Public Annual Report 2025 – Laporan Tahunan Lingkar Sosial Indonesia

4 minutes, 33 seconds Read
Tahun 2025 menjadi momentum penting bagi Lingkar Sosial Indonesia (LINKSOS) dalam memperkuat tata kelola, pelaporan dampak, dan akuntabilitas program sebagai organisasi sosial yang terus bertumbuh secara profesional. Sepanjang tahun ini, LINKSOS memperluas jangkauan program sekaligus memperdalam kualitas pendampingan, khususnya melalui pengembangan program Sahabat Cerebral Palsy dan Sahabat Autisme—dua kelompok disabilitas yang selama ini relatif belum terjangkau program pemberdayaan berbasis komunitas.
Ken Kerta
Founder Lingkar Sosial Indonesia

Profil Organisasi

Lingkar Sosial Indonesia (LINKSOS) adalah pusat pemberdayaan disabilitas di Jawa Timur. Berdiri pada tahun 2014, bertujuan membantu masyarakat marginal dan yang mengalami disfungsi sosial termasuk penyandang disabilitas – baik fisik maupun non fisik – dan kelompok rentan lainnya.

Pendiri LINKSOS, Ken Kerta mencetuskan nama Lingkar Sosial sebagai ekosistem yang saling mendukung. Filosofinya, Lingkar Sosial adalah lingkaran yang berisi aktor-aktor soasial. Filosofi ini menjadi prinsip kerja, bahwa LINKSOS tidak pernah bekerja sendiri, melainkan berjejaring, bersinergi dan berkolaborasi.

Sejak awal berdiri, LINKSOS aktif menangani isu kusta dan disabilitas di berbagai sektor, khususnya sektor ekonomi, kesehatan, pendidikan, lingkungan hidup, serta kesetaraan di hadapan hukum.

Visi LINKSOS adalah mewujudkan Indonesia yang inklusif, adil dan sejahtera, serta menjangkau seluruh wilayah di Indonesia.

Misi umum: 

■ Memberdayakan penyandang disabilitas dari semua ragam—fisik, sensorik, intelektual, mental, dan ganda—di sektor dasar: ekonomi, kesehatan, pendidikan, lingkungan hidup, serta kesetaraan di hadapan hukum.
■ Membangun komunikasi yang inklusif dan universal melalui edukasi bahasa isyarat, braille, audiovisual, komunikasi sederhana, serta media lain yang sesuai dengan kebutuhan berbagai ragam disabilitas.
■ Mengembangkan jejaring dan mendukung komunitas lain untuk membangun ekosistem yang inklusif dan saling menguatkan.
■ Menumbuhkan nilai dan sikap perdamaian, toleransi, inklusivitas, kebhinekaan, serta hak asasi manusia sebagai fondasi Indonesia yang inklusif.

Misi Khusus: 

Memberdayakan penyandang disabilitas dengan multi stigma, yaitu disabilitas fisik akibat kusta dan disabilitas spektrum berat—termasuk cerebral palsy—serta disabilitas nonfisik, yaitu disabilitas mental psikososial (gangguan jiwa) dan disabilitas mental perkembangan, termasuk autisme dan hiperaktif.

Program Utama

LINKSOS memiliki empat program utama yang menjangkau sektor dasar: ekonomi, kesehatan, pendidikan dan lingkungan hidup yaitu: 

■ Omah Difabel – pusat inklubasi dan wirausaha inklusif, menyediakan layanan pelatihan, akses pembiayaan, pemasaran dan legalitas usaha.
■ Posyandu Disabilitas – layanan kesehatan dasar berbasis kebutuhan ragam disabilitas dan bersumber daya masyarakat, menyediakan layanan terapi, antar jemput dan pelatihan keterampilan. Program ini mengembangkan sub program spesifik:

□ Kader Kusta – tim sosialisasi sadar kusta dan pemberdayaan orang yang pernah mengalami kusta.
□ Kelompok bermain dan terapi (rintisan) – layanan terapi berbasis permainan kelompok inklusif bagi disabilitas mental perkembangan autisme, sekaligus wadah bekajar bagi orangtua untuk menjadi co-therapist.

■ Sako Inklusi – wadah belajar non formal bagi penyandang disabilitas di luar sekolah dan yang tidak pernah mengenyam pendidikan formal – termasuk penyandang disabilitas spekrum berat.
■ Difabel Pecinta Alam (Difpala) – kelompok disabilitas pecinta alam dengan kegiatan utama mendaki (hiking), menghijaukan (konservasi), dan memberdayakan (pemberdayaan). Difpala menjadi jembatan pemberdayaan desa-desa di kaki gunung dan pesisir di bidang ekonomi, kesehatan, pendidikan, dan lingkungan hidup, serta pengurangan risiko bencana (PRB) inklusif.

