Munir tinggal di Desa Sidodadi, Lawang. Sejak terindikasi mengalami kusta pada tahun 2018, hidupnya sempat terpuruk. Ia kehilangan pekerjaan dan memilih mengurung diri karena rasa malu atas kondisi fisik yang mengalami kecacatan akibat kusta. Stigma sosial membuatnya menarik diri dari lingkungan. Bahkan dirujuk ke rumah sakit pun ia tak mau.
Titik balik terjadi ketika ia mendapat kunjungan rumah dari Ibu Nanik Zainiyah—saat itu tenaga kesehatan Puskesmas Lawang—bersama Lingkar Sosial Indonesia (LINKSOS) tahun 2019. Dari pertemuan tersebut, Munir mulai kembali percaya diri. LINKSOS mengajaknya bergabung dalam kegiatan komunitas dan menawarkan pendampingan wirausaha sebagai jalan pemulihan sosial dan ekonomi.
Kepercayaan diri Munir mulai tumbuh. Selain mulai sering keluar rumah, ia juga sudah mau ke rumah sakit.
Tekad dan Motivasi Munir
Dengan modal tekad, Munir kembali menghidupkan usahanya. Ia memulai produksi kopi bubuk, mengembangkan usaha pembuatan keset dengan dukungan modal dari LINKSOS, serta aktif berjualan pracangan. Ia juga bergabung dalam Posyandu Disabilitas Desa Bedali.
“Sehari-hari saya jualan di pasar-pasar kecil dan mengantar pesanan kebutuhan rumah tangga ke rumah-rumah. Saya juga rutin ke Posyandu Disabilitas Desa Bedali, selain periksa kesehatan, sambil tetap berjualan,” tutur Munir.
Munir juga aktif berkegiatan di Omah Difabel, sentra pelatihan dan produksi kriya LINKSOS. Ia belajar membatik tulis bersama teman-teman Tuli.
Munir kini menjadi tulang punggung keluarga. Ia tinggal bersama ayahnya setelah sang ibu meninggal dunia. Kondisi ini justru menjadi sumber motivasi untuk terus mandiri dan mengembangkan usaha. Ia juga mengikuti pelatihan kewirausahaan di Malang Creative Center (MCC) serta mendapat dukungan dari seorang dokter di RSUD dr. Saiful Anwar yang turut mendorong proses pemulihannya.
Salah satu produk yang paling laris adalah kerupuk miller berbahan singkong. Munir belajar membuatnya langsung dari tetangganya. Selain itu, ia memperoleh penghasilan dari penjualan keset buatan sendiri yang dijual dengan harga terjangkau, mulai Rp10.000, sehingga diminati warga sekitar.
Dukungan Keluarga, Lingkungan dan Komunitas
Seiring berkembangnya usaha, Munir aktif mengikuti pembinaan di Omah Difabel LINKSOS untuk memperkuat kemampuan pemasaran dan pengelolaan keuangan. Kisah Munir menjadi bukti bahwa stigma kusta dapat dilawan, dan keterbatasan bukanlah akhir, melainkan awal dari perjalanan baru yang penuh semangat dan makna.
Hikmah bagi Munir, bahwa kesuksesan diri berawal dari motivasi diri dan dukungan lingkungan. Orang tua, keluarga, tetangga, teman hingga komunitas seperti Posyandu Disabilitas dan LINKSOS — tempat ia bernaung saat ini — menjadi ruang inklusif baginya untuk terus berkembang.
