Kebijakan Kemensos Peluang Bisnis bagi Difabel Pengrajin Batik Ciprat

TEMANGGUNG- Tahun ini jajaran pejabat Kementrian Sosial Republik Indonesia wajib menggunakan batik ciprat karya penyandang disabilias. Demikian disampaikan Kepala Balai Besar Rehabilitasi Penyandang Disabilitas Intelektual (BBRPDI) Langgeng Setiawan AKS (4/3) dalam pembukaan diseminasi dan pembekalan pemdamping Shelterd Workshop Peduli (SWP) di BBRPDI Kartini, Temanggung, Jawa Tengah. Lingkar Sosial Indonesia (Linksos) menilai kebijakan tersebut membuka  peluang bisnis bagi difabel pengrajin batik.

“Pemakaian batik ciprat  karya penyandang disabilias telah menjadi keputusan berdasarkan rapat pimpinan Kementrian Sosial dengan jajaran eselon satu dan dua, “ ucap Langgeng Setiawan kepada wartawan.

Proses produksi batik ciprat  nantinya didampingi oleh para pendamping shelterd yang telah memperoleh pelatihan di BBRPPDI, jelas langgeng dalam acara yang diikuti oleh lintas perwakilan dinas Sosial dan SWP dari beberapa kota/kabupaten, termasuk dari kabupaten Malang.

“Para kader pendamping inilah yang nantinya menbantu penyandang disabilitas intelektual berkarya dan mandiri dalam membuat batik ciprat,’ ungkapnya. Dengan adanya pelatihan pendamping tersebut nantinya para peserta akan mendapatkan pemahaman yang sama tentang disabilitas intelektual. Disinilah nanti peran pendampingan dari Shelterd Workshop Peduli.

Lebih lanjut Langgeng Setiawan memaparkan bahwa hasil kerja anak dengan disabilitas intelektual mampu stsndar bisnis agar layak jual. “Batik ciprat mesti berkualitas baik, berbahan kain yang tidak mudan kusut dan warna yang tidak mudah luntur.

Persiapan produksi batik ciprat di Lawang

Lingkar Sosial Indonesia (Linksos), sebagai salah satu peserta diseminasi dan pembekalan keterampilan teknis pendamping shelter workshop peduli ini, melihat kebijakan Kementrian Sosial sebagai peluang bisnis bagi penyandang disabilitas.

“Di Linksos ada Omah Difabel, yaitu wadah pembelajaran dan kerja difabel, yang setiap hari melalukan aktivitas produksi keset dan batik ciprat, “ terang Ketua Lingkar Sosial Indonesia, Kertaning Tyas. Khususnya batik ciprat, tim telah mengikuti pelatihan beberapa kali dan siap melakukan produksi. Sedangkan keset sudah jalan produksi dan pemasarannya.

Terlebih saat ini di kecamatan Lawang saat ini telah terbentuk Tim Pendamping Shelterd Workshop Peduli (SWP), yang beranggotakan para alumni diseminasi dan pendampingan teknis keterampilan SWP. “Kita tinggal replikasi yang telah ada serta dikembangkan secara lebih kreatif dan sesuai kebutuhan pasar. Jadi pada dasarnya Lingkar Sosial dan jaringan siap masuk ke dalam peluang bisnis tersebut, tandas Ken sapaan akrabnya.

Sebagai informasi, Dinas Sosial Kabupaten Malang, telah mengirimkan perwakilan pemerhati difabel ke BBRPDI untuk mengikuti diseminasi dan pembekalan SWP selama dua hari, 4-5 Maret 2020. Hadir dalam pelatihan tersebut, Flora Herlinda dari Dinas Sosial kabupaten Malang sebagai pendamping, serta perwakilan organisasi Lingkar Sosial indonesia,  BMH Jatim Gerai Malang, TKSK Lawang, Kecamatan Lawang, serta Paguyuban Orangtua ABK Pelita Hati. *