Pesan Keselamatan dalam Misi Arjuno Inklusi 2021

Tim Misi Arjuno Inklusi 2021, berfoto di depan petilasan Eyang Sekutrem (Pos II), Minggu, 6 Juni 2021. Searah jarum jam: Rokim, Ken, Erik, Kholil, Shinta, Ekowati, Yudha, Cakra, Heru, Priyo, Yayuk, Widi, dan Sumiati. Foto: Cakrahayu. 

Oleh: Anggra Dwi Shintawati*)

Misi Arjuno Inklusi tahun 2021 telah diluncurkan, ditandai dengan pertemuan beberapa divisi organisasi Lingkar Sosial Indonesia (LINKSOS) Timsus Pendaki Difabel, Sekolah Alam Gunung Wedon, Difabel Pecinta Alam (Difpala), dan Kader Posyandu Disabilitas, Minggu, 6 Juni 2021 di petilasan Eyang Madrim, Gunung Arjuno. Utamakan keselamatan, menjadi pesan paling penting dalam pencanangan misi tersebut.

Ya, keselamatan dalam perjalanan pertama Misi Arjuno Inklusi tersebut, setidaknya terdapat tiga kali arahan dari Ketua Pembina LINKSOS, Ken Kerta. Arahan pertama, saat berkumpul di Posko Pendakian Gunung Wedon, sekira pukul 07.00, ketua organisasi difabel tersebut memberikan breafing sebelum tim berangkat.

“Absensi pada saat berangkat dan pulang, berangkat beriringan agar tidak terpencar, serta saling menjaga dan mengingatkan,” tutur Pak Ken, sapaan akrabnya.

Arahan kedua, sesampainya kami tiba di Goa Onto Boego, pukul 08.15, di tempat tersebut Pak Ken menekankan bahwa tujuan kegiatan bukan hanya pendakian semata, melainkan bersilaturahmi dengan alam semesta. Maka kerendahan hati dan menjaga etika dengan lingkungan sangat diperlukan.

Arahan ketiga, sesampainya kami di petitasan Watu Kursi. Sebelum foto bersama, dan masing-masing mengambil dokumentasi, pesan keselamatan kembali disampaikan.  Anggota tim diminta untuk menjaga kekompakan.

 

Sabar berinteraksi dalam tim dan sabar berlatih

Sekira setengah jam kemudian, yaitu pukul 09.30 kami tiba di petilasan Eyang Madrim. Sesuai rencana, di lokasi punden berundak tersebut misi dicanangkan, ditandai dengan rapat membahas rencana pendakian Gunung Arjuno, paparan misi, tahapan pelatihan, serta penekanan kembali pesan keselamatan.

“Pendakian dalam Misi Arjuno Inklusi ini tidak hanya sekedar mendaki tetapi juga silaturahmi ke tempat situs-situs peninggalan untuk belajar,” ujar Pak Ken.

Lanjutnya, seluruh anggota Tim harus saling menghargai, sesama difabel memahami keterbatasan masing-masing. Misalnya Tuli harus sabar terhadap teman netra yang tidak bisa berjalan cepat sebab hambatan penglihatan. Sama juga kawan netra harus sabar ketika berbicara dengan pelan dan berulang ketika berkomunikasi dengan Tuli. Arahan kader pendamping wajib diperhatikan, jangan pernah meningggalkan satu dengan yang lainnya.

“Utamakan selamat, mendaki hingga puncak itu bonus perjalanan,” tegas Pak Ken. Maka salah satu prasyarat mencapai keselamatan adalah berlatih  di ketinggian, sehingga tim akan beberapa kali berlatih di Gunung Arjuno dan beberapa gunung/bukit di sekitarnya seperti Gunung Wedon dan Budug Asu.

“Belajar mendaki di ketinggian menjadikan pendaki lebih mudah beradaptasi dengan suhu dan terlatih mengasup oksigen sehingga mengurangi potensi Hipotermia,” jelas pak Ken.