Dampak Program

LINKSOS menjalankan pendekatan pemberdayaan berbasis komunitas melalui pembentukan kelompok kerja, kelompok ragam disabilitas, serta forum advokasi dan jejaring.

Hingga Desember 2025, LINKSOS telah menjangkau:

2.306 penyandang disabilitas sebagai penerima manfaat langsung,
1.834 caregiver atau pendamping,
18 kelompok kerja,
3 kelompok ragam disabilitas,
11 forum advokasi dan jejaring,
■ serta 125 lembaga mitra.

Dampak program juga tercermin dari replikasi praktik baik di berbagai daerah. Model Posyandu Disabilitas telah diadaptasi oleh sejumlah pemerintah daerah di setidaknya 17 kabupaten/kota dalam berbagai bentuk layanan kesehatan inklusif. Sementara itu, komunitas Difabel Pecinta Alam (Difpala) melibatkan 80 anggota dari 11 provinsi, dengan Jawa Timur sebagai basis utama.

LINKSOS juga berkontribusi dalam penguatan komunikasi inklusif melalui kerja sama pelatihan bahasa isyarat bagi staf layanan publik, serta pengembangan kegiatan kepramukaan inklusif yang berfokus pada pembentukan karakter, kepedulian sosial, dan kecakapan hidup.

Ringkasan Keuangan Program

■ Ringkasan ini menyajikan penerimaan dan pemanfaatan donasi sepanjang tahun berjalan, termasuk donasi kas dan non-kas (in-kind) yang dicatat berdasarkan estimasi nilai wajar sebagai bentuk traansparansi.
■ Seluruh dukungan dimanfaatkan untuk kegiatan program dan operasional pendukung sesuai tujuan dan kesepakatan bersama donor, tanpa dana yang mengendap tanpa peruntukan.
■ Pengurus organisasi menjalankan peran secara sukarela tanpa gaji atau honorarium, sementara donasi pendiri bersifat sukarela, tidak mengikat, dan digunakan untuk mendukung keberlanjutan misi organisasi.

Rasio Sumber Pendapatan dan Pengeluaran

Tantangan dan Rencana Tindak Lanjut

Tantangan Utama 2025

■ Keterbatasan pendanaan untuk mendukung layanan terapi berkelanjutan, khususnya pada Posyandu Disabilitas dan program Sahabat Autisme.
■ Kebutuhan penguatan sumber daya manusia di bidang administrasi dan keuangan.
■ Perlunya penguatan legitimasi dan pengakuan kebijakan agar praktik baik layanan disabilitas dapat direplikasi secara lebih luas.

Rencana Tindak Lanjut 2026

■ Memperkuat kemitraan dengan donor, pemerintah daerah, dan sektor swasta untuk mendukung keberlanjutan layanan.
■ Mengembangkan model pembiayaan berkelanjutan berbasis komunitas dan jejaring.
■ Mendorong advokasi kebijakan berbasis praktik lapangan agar layanan disabilitas semakin terintegrasi dalam sistem pembangunan daerah. 

Potensi Kerjasama Tahun 2026

LINKSOS membuka peluang kolaborasi dengan berbagai pihak dalam bidang pemberdayaan ekonomi inklusif, layanan kesehatan disabilitas, pendidikan nonformal, pelestarian lingkungan, serta penguatan kapasitas komunitas. Kerja sama dapat dikembangkan dalam bentuk dukungan program, pengembangan kapasitas, riset terapan, maupun advokasi kebijakan.

Kontak Kami

Sekretariat:

■ Unit Layanan Disabilitas (ULD) Kantor Camat Lawang, Jl. Thamrin No. 2, Lawang, Kabupaten Malang
■ Hub Collaboration, Lantai 5 Gedung Malang Creative Center (MCC), Jl. A. Yani No. 53, Blimbing, Kota Malang
■ ULD Penanggulangan Bencana Kabupaten Malang, Gedung BPBD Kabupaten Malang, Kepanjen

Alamat Surat:

■ Omah Difabel, Jl. Yos Sudarso RT 04 RW 07 Dusun Setran, Desa Bedali, Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang, Jawa Timur 65215

Kontak:

■ Email: info.lingkarsosial@gmail.com
■ WhatsApp: 0857-6463-9993
■ Website: www.lingkarsosial.org

Akun Donasi:
Bank BRI – Nomor Rekening 0344 – 01 – 044576 – 53 – 2 Yayasan Lingkar Sosial Indonesia

Similar Posts

Skip to content