Penulis: Anita FN Sunardi
Memutar sebuah video melalui chat Whatsapp yang dikirim oleh Pembina Linksos, membawa ingatan ini kembali ke masa itu. “Mbak, njenengan saya minta menjadi salah satu pengisi talent di acara peringatan HDI besok ya.” Suara Pak Ken teringat lagi di telinga. Seperti mimpi. Meski ragu mengiringi, kepala ini hanya bisa mengangguk pelan. Hari itu, pertemuan rutin Linsos diadakan di salah satu rumah anggotanya.
2018, adalah awal langkahku sebagai seorang penulis. Tiga buku antologi puisi solo dan satu antologi gabungan terbit. Lamunan kembali menelusuri detik pada hari itu. Hening. Tatapanku menurun, memandang pijakan kursi roda. Menit berlalu, terasa ada lengan lembut merengkuh pundakku. Netra ini beralih ke samping kanan. Bu Widi, Istri Pak Ken tersenyum ramah. Seolah mengerti isi benakku, beliau berucap, “Ndak usah khawatir, nanti yang membacakan puisinya Laras, Anak saya. Mbak Anita hanya mendampinginya di atas panggung. Siapkan saja puisi yang akan dibacakan.” Mendengar hal itu, aku mengangguk lagi. Senyum perlahan mengembang di bibir ini.
Seorang difabel daksa cerebral palsy memang sering mengalami kesulitan dalam berkomunikasi secara langsung. Jika orang tidak terbiasa berinteraksi, pasti merasa kesulitan. Sehingga kadang membutuhkan pendamping sebagai penerjemah lisan. Begitu juga aku. Tapi alhamdulillah, Bu Widi memberikan solusi terbaik. Sekarang yang harus kulakukan adalah mempersiapkan puisi yang terbaik.
Malam telah larut, diri ini masih saja berkutat dengan deretan buku. Dari tiga buku antologi puisi yang baru saja terbit, terpilih tiga puisi yang kurasa cocok dibacakan dalam acara besok. Tidak ada majas, diksi yang kutulis hanya menggunakan kata keseharian. Memang, sengaja memilih puisi sederhana, karena yakin tidak semua orang awam mengerti apa itu majas. Dan lagi, tangan ini lebih suka menulis yang sederhana, lebih realistis, tapi penuh makna.
Pagi datang, mentari tersenyum menghias cakrawala. Kesibukan panitia begitu tampak, mungkin dari semalam. Aku didampingi Mama, menata buku-buku di meja, bergabung dengan hasil karya dari teman-teman HWDI lainnya yang menjadi peserta pameran. Selain memamerkan hasil kerajinan tangan, event peringatan HDI ini juga menampilkan talent berbakat teman-teman difabel dari berbagai ragam disabilitas.
Seraya menunggu giliran tampil di atas panggung, aku bertemu dengan Mbak Siska Budianti. Selain Kakak kelas di sekolah SLB/D YPAC Cab. Malang, beliau juga wakil ketua Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia HWDI Cab. Malang. Dan Mbak Siska memperkenalkanku dengan Mas Ugik Arbanat. Beliau seorang musisi Kota Malang. “Mas, ini Anita. Dia pintar menulis puisi,” kata Mbak Siska dengan santai. Tatapannya mengarah padaku. Diri ini balas memandang dengan malu.
“O, iya tah?” Mas Ugik berucap tak percaya. Pria berpenampilan nyentrik khas seniman, berambut sebahu itu beralih pandang ke arahku. “Wah, kebetulan ya. Kita bisa kolaborasi,” lanjutnya dengan nada riang. Aku menatap beliau tak mengerti. “Mbak Anita, coba tulis puisi bertema kehidupan difabel. Empat bait saja. Nanti saya aransemen untuk dijadikan sebuah lagu. Bagaimana?” jelas beliau kemudian. Ragu lagi-lagi menggulung rasaku. Tapi tatkala menoleh ke arah Mbak Siska, keyakinan ini menyembul pelan. Anggukan dari Mbak Siska membuat rasa percaya diriku mengembang. Tak ada yang bisa kulakukan, selain menyanggupi permintaan Mas Ugik tersebut.
Dua minggu berselang setelah pertemuan tersebut, melalui chat, kukirimkan puisi dengan judul Pilihan Tuhan. Puisi ini sebuah refleksi dari semangat juang seorang difabel dalam menjalani hidup. Setelah beberapa kali mengalami revisi, akhirnya Mas Ugik berhasil mengaransemen puisi tersebut menjadi syair lagu dengan musik akustik.
Lama menunggu, akhirnya giliranku tiba juga. Dengan berdebar-debar, dibantu oleh Pak Ken, Mama, dan seorang panitia lain, aku yang duduk di kursi roda naik ke atas pentas. Senja hari menjadi saksi. Berada di atas panggung terbuka adalah pengalaman pertama. Tak percaya menggunung. Rasanya, kaki ini ingin berlari tapi tak bisa. Angin yang menyapu wajah, tiada mampu hilangkan maluku. Malu yang bercampur senang, tegang, grogi, bangga, dan bahagia. Meredam demam panggung ini, tatapan kualihkan. Langit senja, mungkin sanggup menolong, memberi sedikit damai. Di samping kiriku kini berdiri Dek Laras, dengan kertas-kertas bertulis puisi di genggaman.
Lantang, penuh penghayatan gadis SMP itu melantunkan kata demi kata. Jiwa polosnya luruh, merasuk ke dalam baris-baris, menggemakan bait-bait tertera. Dek Laras begitu piawai mengaduk rasa penonton. Hingga setiap detik berlalu penuh makna. Hatiku terasa lega, ketika telah berada di luar panggung. Pengalaman luar biasa tak terlupakan. Seperti sepintas mimpi jadi nyata.
Tanpa mereka yang selalu ada di belakang, mendukung, aku bukan apa-apa, bukan siapa-siapa. Prestasi yang kucapai sampai detik ini, tidak untuk dibanggakan. Melainkan disyukuri, dikembangkan, dan dipertahankan. Meski tak akan mudah. Tapi seperti halnya syair lagu Pilihan Tuhan, “jangan menyerah, apalagi putus asa, tetap percaya akan takdir yang ada, pilihan Tuhan tak pernah salah.” Meski dengan segala keterbatasan, aku akan tetap berjuang. Memang, begitulah adanya. Pilihan Tuhan tak pernah salah.
Malang, 26 April 2026
08:28 WIB