Hipotermia merupakan kondisi suhu badan drop pengaruh suhu lingkungan yang rendah. Gejala tersebut bisa menyebabkan pendaki meninggal dunia.

Sesuai arahan petugas pos pendakian Gunung Arjuno jalur Lawang dan jalur Purwosari, saat tim melakukan koordinasi, mereka menyarakan agar tim pendaki difabel melakukan pendakian bertahap, sekira tiga hingga lima kali, menempuh kawasan Perhutani, maupun area koservasi, sebelum akhirnya mencapai puncak.

 

Menyepakati aturan kegiatan

Sebelum melanjutkan perjalanan, Ketua Pembina LINKSOS menggalang pendapat peserta tentang kesepakatan urutan kegiatan di lokasi situs, diantara keinginan peserta untuk membuat dokumentasi pribadi dengan tugas-tugas tim.

Tim akhirnya menyepakati susunan berikut, bahwa yang pertama saat tiba di situs, pemandu bercerita tentang situasi dan kondisi lingkungan, termasuk sejarah maupun mitos yang diketahui. Setelah itu, acara yang kedua pengambilan dokumentasi foto dan video tim. Lalu yang ketiga acara bebas, peserta boleh mengambil dokumentasi pribadi, makan dan minum, dengan ketentuan tidak boleh meninggalkan tim dan berpisah dengan kader pendamping.

 

Menjaga kearifan interaksi dengan alam

Perjalanan tim yang sebelumnya hanya sampai di petilasan Eyang Madrim, sebab waktu yang masih belum tengah hari, maka kami sepakat untuk menuju komplek petilasan Tampuono yang berada di area Pos II.

Dalam komplek petilasan Tampuono tersebut terdapat beberapa situs yang kami kunjungi, yaitu Sendang Dewi Kunti, Eyang Abiyoso, Goa Nogo Gini, serta Eyang Sekutrem.

“Jaga etika berinteraksi dengan lingkungan, tempat ini diyakini keramat oleh sebagian masyarakat, maka harus dihormati, jangan naik-naik atau memanjat batu petilasan,” pesan Pak Ken.

Dalam kesempatan itu, pengurus Sekolah Alam Gunung Wedon, Pak Rokim yang pula sebagai pemandu tim saat itu menceritakan kemudahan perjalanan saat ini dibandingkan waktu lampau ketika jalur menuju petilasan belum dibangun. Maka ia dalam perjalanan ini yang mengusulkan melanjutkan perjalanan dari petilasan Eyang Madrim ke Tampuono.

Tak ketinggalan Bu Sri Ekowati sebagai salah satu kader pendamping saat itu mendeskripsikan situasi sekitar. Kader lainnya, Bu Fuji Rahayu memantau keberadaan anggota tim, juga Bu Widi Sugiarti  yang aktif menerjemahkan bahasa kepada kawan-kawan Tuli. Sedangkan saya sendiri ditugaskan oleh Pak Ken menjadi notulen.

Setelah cukup beracara bebas, kami beristirahat di salah satu shelter Tampuono untuk makan. Keakraban makin terjalin disini, tanpa piring beralaskan kertas nasi,kami makan bersama-sama.

Seakan belum cukup dengan kebersamaan tersebut, dalam perjalanan turun kami mampir di warung kopi yang terletak di area petilasan Watu Kursi. Disitu kami menghabiskan waktu sekira setengah jam untuk sekedar omong kosong dan membahas hal-hal lucu.

Akhir kegiatan, kami berkumpul di area petilasan Goa Onto Boego, bersepakat mengambil rute pulang berbeda dengan rute berangkat. Salah satu sepeda motor anggota, Cakrahayu, remnya tidak pakam sehingga berbahaya ketika di turunan.

Demikianlah pesan keselamatan di awal Misi Arjono Inklusi ini. Baik didalam perjalanan pendakian gunung, maupun diluar kegiatan pendakian, sudah sewajibnya kita saling menjaga keselamatan.

*) Penulis adalah anggota pendamping Difabel Pecinta Alam, saat ini tengah mengikuti seleksi Timsus Pendaki Difabel Angkatan II.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *