Hari Kusta Sedunia (HKS) atau disebut pula Hari Kusta Internasional, Leprosy Day dan lainnya, rutin diperingati oleh komunitas berbasis kusta sedunia pada setiap tahunnya. Tujuan peringatan HKS tersebut, utamanya bagi komunitas orang yang mengalami kusta (OYPMK) di Indonesia adalah untuk kampanye hapus stigma dan stop diskriminasi. Meski demikian stigma terhadap penyakit ini masih tinggi, yang berlanjut pada diskriminasi. OYPMK sampai saat ini masih rentan mengalami pengucilan dan pengasingan oleh keluarga maupun lingkungannya.

Sebab masih tebalnya stigma dan masih adanya diskriminasi adalah pengetahuan adalah minimnya pengetahuan. Dirunut lagi, minimnya pengetahuan terjadi sebab minimnya sosialisasi tentang penyakit ini. Perlu adanya program sosialisasi yang intens dari Kementrian Kesehatan supaya informasi kusta yang benar dipahami oleh masyarakat luas.

Informasi kusta yang tidak benar misalnya bersalaman dengan penderita kusta bisa tertular. Yang benar bersalaman dengan OYPMK tidak menyebabkan ketularan. Penularan bisa terjadi dari penderita kusta yang belum mendapatkan pengobatan lalu melakukan kontak fisik secara intens dalam jangka waktu lama dan terus menerus. Dan orang yang sudah mengkonsumsi obat kusta tak akan menyebabkan penularan.  Artinya kusta tidak mudah menular.

Sosialisasi kusta selama ini masih banyak dilakukan di wilayah endemik kusta, sementara wilayah yang non endemik minim bahkan tidak ada sosialisasi kusta. Ketidaktahuan dan prasangka orang-orang di luar endemik kusta atau yang tidak terjangkau sosialisasi strategis menjadi penyumbang stigma. Oleh karena itu sosialisasi sebaiknya merata dilakukan diseluruh Indonesia, bisa melalui pelajaran kesehatan di sekolah-sekolah atau kampus.

Persoalan kusta di Indonesia serius, mengingat dari sisi jumlah penderita adalah peringkat tiga dunia setelah India dan Brazil. Data Kementrian Kesehatan menyebutkan angka penemuan kasus baru Indonesia: 6,07 per 100.000 penduduk. Total kasus baru sebanyak 15.910. Secara nasional, Indonesia sudah mencapai eliminasi kusta (angka kasus kusta terdaftar atau angka prevalensi <1/10.000 penduduk) pada tahun 2000. Namun masih ada 10 Provinsi yang belum mencapai eliminasi kusta. Selanjutnya di tingkat Kabupaten/Kota, pada akhir tahun 2017 masih tedapat 142 Kabupaten/Kota belum mencapai eliminasi kusta yang tersebar di 22 Provinsi. Sepuluh provinsi yang belum eliminasi kusta tersebut adalah Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Barat, Gorontalo, Sulawesi Utara, Maluku, Papua, Maluku Utara, dan Papua Barat.

Tulisan ini bermaksud menyebarkan informasi yang benar tentang kusta, bahwa diantaranya kusta tidak mudah menular, dan bahwa kusta bisa disembuhkan tanpa mengalami disabilitas. Harapannya, agar tak ada lagi orang ketakutan tanpa dasar pengetahuan kusta. Diawali dengan sejarah singkat penetapan kusta, apa itu kusta, angka kusta, bagaimana penularan, pengobatan, pencegahan hingga deteksi dini kusta. Selamat membaca!

 

Sekilas tentang penetapan Hari Kusta Sedunia

Hari Kusta Sedunia ditetapkan pada tahun 1955. Ketika itu  Raoul Fallereau (RF) seorang wartawan berkebangsaan Perancis, mengorganisir 150 radio dari 60 negara yang mengkampanyekan penyakit Kusta. Peristiwa ini terjadi pada hari Minggu terakhir bulan Desember 1955. Karena itu di Eropa Hari Kusta Sedunia (World Leprosy Day) ditetapkan hari Minggu terakhir Desember. Sejarah mencatat, dalam hidupnya selama 30 tahun RF mengabdikan dirinya untuk memperjuangkan nasib penderita Kusta dan untuk menghilangkan stigma sosial di masyarakat.

Namun berbeda di negara- negara Asia, hari kusta diperingati pada Minggu terakhir bulan Januari, tersebut untuk menghormati jasa- jasa Mahatma Gandhi, seorang Perdana Menteri India yang menaruh perhatian besar pada penderita Kusta. Pada 30 Januari 1948 atau Minggu terakhir di bulan itu Gandhi mati terbunuh dalam sebuah insiden.

 

Mengenal Deteksi dini kusta, pencegahan dan pengobatannya

Apa itu Kusta? Kusta adalah penyakit kulit yang disebabkan bakteri, namanya Mycobacterium Leprae. Bakteri ini menyerang sel saraf tepi, sehingga menyebabkan mati rasa pada bagian yang terinfeksi. Pemicu penyakit ini bisa dari sanitasi yang buruk serta kurangnya kebersihan tempat tinggal dan lingkungan.

Apakah kusta menular? Ya, kusta bisa menular melalui penderita yang belum mendapatkan Multi Drug Terapi (MDT), yaitu kombinasi obat yang direkomendasi oleh WHO. Syarat penularan adalah kontak antara penderita yang belum terintervensi MDT dengan orang lain secara intens dalam jangka waktu lama. Duduk bersama atau bersalaman tidak menyebabkan penularan.

 

Dimana mendapatkan obat kusta? Berapa harganya?

Obat kusta namanya MDT, bisa diperoleh gratis di Puskesmas. Bagaimana jika tak ada obat di Puskesmas? Biasanya Puskesmas menyetok obat kusta berdasarkan kebutuhan, misal ketika terdapat pasien kusta dalam pusat layanan kesehatan tersebut. Beri waktu kepada Puskesmas untuk memperoleh obat tersebut, tetap tenang dan terus tanyakan setiap hari ke Puskesmas. Tidak ada aturan berapa lama menunggu adanya obat kusta tersebut, namun bisa juga berusaha menanyakan ke Petugas Kusta yang ada di Dinas Sosial Kabupaten/ Kota.

 

Apakah kusta bisa disembuhkan? Berapa lama ya?

Kusta bisa disembuhkan. Jika penanganannya cepat bisa sembuh tanpa mengalami kerusakan fisik (cacat). Sekali lagi, obatnya namanya MDT atau Multi Drug Terapi. Lama pengobatan kusta, untuk tipe basah selama 12 bulan, dan untuk tipe kering selama 6 bulan.

 

Mencegah lebih baik daripada mengobati. Bagaimana pencegahannya?

Caranya dengan deteksi dini kusta. Kenali gejalanya sejak dini. Cara termudah dan lazim digunakan adalah dengan mengenali apakah terdapat bercak putih mirip panu atau ruam kemerahan yang mati rasa? Indikator mati rasa adalah tanda tersebut ditusuk dengan jarum steril atau digosok dengan kapas, jika mati rasa maka ada indikator kusta. Langkah yang tepat adalah segera periksa ke Puskesmas terdekat.

Jika mengetahui ada anggota keluarga, teman atau tetangga yang terindikasi mengalami kusta, apa yang harus dilakukan? Ok, jangan dibiarkan ya.., sarankan dengan baik agar ia mau periksa ke Puskesmas.

Apa dampak jika orang yang mengalami kusta tidak diobati? Akibat pertama adalah makin parahnya penyakit yang kemudian berdampak pada kerusakan fisik (kecacatan), juga komplikasi penyakit sebab makin menurunnya daya tahan tubuh. Akibat selanjutnya adalah menyebabkan penularan. Artinya membiarkan orang yang mengalami kusta tanpa pemgobatan berarti menciptakan mata rantai penularan.

Yuk, peduli Kusta!

Kategori: KUSTA