Difabel Setara melalui Keilmuan

Potret kesetaraan, Tim LINKSOS foto bersama usai kegiatan di Kantor Bawaslu Malang, Senin 19/4 2021. searah jarum jam: Yuda (OYPMK- Tim pemasaran Omah Difabel), Priyo Utomo ( difabel fisik- Stafsus Inklusi dan Disabilitas), Widi Sugiarti (non difabel- Sekjen LINKSOS), Sumiati (Tuli- Anggota Badan Pembina LINKSOS), Ezra Juniawan (disabilitas mental- Koodinator Sekolah Alam Gunung Wedon), Kholilulrahman (disabilitas netra- Koordinator Timsus Pendaki).

 

Pergerakan organisasi difabel penggerak inklusi Lingkar Sosial Indonesia (LINKSOS) terus melesat seiring kebutuhan lingkungan yang tak hanya persoalan disabilitas. Dari advokasi kebijakan, membuat keset, mitigasi bencana, hingga mendaki dan mengelola gunung sebagai pariwisata, semua ada di LINKSOS. Tantangannya para difabel yang tergabung dalam komunitas tersebut harus belajar cepat, adaptif dan berfikir maju untuk perkembangan diri dan organisasi. Tulisan ini wajib dibaca hingga selesai.

 

Belajar cepat. Berawal dari saya sendiri sebagai pendiri LINKSOS yang bukan berasal dari pendidikan tinggi, maka belajar dan belajar adalah kebutuhan pokok. Orang-orang yang ada di LINKSOS pun tanpa pandang bulu apakah difabel atau non difabel juga wajib belajar. Tak lupa mengembangkan prinsip ngelmu iku srana laku (ꦔꦺꦭ꧀ꦩꦸ​ꦲꦶꦏꦸ​ꦱꦿꦤ​ꦭꦏꦸ) atau ilmu itu harus disertai praktik, tidak bisa hanya diomongkan saja.

 

Adaptif. Contoh pertama soal adaptif, saya pernah menggendong mbak Anita, anggota difabel pengguna kursi roda ke lantai dua untuk sebuah acara pelatihan ekonomi, entah apa sebab pastinya panitia saat itu memborong buku-buku novel dan puisi karya perempuan itu. Progress berikutnya ia rajin mengikuti pameran-pameran di Kota Malang, yang saat itu difasilitasi MalangGleerrr hingga akhirnya rumah mbak Anita disambangi Walikota Malang.

 

Contoh kedua, LINKSOS juga sukses mengkader para difabel dari semua ragam disabilitas dan para kader pendamping menjadi para pendaki gunung. Kalau sudah niat mendaki gunung ya nggak usah tanya lokasi ramah difabel nggak, jawabnya ya jelas tidak, maka harus adapatif, cerdas dalam bersikap serta kompak dengan pendampingnya yang rerata non difabel.

 

Jadi adaptif adalah bersifat mudah beradaptasi dalam situasi apapun. Di LINKSOS tentang aksesibilitas difabel sangat diperjuangkan sebagai hak warga negara, namun di sisi lainnya kemampuan beradaptasi sangat diuatamakan. Kami sadar bahwa identitas dan kebutuhan di alam semesta ini sangat beragam, ada difabel-non difabel, laki-laki- perempuan, besar-kecil, tua-muda, hingga nampak dan tidak nampak.

 

Berpikir maju. Anak-anak muda LINKSOS dituntut untuk berpikir maju. Salah satu indikator berpikir maju adalah mampu berpikir lebih universal, sebagai difabel tak mesti harus melulu berpikir soal disabilitas. Jika anda berkunjung ke Omah Difabel (nama sekretariat LINKSOS) akan nampak susunan pengurus yang terstruktur dengan baik, juga timeline kegiatan yang dibuat oleh mereka sendiri, para difabel dan kader pendamping.

 

Nothing about us without us

Kalimat nothing about us without us atau tidak ada tentang kami tanpa kami, digaungkan untuk mewujudkan pelibatan masyarakat sasaran sebagai subyek, termasuk difabel dalam gerakan disabilitas. Tentang hal ini saya banyak belajar dari tokoh-tokoh nasional penggerak inklusi seperti mas Joni, mas Wawa, pak Maman, mas Angga, om Ishak dan lainnya.

 

Nah, apa yang dimaksud dengan pelibatan? Saya akan sajikan contoh sederhana.

Contoh pertama:

“Yang paling paham tentang kebutuhan disabilitas ya disabilitas itu sendiri,” komentar seseorang ketika saya (yang dianggap non difabel) memberikan materi kesadaran disabilitas kepada sebuah instansi. Jika bicara soal disabilitas maka yang menjadi narasumber harus difabel. Sama juga jika bicara hak perempuan maka yang bisa bicara juga harus perempuan.

