Belajar dari Semangat Teman-teman Difabel

Oleh: Puji Nurkhasanah

Minggu, 20 September 2020 menjadi salah satu pengalaman terbaik bagi penulis. Hal ini dikarenakan penulis yang merupakan Mahasiswa Sosiologi FISIP UB berkesempatan untuk berpartisipasi dalam kegiatan penyaluran bantuan sosial. Kegiatan kali ini dilaksanakan oleh Sociology Education Care x Dedikasi Kepada Masyarakat, salah satu program kerja Himpunan Mahasiswa Sosiologi. Dalam kesempatan kali ini penulis dan tim didampingi secara langsung oleh Komunitas Lingkar Sosial Malang untuk membagikan bantuan sosial kepada saudara-saudara difabel yang terdampak pandemi Covid-19 di wilayah Kota Malang.

Sebelum melakukan penyaluran bantuan, kami berkumpul di Sekretariat Bersama Sekolah Budaya Tunggulwulung Jl. Sasando No.09, Tunggulwulung, Kec. Lowokwaru, Kota Malang. Dalam kegiatan kali ini, tidak semua anggota hadir mengikuti rangkaian acara. Hal ini dikarenakan kondisi Covid-19 yang masih beresiko apabila dihadiri anggota yang banyak. Dalam penyaluran ini sendiri, kami tetap menerapkan protokol Covid-19 yang telah diatur oleh pemerintah. Protokol yang kami laksanakan antara lain adalah menggunakan masker, hand sanitizer, menjaga jarak, serta tidak berlama-lama dalam melakukan penyaluran bantuan.

Penyaluran bantuan sosial ini terbagi menjadi di 3 (tiga) wilayah di Kota Malang, yakni di daerah Kecamatan Blimbing, Kecamatan Sawojajar, dan Kecamatan Kedung Kandang. Namun, kali ini penulis akan lebih membahas kegiatan penyaluran bantuan sosial untuk difabel di kawasan Blimbing.

Rumah pertama yang kami tuju ialah rumah Bu Anita, salah satu teman difabel tuna daksa. Saat pertama kali mendatangi kediaman beliau, terlihat antusiasme yang ditunjukkan oleh Bu Anita beserta keluarga. Antusiasme Bu anita sangat terlihat dari cara beliau berbicara. Meskipun dengan penyampaian yang kurang begitu lancar sebagai seorang difabel, hal ini membuat penulis dan tim merasa tersentuh oleh ucapan beliau. Dengan sekuat tenaga beliau mengucapkan terima kasih berkali lipat kepada kami. Beliau juga mengungkapkan rasa senangnya dengan ulasan senyum yang tampak manis. Hal lain yang membuat penulis semakin takjub ialah semangat dan kegigihan beliau dalam berkarya hingga mampu menerbitkan beberapa karya novel.

Tujuan penyaluran bantuan sosial selanjutnya ialah ke salah satu teman difabel yang pada hari itu sedang mengais rejeki dengan berjualan koran di perempatan Galunggung. Saat ditemui, Pak Bagus sedang berada di tengah jalan, meneriakkan dagangan yang ia bawa dengan bersemangat. “Koran, koran”, teriaknya pada setiap kendaraan yang sedang berhenti di kawasan lampu lalu lintas. Sama dengan Bu Anita, penulis juga tak melihat tanda lelah ataupun mengeluh di wajah Pak Bagus. Selalu tersenyum dan memberikan energi positif kepada penulis dan tim yang hadir.

Dengan adanya kegiatan seperti ini penulis sangat beruntung masih diberikan kesempatan untuk bisa belajar dan berbagi kepada saudara-saudara difabel kita. Penulis sangat salut terhadap cara mereka tidak menampakkan keluhan dan mungkin rasa sakit yang dialami. Justru di depan kami mereka senantiasa memberikan senyuman, kalimat positif, dan hal baik lainnya. Seakan mengingatkan kepada kami, bahwa meskipun dengan kondisi yang terlihat terbatas tidak akan memudarkan semangat yang luar biasa untuk berkarya dan bergiat. Sangat inspiratif sekali teman-teman.

* ) Penulis adalah Mahasiswa Sosiologi FISIP UB

Facebook Comments
WhatsApp chat