Etika Berinteraksi dengan Penyandang Disabilitas

Lingkar Sosial indonesia (LINKSOS) menggelar Sarasehan Etika Berinteraksi dengan Penyandang Disabilitas (3 Mei 2021) di Bengkel Produksi (Bengpro), Malang. Tujuan acara untuk mendengarkan masukan dari para penyandang disabilitas dari masing-masing ragam disabilitas, tentang bagaimana sebaiknya tata cara berkomunikasi, batasan apa yang tidak boleh dilanggar, dan soal etika lainnya.

Hadir dalam sarasehan tersebut, perwakilan penyandang disabilitas, masing-masing dari ragam disabilitas fisik, disabilitas intelektual, disabilitas mental, disabilitas netra, disabilitas pendengaran, termasuk orang yang pernah mengalami kusta (OYPMK), juga para Kader Posyandu Disabilitas.  Hasil pertemuan menghasilkan rumusan etika berinteraksi dengan penyandang disabilitas yang akan digunakan sebagai bahan sosialisasi kesadaran disabilitas ke lintas sektor.

Latar belakang dari sarasehan ini, bahwa upaya penghormatan, pelindungan, dan penghormatan hak-hak penyandang disabilitas tak lepas dari tata cara berkomunikasi atau etika berinteraksi dengan penyandang disabilitas. Namun pengetahuan ini masih belum jamak diketahui oleh masyarakat pada umumnya, sehingga terjadi kurangnya interaksi antara penyandang disabilitas dengan masyarakat sekitar.

Dampak kurangnya interaksi dalam masyarakat selalu menimbulkan dampak negatif, misalnya kesalahpahaman ketika seorang disabilitas rungu wicara merasa dibentak oleh orang yang sesungguhnya berbicara keras agar lawan bicaranya mendengar suaranya. Kasus lainnya ketika seorang disabilitas netra memerlukan bantuan, namun beberapa orang disekitarnya hanya nampak melihat saja, kesannya seperti tidak berempati walau yang terjadi sesungguhnya mereka tidak tahu bagaimana cara membantu.

Berikut rumusan Etika Berinterkasi dengan Penyandang Disabilitas, hasil sarasehan yang digelar LINKSOS, 3 Mei 2021 di Bengpro, Malang:

 

Etika Berinteraksi dengan Penyandang Disabilitas Fisik

  1. Semua cara bentuk pendampingan harus dikomunikasikan dengan penyandang disabilitasnya atau diinformasikan oleh penyandang disabilitasnya, mengambil tindakan tanpa instruksi dari mereka, kemungkinan besar dapat membahayakan mereka;
  2. Tanyakan apakah mereka memerlukan bantuan.
  3. Dalam keadaan darurat ketika penyandang disabilitas sekira memerlukan bantuan, langsung saja dibantu tanpa menunggu ijin.
  4. Saat berbicara dengan pengguna kursi roda, posisi mata harus sejajar dengan mata pengguna kursi roda;
  5. Tidak memisahkan alat bantu penyandang disabilitas fisik dari mereka tanpa diketahui oleh mereka;
  6. Tidak menaruh barang-barang kita di kursi roda tanpa seijin pengguna kursi roda;
  7. Tidak boleh menggunakan istilah negatif yang merujuk pada ragam disabilitas fisik
  8. Bagi penyandang disabilitas fisik akibat kusta atau orang yang pernah mengalami kusta (OYPMK) akan lebih sensitif/mudah tersinggung sebab faktor psikologis atas penyakitnya atau kondisi tubuhnya.
  9. Bersalaman dengan OYPMK tidak menyebabkan orang lain tertular. Menolak bersalaman dengan OYPMK menimbulkan ketersinggungan sebab yang bersangkutan merasa dikucilkan.
  10. Penyandang disabilitas fisik memerlukan persiapan lebih sebab terkait mobilitas, oleh sebab itu jika mengundang disabilitas fisik untuk sebuah acara tidak boleh mendadak. Beri waktu bagi disabilitas untuk persiapan setidaknya 1-2 jam (relatif)

 

Etika Berinteraksi dengan Penyandang Disabilitas Intelektual

  1. Percakapan harus dalam cara yang ramah;
  2. Berbicaralah langsung kepada penyandang disabilitas intelektual, tidak melalui pendamping;
  3. Perbanyak senyum.
  4. Berikan pujian atas hal baik yang telah dilakukan
  5. Tidak boleh menggunakan istilah negatif yang merujuk pada ragam disabilitas intelektual;
  6. Penyandang disabilitas intelektual sensitif dengan tindakan kasar
  7. Tidak suka didiamkan, ajak penyandang disabilitas intelektual membahas topik yang ia sukai

 

