Posyandu Disabilitas
Talkshow tentang Posyandu Disabilitas bersama FKUB dan Staf Ahli Kantor Staf Presiden, (KSP), 26 Nov 2022 di Universitas Brawijaya

FK UB Angkat Isu Posyandu Disabilitas

2 minutes, 48 seconds Read

Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (FK UB) mengangkat isu Posyandu Disabilitas melalui seminar dan talkshow .” Even menghadirkan narasumber kompeten dari Kantor Staf Presiden (KSP), LINKSOS, dan RSJ Dr. Radjiman Wediodiningrat Lawang.

 

“Kegiatan bertajuk Bring Back The Rights: Disability People Rights Discrepancy ini merupakan kegiatan yang mengangkat isu tentang penyandang disabilitas, “ terang Officer Bring Back The Rights Project (BIGBANG) 2022 FK UB, Muhammad Rafif Baihaqi, Sabtu, 26 Nov 2022 di lokasi kegiatan, Gedung Graha Medika FK UB.

 

Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan mengenai Discrepancies of Disabled People’s Rights dan meningkatkan kesadaran masyarakat terkait penyetaraan hak penyandang disabilitas, papar Rafif sapaan akrabnya.

 

 

Tantangan pemberdayaan disabilitas

Pembicara talkshow, Sunarman Sukamto mengatakan bahwa paradigma lingkungan terhadap penyandang disabilitas merupakan tantangan utama dalam pemberdayaan penyandang disabilitas.

 

“Penyandang disabilitas dianggap tidak mampu sehingga hak-haknya terabaikan,” ujar Maman sapaan akrabnya. Mengatasi hal ini, selain diperlukan sosialisasi juga penting adanya motivasi dari penyandang disabilitas itu sendiri.

 

Senada disampaikan dr Yuniar melalui saluran online, yang melihat stigma dan sistem penanganan yang masih menjadi persoalan pokok pemberdayaan penyandang disabilitas khususnya orang dengan gangguan jiwa (ODGJ). Terkait stigma, dr Yuniar menunjukkan film pendek tentang bagaimana proses desain seragam RSJ Dr Radjiman Wediodiningrat sebagai karya talent yang sebelumnya adalah pasien RSJ.

 

“Sistem penanganan ODGJ juga menjadi tantangan, bahwa ODGJ korban pasung yang kemudian dirawat di RSJ, masih rawan kembali pasung setelah pulang dari rumah sakit jiwa,” ungkap dr Yuniar. Seharusnya ada shelter yang berfungsi sebagai tempat belajar OGDJ pasca rehab medik sekaligus wadah yang berperan untuk edukasi masyarakat.

 

Saat ini peran shelter tersebut dilakukan oleh Posyandu Disabilitas, namun terbatas waktu yang hanya satu bulan sekali. Kita memerlukan sistem shelter yang memiliki waktu, tempat dan konsentrasi tersendiri, tandas Yuniar.

 

Pengembangan Posyandu Disabilitas

Founder LINKSOS, Kertaning Tyas sepakat bahwa paradigma, stigma dan sistem penanganan masih menjadi persoalan utama. Oleh sebab itu ia melalui Lingkar Sosial Indoensia dan jaringannya terus menggerakkan Posyandu Disabilitas.

 

“Progres saat ini, Posyandu Disabilitas telah kami kembangkan di tiga kecamatan di Kabupaten Malang,” terang Ken sapaan akbabnya. Untuk kota Malang akan kami buka di Kelurahan Polehan awal Desember besok. Sedangkan untuk Kabupaten Pasuruan, kami giatkan kegiatan senada berbasis sumberdaya masyarakat yaitu Kader Kusta bersama Puskesmas Nguling.

 

Sedangkan secara regulasi, terang Ken, di Kecamatan Lawang sudah ada SK terkait Kecamatan Inklusi. Sudah terdapat pula kesepakatan kerjasama antara Camat Lawang, Puskesmas Lawang, RSJ Dr Radjiman Wedioningrat, serta LINKSOS. MoU tersebut juga telah kami sampaikan ke Dinas Kesehatan Kabupaten Malang agar diupgrade menjadi kesepakatan kerjasama di tingkat Kabupaten.

 

“Kami berharap Posyandu Disabilitas sebagai praktik baik daerah, bisa dikembangkan sebagai program pusat dan dikembangkan di seluruh desa/kelurahan di Indonesia.

 

Rangkaian even

Kegiatan BIGBANG tahun ini, terang Rafif dimulai dengan pembuatan video pre-event dan dilanjutkan dengan main event yang dilakukan secara offline yang bertempat di Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya.

 

“Main event dibuka dengan seminar materi yang dibawakan oleh Bapak Sunarman Sukamto dari kantor Staf Presiden RI, lalu dilanjutkan talkshow,” terang Rafif.

 

Pembicara talkshow adalah Bapak Kertaning Tyas sebagai Founder LINKSOS dan dr Yuniar selaku direktur utama RSJ Dr Radjiman Wediodiningrat Lawang. Kedua pembicara ini merupakan pelopor Posyandu Disabilitas, tandas Rafif.  Rangkaian acara selanjutnya adalah lomba poster dengan tema diambil dari Film (Crip Camp) tentang disabilitas. Even diikuti olej sekira 75 peserta dari sektor Tenaga Kesehatan, Mahasiswa FK UB, Perangkat Desa dan Masyarakat Umum. (admin)

 

 

Similar Posts