difabel bertani

3 Misi Unik Difabel Bertani

2
4 minutes, 47 seconds Read
Listen to this article
LINKSOS mengembangkan kegiatan Difabel Bertani untuk tiga misi unik yaitu melatih kemandirian, mendukung rehabilitasi dan meningkatkan ketahanan pangan. 
Ken Kerta
Ken Kerta
Penulis adalah Pembina Lingkar Sosial Indonesia

Sejak tahun 2022, Lingkar Sosial Indonesia (LINKSOS) mengembangkan kegiatan Difabel Bertani untuk tiga misi unik yaitu melatih kemandirian, mendukung rehabilitasi yaitu memulihkan fungsi fisik, mental dan intelektual, serta meningkatkan ketahanan pangan. Kegiatan ini tetap berlangsung hingga saat ini, meski belum optimal sebab beberapa tantangan yang belum terjawab.

Melatih Kemandirian

Kegiatan pertanian adalah aktivitas di alam terbuka. Ada beberapa risiko bagi penyandang disabilitas dalam kegiatan di alam terbuka, misalnya terik matahari, tiba-tiba hujan, haus dan lainnya. Risiko ini kemudian justru meningkatkan kemampuan penyandang disabilitas dalam menyelesaikan persoalan atau problem solving. Untuk menghadapi risiko penyandang disabilitas dan pendampingnya menyiapkan mitigasi. 

Mendukung rehabilitasi

Dalam kegiatan pertanian, terdapat fungsi rehabilitasi bagi penyandang disabilitas. Misalnya bagi penyandang disabilitas fisik dengan satu tangan mengelola lahan agar bisa ditanami.  Fungsi rehabilitasi lainnya, bagi penyandang disabilitas mental, kegiatan Difabel Bertani adalah kesempatan untuk menikmati suasana alam yang menyehatkan.

Kegiatan pertanian juga meningkatkan fungsi intelektual. Khususnya bagi penyandang disabilitas intelektual adalah kesempatan melakukan satu hal secara monoton dan berulang sehingga menjadi terlatih dan mandiri. 

Bahkan kegiatan pertanian juga bisa dilakukan oleh penyandang disabilitas sensorik netra. Di jaman ini penyandang disabilitas netra sebagian terlatih menggunakan aplikasi talkback. Dengan aplikasi tersebut mereka bisa melakukan komunikasi dan transaksi.

Meningkatkan ketahanan pangan

Bertani menjadi sarana pelatihan, rekreasi sekaligus meningkatkan ketahanan pangan. Penyandang disabilitas dapat bertanam sayuran untuk kebutuhan sehari-hari. Kegiatan pertanian tersebut dapat dilakukan di kebun, sawah maupun pekarangan rumah sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan ragam disabilitas. 

difabel bertani

Kerjasama dan Tantangan

Lapangan Tembak Kodam V Brawijaya memiliki program ketahanan pangan bagi masyarakat. Kodam V Brawijaya menyediakan lahan untuk ditanami jagung atau padi yang hasilnya untuk petani penggarap seluruhnya. 

Sejak tahun 2022, pegiat Lingkar Sosial Indonesia (LINKSOS) memanfaatkan program ketahanan pangan ini. Melalui program Difabel Bertani, beberapa penyandang disabilitas diajak bercocok tanam. Mereka menanam jagung dan kacang tanah. 

Tantangan program Difabel Bertani adalah minat penyandang disabilitas di bidang pertanian. Penyandang disabilitas sebagian besar melihat kegiatan pertanian sebagai usaha pertanian yang memerlukan banyak tenaga dan beresiko. Sedangkan kenyataannya, teknologi pertanian hari ini semakin memudahkan kegiatan bertani. 

Kegiatan Difabel Bertani di Lapangan Tembak Kodam V Brawijaya saat ini rutin dilakukan oleh seorang penyandang disabilitas intelektual. Ia didampingi oleh keluarganya yang pula keluarga petani. Namun sesekali  LINKSOS juga mengajak anak-anak penyandang disabilitas dari panti rehabilitasi untuk bergabung. 

Motivasi penyandang disabilitas bergabung dalam kegiatan pertanian beragam. Pertama sebagai mata pencarian, kedua sebagai sarana piknik, ketiga sebagai bentuk rehabilitasi.

difabel bertani

Memerlukan kebijakan afirmatif

Kementerian Pertanian melalui Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian, menggelar Pelatihan Kesadaran Inklusi Disabilitas bagi para petugas penyuluh Pertanian, 22-24 September 2022 di Bogor. Pelatihan menghadirkan pemateri, Pembina Lingkar Sosial Indonesia (Linksos), Ken Kerta. 

Kegiatan edukasi ini sekaligus awal kerjasama Linksos dan Kementerian Pertanian dalam program Yess yang bertujuan menumbuh kembangkan wirausaha muda dan tenaga kerja handal di bidang pertanian. Dengan adanya pelatihan ini, diharapkan petugas penyuluh pertanian di 4 Provinsi dan 15 Kabupaten, dapat optimal dalam implementasi program Yess bagi penyandang Disabilitas.

Rencana tindak lanjut pelatihan di atas, khususnya di Malang, LINKSOS ingin mengakses program Yess bagi anggotanya. Namun rencana tersebut belum terealisasi dengan berbagai faktor. Sementara itu kegiatan Difabel Bertani masih berlanjut hingga saat ini. 

LINKSOS menyarankan adanya langkah afirmatif implementasi program Yess bagi penyandang disabilitas, sebagai berikut: 

ProgramTantanganAfirmasi
Program terbuka bagi seluruh petani sesuai ketentuanMinat penyandang disabilitas terhadap pertanian masih minim, penyebabnya anggapan bahwa bertani adalah aktivitas lapangan yang berat dan beresikoKementan mengadakan pelatihan motivasi usaha pertanian sehingga penyandang disabilitas mendapatkan informasi dan peluang tentang berbagai model bisnis pertanian. 
Penerima manfaat adalah usia milenialBeberapa realitas penyandang disabilitas bahwa usia biologis tak selaras dengan usia mental. Misal orang dengan usia 25 tahun berperilaku selayaknya anak 10 tahun. Penerima manfaat program tak terbatas usia penyandang disabilitas, selama masih mampu bekerja dan produktif dengan pendampingan
Program masih menyasar petani dengan disabilitas fisikPetugas lapangan kesulitan berinteraksi dengan petani dengan disabilitas mental, intelektual, netra, wicara, padahal petani disabilitas dengan berbagai ragam tersebut berpotensi produktifPenerima manfaat program seluruh ragam disabilitas dengan pendampingan
Skema hibah untuk personal petaniPenyandang disabilitas berkelompok/ berorganisasi untuk mengatasi hambatan fisik, intelektual, mental, dan sensorikSkema hibah untuk kelompok tani disabilitas dengan pendampingan. 

Pelatihan Kesadaran Inklusif Pertanian

Similar Posts

Skip to content