“Siapa besok yang ingin mendaki gunung lagi?” Sebuah pertanyaan dari Widi Sugiarti, Pembina Difpala. “Saya! Saya!’ jawab Frisco, Benlin, Bastian, dan beberapa remaja lainnya dengan antusias di Gunung Wedon, Lawang. Mereka para pendaki dari ragam autisme.
Tahun 2020, di tengah pandemi Covid-19, menjadi awal penyandang autisme terlibat dalam pendakian gunung. Enam penyandang autistime bergabung dengan difabel lainnya mendaki Gunung Banyak, Kota Batu bersama Difabel Pecinta Alam (Difpala). Tak hanya sekali, lima tahun berselang, pada 2025, mereka kini berusia sekitar 20 tahun dan masih konsisten mengikuti kegiatan pendakian.
Difpala merupakan kelompok difabel pecinta alam pertama di Indonesia. Kelompok ini memiliki tiga kegiatan utama, yaitu mendaki (olahraga pendakian dan jelajah alam), menghijaukan (konservasi dan penanaman), serta memberdayakan (pemberdayaan masyarakat, termasuk pengurangan risiko bencana).
Berawal dari Pandemi Covid-19
Difpala berdiri tahun 2019 sebagai respon atas situasi pandemi Covid-19. Pendiri Difpala sekaligus pendiri Lingkar Sosial Indonesia (LINKSOS)—pusat pemberdayaan disabilitas yang berbasis di Malang, Jawa Timur— Ken Kerta dan Widi Sugiarti, melihat pandemi sebagai momentum untuk meninjau kembali hubungan manusia dengan alam — yang banyak rusak oleh manusia itu sendiri.
Kembali ke alam melalui kegiatan hiking, jelajah alam dan penghijauan menjadi pilihan dan ruang pemulihan yang relatif aman, terbuka, dan inklusif. Beberapa penyandang disabilitas dari lintas komunitas dan ragam pun bergabung, termasuk penyandang autisme.
“Mengawali kegiatan ini tidak mudah. Pendakian gunung oleh difabel kerap dianggap tidak lazim dan berisiko tinggi. Apalagi saat pandemi, kegiatan yang melibatkan banyak orang menjadi sorotan. Tantangan terbesar ada pada pendampingan teman-teman autistik. Namun seiring latihan yang dilakukan secara rutin, kesulitan tersebut kini semakin berkurang. Mereka menjadi lebih terlatih dan mampu mengontrol diri dengan lebih baik,” terang Widi.
Difpala dan Pilihan Kegiatan Alam Terbuka dan Manfaat bagi Autisme
Difpala tidak langsung memulai kegiatan di gunung, melainkan secara bertahap melakukan longmarch atau jalan jauh di jalan kebun, hutan buatan, perbukitan, hingga air terjun. Pendekatan bertahap ini penting, terutama bagi penyandang autisme yang memiliki sensitivitas sensorik dan membutuhkan adaptasi lingkungan.1
Difabel dari berbagai komunitas dan wilayah kemudian bergabung, termasuk anak-anak autistik dari Panti Karya Asih. Mereka tercatat sebagai anggota Difpala dan mengikuti kegiatan secara berkelanjutan.
“Pendakian membuat anak-anak lebih tenang, tidak mudah tantrum, lebih terkontrol, dan tidurnya nyenyak. Mereka juga senang dan tidak pernah bosan mendaki,” ujar Robi, salah satu pendamping.
Dalam setiap kegiatan, penyandang autisme mengikuti rangkaian aktivitas yang sama dengan anggota lainnya. Mereka belajar menghidupkan kompor, memasang tenda, bekerja sama dalam tim, serta berkomunikasi dengan lingkungan sekitar. Pola kegiatan yang jelas dan berulang membantu membangun rasa aman dan keteraturan.
Penjelasan Ilmiah: Manfaat Kegiatan Alam Terbuka bagi Autisme
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa aktivitas di alam terbuka membantu penyandang autisme dalam regulasi emosi dan perilaku. Lingkungan alam menyediakan rangsangan yang lebih lembut dan tidak berlebihan—seperti suara air, angin, dan pemandangan hijau— daripada lingkungan perkotaan yang padat dan bising. Kondisi ini membantu menurunkan stres dan kecemasan.2
Studi tentang nature-based interventions juga menemukan bahwa kegiatan luar ruang berkaitan dengan penurunan hiperaktivitas, iritabilitas, dan tantrum, serta peningkatan kemampuan mengontrol diri pada penyandang autisme.
Selain itu, alam menyediakan pengalaman sensorik yang lebih alami dan bertahap—seperti sentuhan tanah, udara segar, dan cahaya matahari—yang mendukung regulasi sensorik, salah satu tantangan utama pada spektrum autisme.3
Alam sebagai Ruang Dukungan Autisme
Sejak 2020 kami memberikan dukungan terhadap teman-teman autism. Tak hanya mendaki gunung, mereka juga bergabung dalam kegiatan kepramukaan untuk melatih disiplin dan mengenalkan dunia pendidikan formal, sebab beberapa diantara mereka tidak pernah mengenyam pendidikan formal,” terang Widi.
Pengalaman Difpala menunjukkan bahwa kegiatan alam terbuka dapat menjadi pendekatan pendukung yang efektif bagi penyandang autisme. Aktivitas ini bukan terapi medis, tetapi ruang pembelajaran dan adaptasi yang membantu regulasi emosi, perilaku, dan sensorik secara alami.
Dengan pendampingan yang tepat dan pendekatan bertahap, alam dapat menjadi ruang yang aman, inklusif, dan bermanfaat bagi penyandang autisme untuk tumbuh lebih tenang dan teratur dalam kehidupan sehari-hari.
