Balas Budi

Budayawan Malang , Sam Wes menulis di medsos soal balas budi dalam krisis wabah Covid-19. Menurutnya, momen pademi saat ini adalah waktu yang tepat untuk saling membalas budi atas segala kebaikan yang pernah diterima. Khususnya dalam kontek ini bagaimana sebaiknya sumbangsih masyarakat kepada Pemerintah Daerah.

Saatnya pihak-pihak, baik secara perseorangan, organisasi, komunitas, badan usaha, perusahaan dan lain-lainnya, yang pernah mengenyam manfaat program-program pemberdayaan masyarakat maupun proyek-proyek bagi para pengusaha untuk berkontribusi balik.  Cara yang sederhana yang bisa dilakukan  misalnya membantu sesama masyarakat meringankan beban ekonomi dengan berbagi sembako.  Sementara bagi pemda sendiri juga saat yang tepat untuk niteni (menandai) patner manakah yang mau membantu di masa krisis ini sebagai rekomendasi mitra kerja yang layak di kemudian hari.

 

Malang, 15 April 2020

Seluruh umat manusia di dunia ini, pastilah pernah menerima kebaikan yang diberikan oleh orang lain. Entah kebaikan itu secara sengaja diberikan, maupun tidak secara sengaja diberikan. Entah diberikan secara langsung, maupun diberikan tidak secara langsung. Misal, ketika kita haus, kemudian ada orang yang berbaik hati memberikan seteguk air. Itu artinya kita sudah menerima kebaikan dari orang lain, yang diberikan secara langsung.

Atau ketika kita sedang berjalan di tengah terik matahari, kemudian kita berteduh di bawah sebuah pohon besar yang ditanam dipinggir jalan. Berarti secara tidak langsung, kita telah menerima kebaikan dari orang lain yang telah menanam pohon tersebut di pinggir jalan. Entah siapa yang menanamnya. Tentu, kita tetap patut mengucapkan terima kasih.

Kepada orang yang langsung memberikan kebaikan untuk diri kita, tentu kita bisa secara langsung mengucapkan terima kasih kepadanya. Lantas, kepada orang yang sudah menanam pohon di pinggir jalan, yang kita sendiri tidak tahu siapa yang telah menanamnya, bagaimana kita bisa berterima kasih? Ini sangat mudah. Jagalah perilaku kita agar tidak merusak tanaman dan lingkungan alam di sekitar kita. Itu sudah merupakan perilaku berterima kasih. Atau bisa kita sebut juga dengan: BALAS BUDI.

Pada saat kita hidup susah dan penuh cobaan, lantas kita menerima kebaikan dari orang lain, tentu kita pasti sangat bersyukur dan berterima kasih. Ketika kelak hidup kita sudah lebih mapan, tidak lagi susah dan menderita, lantas kita bisa membalas budi kepada orang yang dulu pernah membantu dan memberikan kebaikan kepada kita dahulu. Maka, kita bisa mengatakan bahwa balas budi adalah perwujudan rasa terima kasih yang paling kongkrit dan utama.

Dengan membalas budi atas kebaikan orang lain yang sudah kita terima, hal itu menjadikan diri kita sebagai manusia yang semakin tahu berterima kasih, pandai bersyukur dan bijaksana dalam menjalani kehidupan ke depannya. Sehingga, hidup kita ke depannya pun semakin lapang dan semakin banyak saudara.

Demikian juga kepada pemerintah. Misal, kepada pemerintah daerah. Selama ini, pemerintah daerah tentu sudah banyak berbuat kebaikan untuk membangun dan mengembangkan kualitas hidup warganya. Salah satu contohnya adalah melalui program-program pelatihan UMKM, Koperasi, Diklat Kerja, Pendampingan Usaha dan lain sebagainya. Pada sebagian para ahli atau profesional di bidangnya masing-masing, barangkali pemerintah daerah pernah memberikan proyek pembangunan, konsultan, pemateri, suplier serta berbagai pekerjaan pembangunan daerah. Dan semuanya itu, pastinya berdampak positif atas peningkatan kualitas hidup warganya. Baik secara langsung, maupun tidak langsung.

Bagi yang dulu belum punya usaha, kemudian bisa memiliki usaha sendiri dan berkembang, karena program-program kerja dari pemerintah daerah. Bagi yang dulu usahanya masih kecil, kemudian menjadi besar karena program-program kerja yang diberikan oleh pemerintah daerah. Baik secara langsung, maupun tidak langsung. Lantas, apakah tidak selayaknya kita berterima kasih? Apakah tidak ada niatan untuk balas budi? Bagaimana bentuk balas budi yang baik kepada pemerintah daerah?

Nah, saat ini kita sedang menghadapi krisis wabah Covid-19. Yang dampaknya sangat luar biasa. Merata memukul hampir semua bidang. Dampak sosial dan ekonominya sangat terasa. Semuanya merasakannya. Apalagi pada masyarakat yang berada di garis paling bawah kemiskinan. Inilah saat yang tepat untuk balas budi kepada pemerintah daerah.

Bagi siapa saja yang dulu pernah mendapatkan program pelatihan, bantuan, proyek, konsultan, pekerjaan, dan lain sebagainya dari pemerintah daerah, inilah saat yang tepat untuk membalas budi kepada pemerintah daerah.

Misal, bagi pengusaha yang pernah menerima pekerjaan atau proyek dari pemerintah daerah, kini saatnya membantu meringankan beban pemerintah daerah dengan cara berbagi sembako kepada rakyat miskin. Atau bisa bentuk-bentuk bantuan yang lainnya. Agar bisa membantu pemerintah daerah dalam bersama-sama menghadapi krisis wabah Covid-19 ini.

Tentu, sangat banyak pihak-pihak yang telah menerima kebaikan dari pemerintah daerah. Baik secara perseorangan, organisasi, komunitas, badan usaha, perusahaan dan lain-lainnya. Inilah saat yang tepat untuk membalas budi kepada pemerintah daerah. Bantulah pemerintah daerah untuk meringankan beban krisis sosial dan ekonomi, akibat dari pandemi wabah Covid-19 ini.

Saat ini pula, adalah saat yang tepat bagi pemerintah daerah untuk memilah dan memilih-milih partner kerja yang tepat. Partner kerja yang mau bersusah payah membantu pada saat-saat krisis seperti ini, jangan pernah dilupakan. Justru partner kerja yang diam dan tidak berbuat apa-apa pada saat krisis seperti ini, ingat-ingatlah mereka juga. Jangan pernah dilupakan. Catat dengan sebaik-baiknya. Jangan pernah lagi menjadikan mereka sebagai partner kerja ke depannya. Titenono!

Para Tetua terdahulu sudah sering memberikan pencerahan, “orang-orang yang tidak tahu terima kasih, tidak pernah mau membalas budi atas kebaikan orang lain yang sudah diterimanya, merekalah sumber bencana sesungguhnya.”

Atau dalam bahasa Sinau Embongan Cak Kacong Pahing pernah bersabda, “konco sing gak gelem membantu di saat susah, gak layak dijadikan konco pada saat bersenang-senang di meja makan dan room karaoke.”

 

Wahyu Eko Setiawan/ Sam WES

Wong biasa sing seneng sobo punden.

 

Facebook Comments
WhatsApp chat