Etika Berinteraksi dengan Penyandang Disabilitas Mental

  1. Menanyakan hal-hal apa saja yang perlu diketahui oleh kita sebagai pendamping, seperti waktu untuk istirahat, waktu untuk minum obat, dan lain sebagainya;
  2. Berbicaralah langsung kepada penyandang disabilitas mental, tidak melalui pendamping;
  3. Gunakan kata-kata yang sederhana dan ramah
  4. Gunakan petunjuk-petunjuk pembantu, seperti gambar yang berlaku secara umum.
  5. Jika penyandang disabilitas dalam keadaan tidak stabil, dan sulit berkomunikasi, jangan paksakan untuk sebuah tanya jawab, berikan sesuatu yang membuatnya senang dan berharga, misal makanan atau minuman.
  6. Tidak boleh menggunakan istilah negatif yang merujuk pada ragam disabilitas mental

 

Etika Berinteraksi dengan Penyandang Disabilitas Netra

  1. Salam, Sapa, sentuhkan bagian luar telapak tangan anda kepada tangan mereka, sambil menyebutkan nama kita;
  2. Selalu tanyakan terlebih dahulu apakah mereka membutuhkan bantuan atau dampingan kita. Infokan kepada mereka jika kita ingin meninggalkan mereka;
  3. Dalam menuntun biarkan penyandang disabilitas netra yang memegang pendamping, bukan sebaliknya. Biasanya disabilitas netra memegang lengan pendamping.
  4. Jika akan duduk, caranya bukan mendudukkan paksa penyandang disabilitas netra, melainkan cukup menunjukkan posisi sandaran kursi atau bagian tempat duduk lainnya, lalu biarkan ia mendeteksi posisi dan menentukan cara dan posisi duduk
  5. Tidak memindahkan barang-barang milik atau yang sedang digunakan penyandang disabilitas netra tanpa sepengetahuan mereka.
  6. Orientasi mobilitas sangat penting bagi disabilitas netra, maka dalam sebuah lokasi baru kenalkan situasi dan kondisi lokasi kepada disabilitas netra melalui cerita
  7. Tidak boleh menggunakan istilah negatif yang merujuk pada ragam disabilitas netra

 

Etika Berinteraksi dengan Penyandang Disabilitas Rungu Wicara

  1. Cara menyapa: sentuh, salam, sapa;
  2. Jika tidak menyentuh beri tanda gerakan/bayangan
  3. Jika ingin menyapa dari jauh sementara penyandang disabilitas rungu tidak melihat kita, boleh memberi tanda lemparan sesuatu yang tidak berbahaya di sekitarnya atau bagian tubuh selain kepala
  4. Menghindari menggunakan masker dan benda lain yang menutupi atau menghalangi bibir;
  5. Berbicara harus dengan kontak mata dan berhadapan wajah kepada penyandang disabilitas rungu/ wicara, tidak mengarahkan wajah kita kepada penerjemah;
  6. Menyediakan interpreter/juru bahasa isyarat apabila diperlukan; pemilihan interpreter berdasarkan masukan penyandang disabilitas rungu dengan alasan kenyamanan dalam berkomunikasi
  7. Gerakan bibir harus jelas;
  8. Menggunakan mimic/gestur/ekspresi/Bahasa tubuh, secara jelas dan ramah
  9. Tidak perlu berbicara keras, sebab akan terkesan kasar, marah dan menyinggung perasaan
  10. Menyediakan alat tulis.
  11. Komunikasi/ informasi menggunakan gambar dan tulisan akan sangat membantu
  12. Jika berkomunikasi dengan tulisan, gunakan kalimat pendek dan sederhana agar mudah dipahami
  13. Tidak boleh menggunakan istilah negatif yang merujuk pada ragam disabilitas rungu wicara

 

Penggunaan istilah yang boleh dan tidak boleh

Penyandang disabilitas  memiliki harkat dan martabat yang setara dengan warga masyarakat lainnya, oleh karena itu sebagai sesama manusia wajib menghargai. Terkait penggunaan istilah disabilitas berikut istilah yang boleh digunakan dan tidak boleh digunakan.

Boleh digunakan: Penyandang Disabilitas, dan Difabel. Istilah penyandang disabilitas sesuai dengan UU RI Nomor 7 Tahun 2016 Tentang Penyandang Disabilitas. Sedangkan Difabel memberikan makna different people ability, atau orang dengan kemampuan yang berbeda.

Tidak boleh digunakan: orang cacat, orang kekurangan, orang tidak sempurna, orang yang kurang beruntung, orang tidak normal.

Tidak boleh digunakan, beberapa istilah yang merujuk kepada ragam disabilitas tertentu namun berkonotasi negatif, diantaranya: semper, deglog, goblok, bodo, ora kebek, edan, gendeng, gila, lulusan RSJ, picek, budeg, dan lainnya. 

Etika berinteraksi dengan penyandang disabilitas tak sebatas hanya komunikasi verbal, melainkan juga menggunakan media informasi.  Oleh sebab itu aksesibilitas media informasi sangat penting.  Bagi disabilitas netra beberapa media informasi menggunakan braile, serta layar informasi yang dilengkapi audio screen reader. Sedangkan bagi disabilitas rungu diperlukan penggunaan bahasa isyarat, penanyangan video dilengkapi bahasa isyarat atau informasi tulisan, serta alat bantu dengar. Kemudian secara umum tersedianya website yang akses bagi seluruh ragam penyandang disabilitas.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *