Ken Kerta: Kiat Mendorong Peran Keluarga dalam Kegiatan Sosial

Bersama Timsus Pendaki LINKSOS di Hutan Anjasmoro, Gunung Butak (5 Okt 2020), kelompok difabel pendaki gunung pertama yang terorganisasi, memiliki jadwal pendakian hingga mempunyai Sekolah Alam sebagai pusat pendidikan dan pelatihan difabel mendaki gunung.
“Anak saya sulit diatur pak, diajak kegiatan sosial nggak mau, tutur seorang Ibu. Maaf pak Ken saya nggak dapat ijin suami, kata seorang ibu rumah tangga. Waduh, istri saya nggak mau ditinggal Pak, kesah seorang pria. Ingin ikut kegiatan naik gunung, tapi dilarang orangtua, mereka khawatir, keluh seorang pemuda. Demikian beberapa contoh keluhan yang saya terima dibalik kegiatan sosial yang kami jalankan. Bagaimana cara mengatasinya? Tulisan ini secara ringkas memberikan solusi atas dasar pengalaman penulis. Semoga bermanfaat.”

 

Mohon ijin, saya Ken Kerta, Pendiri Lingkar Sosial Indonesia, berbagi kiat bagaimana mendorong keterlibatan keluarga dalam kegiatan sosial, yang manfaatnya selain mendukung kelancaran kegiatan juga berpengaruh pada keberlangsungan organisasi. Maksud dari tulisan ini hanya ingin berbagi pengalaman, mengingat beberapa pertanyaan dari anggota maupun mitra yang mengeluhkan hambatan berkegiatan sosial dan berorganisasi yang justru berasal dari keluarga sendiri.

Lingkar Sosial Indonesia (LINKSOS) merupakan organisasi difabel penggerak inklusi yang berpusat di Malang, Jawa Timur. Mencari informasi tentang komunitas ini tidak sulit, cobalah cari di Google, dengan kata kunci Lingkar Sosial Indonesia, LINKSOS, Desa Inklusi di Malang, Posyandu Disabilitas, Omah Difabel, Timsus Pendaki LINKSOS, atau nama pendirinya: Ken Kerta.

Beberapa kata kunci diatas yaitu Desa Inklusi di Malang, Posyandu Disabilitas, Omah Difabel, serta Timsus Pendaki Gunung, merupakan daftar pencapaian Lingkar Sosial Indonesia selama kurun waktu dua tahun ini. Pencapaian-pencapaian tersebut tentu bukan hasil kerja saya sendiri, melainkan kerja Tim Lingkar Sosial Indonesia, meliputi Badan Pembina, Badan Pengawas, serta Pengurus Harian dan para Kader/Relawan.

Sukses ini tentu juga berkat dukungan berbagai jaringan seperti dinas-dinas, instansi, lembaga, komunitas sosial, komunitas difabel, perguruan tinggi, pelaku usaha, serta media massa.

Nah, dibalik berbagai dukungan diatas, hal penting yang ingin disampaikan dalam tulisan ini adalah dukungan dan keterlibatan keluarga dalam kegiatan sosial.

 

Mendorong peran keluarga

Sekedar contoh saja, anak saya yang sulung, laki-laki tergabung dalam Timsus Pendaki, perannya sebagai pendamping difabel pendaki. Sedangkan adiknya, perempuan, membantu pembuatan film dokumenter sebagai editor video dan dubber. Lalu ibunya berperan sebagai manajer yang mengelola pemberdayaan ekonomi masyarakat dampingan.

Dalam contoh diatas nyaris tidak ada perkara dilarang orangtua atau tidak ada ijin suami atau istri, namun yang ada adalah koordinasi.

 

Pertanyaannya, bagaimana mendorong keluarga agar terlibat dalam kegiatan sosial yang kita jalankan?

Kiat bagi orangtua menghadapi anak yang sulit berkegiatan sosial. Anak lebih mudah melihat contoh-contoh dari orangtuanya. Tunjukkan ke anak bahwa kita adalah orangtua yang komitmen pada kegiatan sosial.

Setiap pulang kegiatan, ceritakan pada anak apa saja yang dilakukan hari tersebut, apa yang membuat senang, dan apa harapan kedepan? Lalu ketika anak mulai terlihat memiliki minat, respon, atau kepedulian, ajak ia terlibat dalam kegiatan. Bentuknya bisa diajak saja dalam kegiatan, maupun diberikan tugas-tugas tertentu.

Kiat bagi yang sulit mendapatkan ijin suami/istri. Daya tarik orang berkeluarga biasanya jika ada nilai ekonominya. Kok sosial terus, dapatnya apa? Atau: ngurusi orang saja, keluarga jadi kurang perhatian! Demikian tipis-tipis pernah saya dengar.

Beberapa solusi, diantaranya terkait keluhan ekonomi, cobalah mencari ruang berbisnis dalam kegiatan sosial. Misal mengelola kebutuhan konsumsi kegiatan. Jadi pamitnya ke kekuarga bisa seperti ini: Pak/Bu, Alhamdulillah dapat pesanan konsumsi dari Linksos, yuk kita garap! Ini artinya berbisnis sambil mengenalkan kegiatan terharap pasangan hidup.

Terkait keluhan perhatian, prinsipnya adalah teknik membagi perhatian. Salah satu kiatnya, hindari sebisa mungkin koordinasi kegiatan yang menyita waktu kebiasaan keluarga. Lalu di sela santai dengan pasangan, ketika momennya tepat lagi senang, sisipkan sedikit cerita hal-hal yang menyenangkan dalam kegiatan sosial. Ini untuk mengenalkan kegiatan sosial. Jangan berharap respon atau umpan balik, santai saja.

Kiat untuk anak yang suka dilarang orangtuanya. Ada pertanyaan awal untuk kamu, apa sih yang diinginkan orangtua? Biasanya sih mereka inginnya kamu bangun pagi, rajin bersihkan kamar, rajin belajar, hingga jangan mainan hape terus. Atau bagi yang sudah lulus sekolah atau selesai kuliah inginnya kamu mendapatkan pekerjaan.

Ok, yang pertama jawab dulu dengan realitas apa yang menjadi keinginan baik orang tua, apa susahnya bangun pagi, membersihkan kamar, rajin belajar dan mengurangi mainan hape? Jangan lupa komunikasikan dengan orangtua perkembangan belajarmu, atau upaya-upayamu memperoleh pekerjaan. Jelaskan juga dengan baik apa sih manfaat kegiatan di Linksos terkait pembelajaran di sekolah/kampus, atau potensi pekerjaan yang bisa diperoleh.

Tulisan ini masih jauh dari sempurna, ibarat 1000 kata tak cukup menceritakan berbagai sisi sebuah pengalaman. Penulis terbuka untuk diskusi langsung di Omah Difabel. (Ken)

Facebook Comments