 

Saya tak menjawab, diam saja. Sebab pemikian beliau masih dalam konteks idealnya, belum pada tataran praktik sehingga kolot tak terbantahkan. Saya jadi ingat tahun 2019 lalu ketika menginisiasi Posyandu Disabilitas yang melayani difabel dari berbagai ragam disabilitas. Hingga saat ini untuk pengelolaan posyandu saya dibantu oleh kader-kader yang rerata non disabilitas, kemudian bertahap ada beberapa difabel yang bergabung. Keterlibatan aktif non difabel dalam hal ini adalah soal ketersediaan SDM.

 

Contoh kedua:

“Pak Ken, pilihan kita untuk menginap hanya ngecamp di pos dua atau ngecamp di puncak,” kata Erik, difabel netra anggota pendaki gunung bagian survei jalur pendakian dan sumber mata air. Lanjutnya, kalau ngecamp di puncak waktu kita sudah tidak memungkinkan, dan jika ngecamp di pos tiga dan empat tidak memungkinkan lokasinya, berbahaya, jadi kita ngecamp di pos dua ini saja.

Jawab saya singkat: Siap!

 

Prinsip pengembangan diri di LINKSOS adalah setiap orang bisa menjadi pemimpin di bidangnya. Maka pelibatan disini harus didasari penguasaan dibidangnya. Contoh umum untuk soal ajar mengajar atau memberikan materi adalah bidangnya guru atau pengajar. Di medsos saya melihat orang-orang pintar yang stress sebab anaknya sekolah daring. Stress karena mereka tidak menguasai manajemen pengajaran, dan memang tidak mudah menggantikan peran guru sekolah.

 

Tentang kesetaraan, kami berangkat dari hal yang paling sulit dilakukan, yaitu mendaki gunung. Jika pelibatan difabel hanya didasarkan atas kedisabilitasan tanpa dasar keilmuan dan penguasaan praktik maka seluruh anggota tim akan celaka.

 

Praktiknya dalam kepengurusan misalnya, Ezra (disabilitas mental akibat epilepsi) sebagai koordinator Sekolah Alam Gunung Wedon yang mendidik dan melatih para difabel mendaki gunung. Lalu Kholil (disabilitas netra) adalah koordinator Timsus Pendaki, yang dalam tugasnya dibantu Erik (juga disabilitas netra) yang bertugas melakukan survei online tentang jalur pendakian, letak sumber mata air dan lainnya. Semua adalah orang-orang yang terdidik dan terlatih.

 

Orang yang pernah mengalami kusta (OYPMK) juga terlinat aktif, namanya pak Yudha. Di LINKSOS perannya selain sebagai tim pemasaran produk, juga Ketua Timsus Pendaki Angkatan ke-2. Ia juga tergabung dalam Tim Relawan Kemanusiaan (TRK) Inklusi yang saat ini menangani difabel terdampak gempa di Malang Selatan.

 

Orang-orang tanpa disabilitas juga memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi pemimpin. Sebut saja Widi, Ekowati, dan Yayuk, trio emak-emak yang selama ini terjun bebas hampir di semua bidang kegiatan LINKSOS. Khususnya Ekowati ia bertanggungjawab mengkader setidaknya satu orang kader per RW, baik dari kalangan difabel atau non difabel, terserah saja yang penting ikhlas. Ada juga Shinta, cewek non difabel yang kini memimpin bidang Pendidikan Pemilu dan Demokrasi (Dikpildem).

 

Harapan

Harapan saya sederhana, khususnya kepada kawan-kawan LINKSOS: ayo rek sinau (belajar) dan praktik langsung dalam kegiatan yang ada. Berkahnya, manfaatnya, akan anda nikmati, disadari atau tidak disadari. Terlebih jika mampu sepi ing pamrih rame ing gawe (ꦱꦼꦥꦶ​ꦲꦶꦁ​​ꦥꦩꦿꦶꦃ​ꦫꦩꦺ​ꦲꦶꦁ​​ꦒꦮꦺ) atau  giat bekerja dan ikhlas, yang penting bekerja manfaat soal hasil terserah Tuhan, maka hidup akan dan sejahtera.

 

Harapan lainnya secara umum soal kesetaraan soal difabel dan non difabel, bahwa jalan terbaik adalah meningkatkan keilmuan dan praktik kerja nyata di masyarakat, selain itu juga dibutuhkan keluwesan dalam berjejaring.  Tanpa itu protes dan kritikan hanya akan menjadi penghambat kemajuan. (Ken)

Facebook Comments