Aktivis sosial

STI: Kiat Sukses Aktivis Sosial

1 minute, 59 seconds Read

Aktivis sosial adalah orang yang memperjuangkan masyarakat lainnya untuk kemaslahatan. Hidup di jalan ini membuat saya merasa sukses dan dalam kehidupan yang barokah. Di antara kiatnya adalah STI yaitu Sabar, Taktis, dan Istiqomah.

 

Tantangan sebagai aktivis

Sekedar sharing, semoga bermanfaat. Ini adalah pengalaman hidup yang tak terbantahkan oleh teori manapun.

Tantangan menempatkan diri sebagai aktivis sosial seakan tak terbatas. Namun terdapat tiga hal utama yang sering dihadapi adalah:

  1. Berkorban waktu, tenaga dan materi. Saat orang lain berlibur, seorang aktivis kadang melupakan itu. Ia memilih untuk menbantu orang lain meski dengan tenaga dan biaya sendiri.
  2. Stigmatisasi atau pandangan negatif lingkungan. “Kok mau-maunya, yang bayar siapa? Ah, pasti ada maunya! Demikian pertanyaan dan sangkaan yang lazim diterima seorang aktivis.
  3. Beda pendapat. Sesama aktivis sosial, meski sesungguhnya sama-sama membantu masyarakat, bisa juga beda pendapat.

 

Kiat sukses

Lantas bagaimana menjawab tantangan tersebut? Terdapat rumus sederhana yang bisa diterapkan, yaitu STI, kependekan dari Sabar, Taktis dan Istiqomah.

Sabar adalah kemampuan untuk mengelola emosi. Maka jadi aktivis nggak boleh baperan. Setiap langkah dan kebijakan tidak layak berdasarkan emosional. Jangan pernah membuat keputusan ketika sedang marah.

Berikutnya adalah Taktis, ini berkaitan dengan siasat atau strategi. Artinya seluruh langkah harus memiliki perencanaan, ouput (hasil yang terukur) serta outcome (dampak yang diinginkan).

Yang ketiga adalah Istiqomah yaitu berkaitan dengan teguh pendirian. Salah satu tanda istiqomah adalah berkelanjutan. Istiqomah dibuktikan oleh waktu.

 

Orang-orang pilihan

Sedikit kisah, pada suatu hari, atas petunjuk relasi, saya menghubungi orang yang pernah mengikuti pelatihan relawan. Saat itu saya memerlukan bantuan relawan.

“Maaf mas, saya nggak di sosial lagi, sebab sekarang sudah bekerja,” demikian respon seseorang itu.

Dalam pandangan pendek, terdapat berbagai kemungkinan seseorang tersebut dulu mengikuti pelatihan relawan. Diantaranya untuk mengisi waktu saja daripada nganggur.

Fenomena lainnya terkait kesibukan bekerja, saya banyak bertemu orang-orang yang bekerja namun masih bisa meluangkan waktu untuk melakukan kegiatan sosial. Artinya sibuk bekerja tidak pernah jadi alasan para pegiat sosial.

Makna lainnya, bahwa menjadi aktivis sosial adalah pilihan hidup. Atau jika mungkin merasa tidak pernah memilih jalan itu, hakikatnya alam semestalah yang memilih.

 

Kehidupan yang barokah

Hidup sebagai manusia terpilih untuk membantu makhluk lainnya adalah keberkahan. Segala bentuk kebutuhan akan terpenuhi. Kehidupan yang sejahtera terlepas dari ukuran kaya atau miskin

Sejahtera ditandai dengan adanya tercukupinya kebituhan dasar yaitu sandang, pangan, papan, kesehatan dan pendidikan serta kemampuan untuk berbagi rizki.

Tentang sub judul yang terakhir ini tak akan diurai panjang lebar. Mari jalani dan nikmati saja.

(Ken)

Similar Posts