Organisasi Difabel Saatnya Satukan Tekad di Masa Pandemi

Saya bersama Sulasin, difabel pengrajin bambu di Dusun Kreweh, Desa Gunung Rejo, Kec. Singosari, Kab. Malang
Di masa pandemi Corona ini, kesulitan hampir terjadi di setiap orang khususnya kelompok difabel dan keluarganya. Untuk itu saya dan tim menggalang kepedulian banyak pihak diantaranya berupa bantuan sosial (bansos) pangan untuk kembali disalurkan pada warga masyarakat yang membutuhkan. Saatnya kita semua menyatukan tekad membangun kembali ekonomi masyarakat yang terpuruk. JIka memungkinkan kerjasama kenapa tidak, khususnya bagi kelompok difabel yang megalami kerentanan ganda.

“Pak Ken, mohon info bansos, kami sudah nggak ada penghasilan lagi..

“Pak, kami habis beras…”

“Jangankan orang minta pijat, bersalaman saja takut, seminggu ini blas nggak ada orderan..”

Demikian diantaranya pesan-pesan whatsapp yang masuk. Rasanya lebih dari sekedar haru dan pilu, terlebih saat saya sempatkan berkunjung ke rumah mereka. Kondisi darurat memaksa saya untuk menggalang empati terhadap kondisi kelompok rentan ini.

Menggalang empati masyarakat

Sejak berdirinya Lingkar Sosial Indonesia (LINKSOS) tahun2014, baru tahun ini 2020 saya mengupayakan bantuan sosial (bansos) pangan bagi kawan-kawan difabel. Sebelumnya mencari bansos termasuk hal utama yang harus dihindari berkaitan misi pemberdayaan.

Dan kali ini kondisinya beda. Adanya wabah pemyakit membuat sebagian besar orang kesulitan, terlebih difabel yang sebelum masa pandemi telah menghadapi berbagai hambatan aksesibilitas.

Beruntung kami berjejaring dengan banyak pihak. Tanpa susah payah membuat proposal, cukup menyampaikan ke jejaring bahwa kelompok difabel terdampak Covid-19 secara serius, lantas ratusan paket sembako pun mengalir. Bahkan tak hanya bahan pangan, ribuan order job masker dan ratusan APD juga masuk melalui workshop pemberdayaan masyarakat Omah Difabel.

Siapa yang menikmati buah sinergitas ini? Yang pertama tentu anggota aktif LINKSOS, bahkan mereka terlibat dalam skenario akses bansos dan penyalurannya. Mereka adalah orang-orang yang bekerja di Omah Difabel, anggota pokja wirausaha, para kader dan peserta Posyandu Disabilitas, pengurus dan anggota Kelompok Difabel Desa, serta warga masyarakat dengan disabilitas berat.

Kedua adalah warga masyarakat di sekitar Omah Difabel, mereka yang kehilangan pekerjaan gegara darurat Corona dapat bergabung sebagai mitra kerja. Mereka memanfaatkan peluang pasar memproduksi masker dan baju APD.

Penerima manfaat berikutnya  adalah jaringan organisasi, baik secara organisasi maupun secara personal sebagai aktor pengerak.

Jaringan organisasi, misal Gerkatin Malang. Organisasi pengerak kaum tuli ini sejak 2016 bekerjasama dengan baik dalam berbagai macam kegiatan. Beberapa anggota Gerkatin bergabung sebagai mitra kerja Omah Difabel. Sedangkan jaringan aktor penggerak seperti yang di kecamatan Blimbing, Klojen, Pakisaji, Singosari dan beberapa kecamatan lainnya. Mereka memilih bergabung dengan LINKSOS atas nama pribadi.

Kami pun terus menggalang dukungan. Mereka yang bergabung untuk menyalurkan bansos diantaranya Relawan HGTT, BMH Jatim Gerai Malang, YDSF Malang, Rumah Zakat, Zis Rohis Lintasarta, Cita Sehat Foundation, serta komunitas dan pribadi- pribadi yang menolak disebutkan namanya.

Sementara di bidang kewirausahaan sosial kami bekerjasama dengan PKRS RSJ Dr. Radjiman Wediodiningrat Lawang untuk produksi dan pemasaran masker filter. Sedangkan untuk pakaian hazmat atau APD kami bekerjasama dengan sesama alumni pelatihan kewirausahaan sosial SIAP.

Tantangan menghadapi paradigma kolot

“Kelompok kami juga menjahit dan membuat keset, semua sudah ada di kami..”

“Kami juga mengajukan bansos, saat ini sedang dalam proses..”

Demikian penolakan halus yang kami alami dari pengurus sebuah kelompok, ketika menawarkan kerjasama baik terkait peluang kerja maupun bantuan sosial pangan.  Sementara fakta yang berlangsung beberapa anggota mereka kemudian bergabung kerja di Omah Difabel. Juga hingga detik ini tulisan ini dipublish belum nampak bansos-bansos pangan turun ke mereka.

Namun tak masalah, toh penolakan berasal dari jajaran pengurus organisasi, sedangkan para anggota sebagai warga masyarakat yang memerlukan pekerjaan dan bansos tidak terpengaruh. Selama masa pandemi dari bulan Maret hingga Mei 2020, Omah Difabel LINKSOS telah menyerap tenaga kerja menjahit sebanyak 36 orang.

Sinergi itu penting, namun beberapa orang masih berpikir kolot, menganggap perbedaan pandangan sebagai suatu pertentangan. Bahkan persamaan pun, seperti bidang dan misi organisasi yang serupa dimaknai sebagai rival atau pesaing sehingga menolak kerjasama.

Mestinya kebutuhan anggota sebagai sumber daya organisasi merupakan prioritas utama, bukan ambisi dan kepentingan pengurus.

Hal penting lainnya, tidak semua anggota organisasi memiliki kemampuan SDM di bawah pengurus. Anggota yang berdaya akan meninggalkan para pengurus yang dinilai lemah mengelola organisasi.

Pesan moralnya, apa yang dipertahankan dari sebuah kekolotan ketika hanya akan membuat organisasi kehilangan sumber daya lalu lambat laun tenggelam?

Mari bergabung di UMKM Difabel program LINKSOS 

Sebagai organisasi independen Lingkar Sosial Indonesia (LINKSOS) mendorong seluruh pokja, termasuk Asosiasi Pengusaha Difabel Indonesia, mengambil kebijakan alternatif untuk meringankan beban masyarakat dan membantu Pemerintah dalam percepatan penanggulangan dampak SARS-CoV-2.

Terdapat 5 langkah strategis APDI mensikapi pandemi Covid-19:
  1. Mengupayakan bantuan sosial (bansos) bagi para pekerja UMKM serta difabel dan warga masyarakat pada umumnya untuk mendukung perekonomian selama pandemi Covid-19
  2. Mendorong kerjasama antar UMKM dan lintas jaringan untuk terbukanya lapangan kerja baru melalui sinergitas lintas potensi
  3. Menfasilitasi peningkatan produktivitas anggota APDI melalui pelatihan-pelatihan praktis dan aplikatif
  4. Menfasilitasi permodalan produksi dan pemasaran anggota melalui sharing job, sharing modal dan sharing jaringan
  5. Menfasilitasi hubungan kerjasama dengan Pemerintah, CSR Perusahaan, badan zakat, lembaga sosial dan sektor privat lainnya.  *
Facebook Comments
WhatsApp chat