Cerita dari Balik Seleksi Ketat Pelatihan WikiInklusi di Malang

Cerita dari Balik Seleksi Ketat Pelatihan WikiInklusi di Malang

3 minutes, 38 seconds Read
Di balik layar Wikipedia yang kita baca setiap waktu, ada perjuangan sunyi untuk membuatnya bisa diakes oleh orang di seluruh dunia—dan kali ini, suara itu datang dari penyandang disabilitas bersama ANG Green dan LINKSOS.
Ken Kerta
Ken Kerta
Founder Lingkar Sosial Indonesia

Malang Creative Center (MCC) bakal menjadi saksi bisu, pada Sabtu pagi tanggal 2 Agustus 2025 nanti, akan berkumpul sekelompok orang yang berbeda-beda tapi menyatu dalam satu tujuan: menyunting dunia digital agar lebih inklusif.

Mereka bukan sembarang peserta. Dari 66 pendaftar, hanya 21 orang yang terpilih dalam pelatihan WikiInklusi — sebuah pelatihan menyunting Wikipedia yang dirancang khusus untuk penyandang disabilitas dan pendamping mereka.1

Program Coordinator Wikimedia Foundation, Arin Khurota A’yun, S.P menjelaskan bahwa pelatihan WikiInklusi — kerjasama ANG Green dan Lingkar Sosial Indonesia (LINKSOS) — merupakan bagian dari kampanye global Wikimedia Foundation, California, USA, bertajuk #WikiForHumanRights, “Kampanye ini bertujuan untuk mendorong dokumentasi terbuka tentang hak asasi manusia yang berkaitan erat dengan isu lingkungan hidup, perubahan iklim, dan akses terhadap pengetahuan yang relevan dan inklusif secara lokal,” ujarnya.

Melewati Seleksi dengan Kemampuan dan Semangat

Seleksi dilakukan dengan ketat dan adil. Meski terdapat data pendaftar tentang pendidikan formal dan pengalaman menulis, namun hal tersebut tidak menjadi pertimbangan utama. Tim penyeleksi fokus pada kemampuan menulis dan motivasi kuat untuk berkontribusi di Wikipedia.

Duduk di balik layar seleksi adalah dua sosok dengan latar belakang berbeda namun visi yang sama. Kertaning Tyas — atau Ken Kerta, pendiri LINKSOS — jurnalis warga yang aktif menulis di media sosial dan blog.

Kemudian Cakrahayu Arnavaning Gusti — koordinator Pusdiklat Difabel Pecinta Alam — seorang sarjana pendidikan Bahasa Inggris dari Universitas Brawijaya. Bersama, mereka menyaring cerita, semangat, dan potensi dari para pendaftar.

Hasilnya: 21 peserta lolos, dengan dominasi penyandang disabilitas (83,3%) dan perempuan (57,6%). Sebuah refleksi bahwa inklusivitas bukan sekadar jargon, melainkan prinsip kerja yang nyata.

Beragam, Tapi Satu Tujuan

Peserta yang lolos datang dari latar ragam disabilitas. Ada tujuh orang tunanetra yang siap menuliskan dunia dari perspektif gelap yang penuh cahaya makna. 

Ada pula tiga penyandang disabilitas pendengaran, serta masing-masing satu orang dari disabilitas fisik, intelektual, mental perkembangan (seperti autisme atau ADHD), dan mental psikososial (seperti bipolar dan skizofrenia). 

Tak ketinggalan, tujuh orang non disabilitas pun ikut serta — mereka bukan penyandang disabilitas, tapi memiliki kepedulian, dan ingin menjadi bagian dari perubahan.

Lebih lengkap, prosentase ragam disabilitas peserta meliputi: disabilitas netra 7 orang (33,33%), disabilitas pendengaran (Tuli) 3 orang (14,29%), disabilitas mental perkembangan 1 orang (4,76%), disabilitas mental psikososial 1 orang (4,76%), disabilitas fisik 1 orang (4,76%), disabilitas intelektual 1 orang (4,76%), serta non disabilitas (pendamping) 7 orang (33,33%).

Yang unik adalah keragaman tingkat pendidikan mulai dari SD hingga S2 atau lebih. Dengan rincian S2 atau lebih 3 orang (14,29%), S1 9 orang (42,86%), D1/D2/D3 1 orang (4,76%), SMA/SMK 6 orang (28,57%) SMP 1 orang  (4,76%), dan SD 1 orang (4,76%). Keragaman ini menunjukkan bahwa tingkat pendidikan tidak sepenuhnya mempengaruhi minat dan kemampuan literasi seseorang. 

Bukan Sekadar Pelatihan, Tapi Ruang Aman

ANG Green dan LINKSOS memahami bahwa akses bukan hanya soal gedung berlantai datar. Akses adalah suasana, dukungan, dan keleluasaan untuk menjadi diri sendiri. Karena itu, selama pelatihan nanti, disediakan berbagai fasilitas aksesibilitas diantaranya penerjemah Bahasa Isyarat untuk peserta Tuli, subtitel langsung (live caption) untuk mendukung komunikasi dan materi dalam format aksesibel.

Selain itu, penyelenggara juga menyediakan pendamping bagi peserta yang membutuhkan, ruang tenang, tempat bernaung bagi yang perlu jeda dari hiruk pikuk, serta waktu istirahat tambahan agar semua bisa mengikuti pelatihan tanpa tekanan. 

Semua itu disiapkan bukan sebagai layanan tambahan, melainkan bagian dari standar inklusivitas. Hal ini sesuai dengan Standar 4K dalam even difabel wajib diperhatikan saat menyelenggarakan even apapun, yaitu keamanan, kenyamanan, kemudahan, dan kemandirian.2

Menggenggam Manfaat, Menjadi Kontributor Dunia

Bagi peserta, pelatihan ini bukan hanya belajar menyunting Wikipedia. Mereka juga akan mendapatkan merchandise eksklusif seperti tumbler LED, payung, dan seminar kit. Tapi lebih dari itu, mereka akan mendapatkan sertifikat resmi dari ANG Green dan Wikimedia, serta kesempatan tampil dalam dokumentasi internasional Wikimedia Foundation.

Dan mungkin yang paling penting: peluang jangka panjang menjadi kontributor Wikipedia dan proyek Wikimedia lainnya. Sebuah kesempatan untuk memperkaya pengetahuan dunia dengan perspektif inklusif—perspektif yang selama ini sering kali tidak terwakili.

Akhir Kata: Wikipedia yang Ramah untuk Semua

Dunia digital sedang berubah. Pelan tapi pasti, suara-suara yang dulu dikecilkan kini mulai terdengar. WikiInklusi adalah salah satu jalannya. Ia bukan sekadar pelatihan, tapi perlawanan terhadap narasi tunggal. Ini tentang membuka ruang agar semua orang — tanpa kecuali — bisa menyunting, membaca, dan merasa diwakili dalam ensiklopedia terbesar dunia.

Karena pengetahuan adalah milik bersama, dan setiap orang berhak menyumbang serta mengaksesnya — tanpa hambatan, tanpa batas.

  1. Wikipedia Ensiklopedia Bebas []
  2. Standar 4K dalam Event Difabel []

Similar Posts

Skip to content