Difabel Melawan Jurnalisme Karitatif

Oleh: Ken Kerta*)

Karitatif artinya belas kasih, sedangkan jurnalisme adalah kegiatan kewartawanan. Jurnalisme karitatif memberikan makna peliputan dari sisi belas kasih. Berkaitan dengan judul, tulisan ini akan mengulik bagaimana idealnya pemberitaan tentang disabilitas yang sepakat dengan nilai-nilai Hak Asasi Manusia. Berangkat dari realitas bahwa melihat Difabel sebagai obyek belas kasih biasanya lebih menarik pembaca, dan ini terjadi sejak lama serta mengakar sebagai paradigma di sebagian kalangan.

Difabel termasuk dalam kelompok rentan, dalam faktanya pun utamanya di pedesaan diskriminasi HAM masih banyak ditemukan. Penyebab utamanya adalah paradigma masyarakat yang telah mengakar di sebagian besar masyarakat, bahwa difabel adalah beban lingkungan.

Terkait jurnalisme sebagai corong informasi dan pengetahuan penting dalam membentuk paradigma publik, untuk itulah isu terkait difabel dan jurnalisme karitatif ini penting untuk terus dihangatkan sebagai bentuk penyadaran publik.

Melihat contoh liputan misal berita Simak Ekspresi Para Penyandang Disabilitas setelah Diberi Alat Bantu oleh Dinsos Kabupaten Malang, sisi dari pemberitaan ini adalah difabel sebagai obyek penerima bantuan merasa senang, subyeknya adalah Dinsos Kabupaten Malang. Sekedar saran, sisi lain yang bisa diangkat dari kasus ini adalah Dinas Sosial Kabupaten Malang menyerahkan alat bantu disabilitas kepada masyarakat sesuai amanah UU RI Nomer 8 Tahun 2016 Tentang Penyandang Disabilitas. Boleh juga disebutkan jika ada Perpub atau Perda yang melandasi. Pewarta juga bisa memberikan informasi tata cara mengakses bantuan kursi roda ke Pemerintah.

Contoh liputan lainnya, Kasihan, Gadis Difabel di Payangan Hanya Diasuh sang Nenek, liputan ini secara total menuliskan penderitaan sang difabel, mengungkap riwayat hidup serta alamat lengkap, yang akan lebih ironi jika publikasi data ini tanpa ijin yang bersangkutan. Liputan ini bahkan masih menggunakan istilah cacat yang bertentangan dengan UU RI Nomor 8 Tahun 2016 Tentang Penyandang Disabilitas. Tulisan juga ini tidak mengungkap bagaimana tanggapan Pemerintah setempat misalnya Kepala Desa atau Dinas Sosial. Padahal dengan diperolehnya tanggapan dari pemangku kebijakan, terdapat dua hal penting yang diperoleh, pertama membantu masyarakat menyampaikan persoalannya ke Pemerintah, kedua mengetahui tata cara masyarakat melaporkan dan mengakses bantuan.

Masih banyak contoh lainnya, anda bisa mencoba cari di google dengan kalimat kunci yang berkaitan dengan difabel dan/ atau penyandang disabilitas.

Jurnalisme Warga

Bukan hal sederhana mengubah paradigma, maka hal yang saya lakukan adalah membuat sistem tandingan bagi  sistem yang telah ada sebelumnya. Terkait dengan pemberitaan saya melakukan kegiataan Jurnalisme Warga sejak tahun 2010. Jurnalisme Warga adalah kegiatan jurnalistik yang dilakukan oleh orang bukan wartawan. Ketika itu saya memulai liputan untuk membantu masalah kesehatan masyarakat terdampak konflik perbatasan kabupaten Ogan Ilir dan Muaraenim.

Hingga saat ini saya juga masih aktif menulis, menyajikan sisi peliputan yang berbeda untuk membangun paradigma masyarakat. Selain di lingkarsosial.org saya juga menulis untuk solider.id dan Kompasiana. Tulisan sesekali juga saya share ke rekan-rekan wartawan dalam bentuk pers rilis kegiatan organisasi. Termasuk membantu menfasilitasi rekan-rekan Mitra Jiwa RSJ Dr. Radjiman Wediodiningrat Lawang menulis soal Bunga Rampai Pembebasan Pasung di Jawa Timur untuk menulis dan mempublish tulisan di website LINKSOS.

Masih terkait contoh berita, tulisan Jalan Ijen di Malang Belum Ramah Difabel saya buat untuk merespon beberapa pemberitaan diantaranya Pemkot Malang Bangun Pendestrian Ramah Difabel. Saat itu saya dan beberapa kawan melakukan audit aksesibilitas ke Jalan Ijen Kota Malang untuk memastikan apakah jalan tersebut telah ramah difabel, yang hasilnya ternyata tidak sesuai dengan publikasi di media massa.

Sekedar saran, hal yang bisa dilakukan oleh pewarta dalam kasus jalan Ijen adalah mewawancara pegiat organisasi difabel bagaimana standar aksesibilitas bangunan berdasarkan peraturan perundangan.

Contoh berikutnya yang masih terkait difabel sebagai obyek, adalah liputan Tak Ingin Dicatut dalam Kampanye Pilkada, Ini Pernyataan Sikap Forum Inklusi Malang atau  Forum Malang Inklusi Tegaskan Netralitas di Pilkada Kota Malang 2018, muncul berdasarkan pers rilis yang saya kirim ke sejumlah media atas nama Forum Malang Inklusi (FOMI), sebagai bentuk klarifikasi netralitas dalam pilkada juga merespon beberapa pemberitaan diantaranya Kaum Difabel Malang Raya Dukung Pasangan Menawan.

Bagaimana bentuk perlawanan?

Judul tulisan ini adalah Difabel Melawan Jurnalisme Karitatif, kata melawan adalah diksi yang saya pilih untuk mengobarkan semangat perlawanan terhadap ketidakpahaman dengan pengetahuan. Tulisan ini sesungguhnya lebih pada penyadaran publik bahwa sudah saatnya mengakiri penempatan difabel sebagai obyek belas kasih.

Artikel ini juga mengajak kawan-kawan jurnalis sadar bahwa kelompok bersenjata pena dan pengetahuan ini merupakan mitra strategis bagi kami kelompok difabel dalam membangun paradigma baru tentang disabilitas berbasis kesetaraan Hak Asasi Manusia.

Sekedar berbagi, ada beberapa hal yang sangat saya perhatikan dalam menulis bahwa sebuah peliputan penting memuat prinsip advokatif, solusif, informatif dan berbasis data. Untuk lebih mudahnya prinsip ini saya namakan ASIDA.

Advokatif artinya memuat upaya-upaya perubahan baik. Dampak positif publikasi sebuah tulisan penting untuk direncanakan sejak awal. Selanjutya adalah solusif, memuat petunjuk atau skema bantuan atas persoalan/ isu yang diangkat. Dalam beberapa tulisan tentang difabel, selama ini hanya mampu merespon: wah.. kasian banget.. Tanpa tindak lanjut. Poin berikutnya adalah informatif atau memberikan penerangan yang bersifat edukatif, stimulatif (memberikan dorongan) serta persuasif. Terakhir adalah berbasis data, artinya memuat data-data yang valid dan terklarifikasi.

*) Penulis dengan nama asli Kertaning Tyas, adalah Pendiri Lingkar Sosial Indonesia. Kegiatan terbaru menginisiasi desa-desa inklusi dan Posyandu Disabilitas di Malang

Facebook Comments
WhatsApp chat