatan, kebutuhan pendampingan, potensi yang bisa dikembangkan, hingga riwayat layanan atau terapi.

Si-DiFa: Sistem Informasi Disabilitas untuk Posyandu Disabilitas

Untuk menjawab tantangan tersebut, UMM bersama LINKSOS memperkenalkan Si-DiFa, singkatan dari Sistem Informasi Disabilitas. Si-DiFa merupakan aplikasi berbasis web yang dirancang khusus untuk mendukung pendataan dan pelayanan Posyandu Disabilitas secara digital dan terintegrasi.

“Si-DiFa tidak hanya menjadi alat pendataan, tetapi juga menjadi pintu masuk untuk memperkuat layanan inklusif. Melalui sistem digital, kader posyandu dapat memiliki basis data yang lebih rapi dan akurat, sekaligus memudahkan koordinasi dengan pihak desa maupun layanan kesehatan,” ujar Ketua Tim Pengabdi dari Fakultas Psikologi UMM, May Lia Elfina, S.Psi., M.Psi., Psikolog,

Pengembangan Si-DiFa merupakan bagian dari program hibah BIMA 2025 (Pengabdian Berbasis Masyarakat) dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, yang mendorong perguruan tinggi menghadirkan solusi nyata atas problem sosial di masyarakat.

Platform Layanan yang Inklusif

Yang membedakan Si-DiFa dari pendataan konvensional adalah orientasinya yang lebih luas. Sistem ini tidak hanya menyimpan data, tetapi dirancang untuk mendukung kerja kader dan pengambil kebijakan dengan fitur yang lebih komprehensif.

Selain pendataan, Si-DiFa juga menyediakan materi edukasi inklusi bagi kader dan masyarakat.Terdapat pula kanal informasi dan lowongan kerja ramah disabilitas, sebagai bagian dari upaya pemberdayaan sosial.

Dengan pendekatan ini, Si-DiFa diarahkan menjadi lebih dari sekadar alat administrasi, melainkan platform layanan inklusif berbasis data yang bisa mendukung perencanaan program, penguatan layanan kesehatan Posyandu Disablitas.

Similar Posts

Skip to content